Ilmu Membuat Telur

image

Hari ini dapet ilmu baru 🙂 ceritanya saya sedang membuat agar agar, bahan sisa dari acara kemarin. Saya menyediakan mangkuk-mangkuk kecil untuk agar agar yang saya buat. Saat membuka lemari perabotan di dapur saya menemukan cetakan telur seukuran telur puyuh di dalam lemari. Saya kemudian terpikir untuk menggunakannya juga. Keponakan saya pasti akan suka melihat agar agar kesukaannya berbentuk telur bulat2 lucu.

Namun kemudian saya termenung lama. Alat cetakan sederhana ini, bagaimana cara menggunakannya? Saya mulai lihat ke lubang kecil2 disalah satu sisi, berpikir apa itu lubang tempat saya harus mengisikan adonan agar-agar nanti. Tapi, pakai apaaaa? Lubangnya sekecil tusuk gigi.

Saya pun mengurungkan niat untuk menggunakannya. Daripada pusing sementara saya masih mengaduk agar2 di atas wajan.

Ah namun saya penasaran, masa iya cara menggunakannya sulit? Saya pun bergegas menelpon teteh saya yang sedang jalan pagi bersama keponakan dan mamah saya dan bertanya bagaimana mencetak telur2 dari benda ini?

Dan inilah dia caranya :

Letakan di alas datar sisi cetakan bagian yang tidak berbolong, kemudian tuangkan adonan agar2 hingga cetakan penuh hingga ke sisi atasnya. Lalu telungkupkan sisi bagian lain dan katupkan sambil di pres. Maka adonan bagian atas tadi akan mendesak ke bagian tutup yang berlubang sehingga penuhlah itu cetakan telur.

Ah ya ya, ternyata hal sederhana belum tentu mampu kita lakukan jika tak tahu caranya.dan bertanya adalah salah satu langkah yang tepat.

Minggu pagi ini, saya senang bisa membuat agar2 bermodel telur2 puyuh #sederhana *_*

Advertisements

100 hari

100 hari penuh untaian doa. Saya dan keluarga mendoakannya selalu, alm bapak saya. Menengadahkan tangan, membungkukan badan dan bersimpuh menghadap-Nya, Allah SWT. Beratus dan beribu doa ingin saya ucap baginya, terkadang Allah harus menunggu saya duduk diam tanpa kata2. Berharap Dia membantu mengurai segala harapan baik yang ingin saya pinta bagi alm. Bapak.

Malam ini kami berkumpul bersama, memanjatkan doa2 baik bagi almarhum bapak kami. Berharap Allah mengabulkan setiap doa dan menyampaikannya menjadi kebaikan bagi Bapak yang kami sayang.

Saya sedang tidak pintar berkata-kata. Hari ini sedikit lelah namun senang dengan semua urusan persiapan pengajian malam ini. Belanja, memasak, membersihkan rumah, menanti saudara berdatangan, berkumpul dan makan siang juga makan malam bersama. Berkumpul tanpa kesedihan, hanya berbicara yang baik tentang kenangan.

Saya berharap alm bapak saya tenang di tempatnya sekarang. Ketiadaannya selalu menjadi cambuk saya untuk membuktikan saya bisa hidup dengan baik.

100 hari sudah ya pak, tenangkanlah kami di dunia dengan tenang berada disana. Semoga Allah selalu merahmatimu dengan kebaikan dan menjauhkan dari hal-hal buruk. Menanti hari akhir dan dikumpulkannya kita semua di satu padang luas. Semoga bapak dan saya juga keluarga kita diberi kemudahan dalam perkara-perkara di alam sana. Menjadi keluarga yang beruntung menerima rahmat2 Allah dan mendapatkan tempat terbaik dan indah untuk kembali saling berjumpa.

Jangan khawatir pak jika sesekali saat saya mengingatmu nampak butiran air mata. Itu adalah cara saya menjelaskan rindu dan menjadikan hati juga pikiran saya sehat setelahnya.

Ya Allah, bermurah hatilah kepada alm bapak saya. Amin..amin..amin ya Robbal alamin

Ah, sesak

image

Cap Go Meh

Saya gak sengaja baca salah satu majalah terbitan lokal Kota Bogor Sore ini. Seumur-umur hidup di Bogor saya belum pernah sekalipun menyaksikan perhelatan Cap Go Meh kota Bogor yang biasanya digelar di sekitaran pecinan jalan Surya Kencana. Bukan tidak tertarik, saya seringkali tidak nyaman dengan keramaian dan massa yang berkerumun.

Tahun ini mamah saya pergi bersama beberapa tetangga membawa keponakan saya untuk melihat, sementara saya berhalangan karena ada pekerjaan. Ingin hati melarang, namun apa daya kasian juga penasaran.

Sore ini saya melihat fotonya di majalan ini. OMG penuh dan padat sekali. Saya bisa faham mengapa sore ini pada akhirnya mamah saya memutuskan pulang terlebih dahulu meninggalkan teman-temannya. Sementara saya cemas memikirkan mamah saya pergi tanpa dikawal.

Salut melihat animo masyarakat begitu besarnya. Jalan suryakencana yang sempit itu dipadati oleh masyarakat baik yang ikut merayakan maupun yang hanya menonton. Bersyukur saya gak ikutan ya. Kebayang kalo bulan lalu itu saya terjebak dalam kerumunan tak bisa mundur maupun maju, mungkin hanya Tuhan yang akan mendengar jerit tangis saya dalam hati 🙂

Belajar Mencintai Air Putih

Hujan di pagi hari, masih rintik sih namun saya sudah selesai meneguk habis segelas air putih hangat saya pagi ini. Dan ini adalah hal baru bagi saya, si penyuka teh panas tanpa gula.

Sudah sejak lama saya sebenarnya tau bahwa bagus jika kita meminum air putih dalam jumlah yang cukup setiap harinya. Entah untuk apa aja, namun rasanya banyak percakapan, artikel ataupun tips2 kesehatan berujung kepada nasihat untuk memperbanyak minum air putih. (Dalam jumlah maksimal yang dibutuhkan tubuh tentunya).

Saya tidak khawatir dengan pola minum saya sebenarnya. Walau saya dominan meminum teh yang konon suka ditakut-takutin teh ada zat-zat yang mungkin mengendap di tubuh jika kita melihat warna gelas yang kekuningan jika lama diisi teh,namun saya merasa aman karena tubuh saya agak jauh dari soda, kopi,maupun minuman-minuman manis. Jarang2 saya nikmati, kecuali kopi yang sama sekali tidak.

Namun belakangan saya mulai membiasakan minum air putih. Menyeimbangkan kebiasaan saya minum teh. Terserahlah efeknya apa. Baik itu melancarkan pencernaan, mengurangi kemungkinan batu ginjal, membantu ekskresi racun tubuh, kebugaran, kesehatan kulit dan daya tahan tubuh juga lain-lain. Yang jelas saya mulai membiasakannya.
Mungkin ini ada efek dari sejarah bapak divonis gagal ginjal diakhir hidupnya. Entah apa penyebabnya dulu, namun saya ingat pada saat sakitnya minum beliau saya batasi satu botol aqua sedang untuk 24 jam. Padahal ketika sehat dan jantung juga ginjal belum bermasalah, tubuh justru membutuhkan air putih lebih banyak.

Di Minggu yang sama dengan bapak saya meninggal, saya mengantar paman saya ke dokter yang sama dengan dokter alm.bapak. beliau sakit pinggang, dan menurut dokternya paman saya kurang minum air putih.

Ah saya jadi ingin membiasakan minum air putih, setidaknya saya selang seling dengan teh kesukaan saya. Mumpung saya masih sehat, menghindari penyakit-penyakit yang mungkin timbul. Namun untuk mengurangi rasa air putih yang menurut saya hambar, saya tetap meminumnya dalam kondisi panas.

Semoga usaha minum air putih ini membuahkan hasil positif dan kesehatan saya lebih terjaga. Amin

Balita – Si Mesin Pengingat

saya punya keponakan baru semata wayang. Rafa, anak laki-laki sekarang usianya 1,5 tahun. Sudah hal lumrah ketika anak-anak mulai belajar, bicara dan meniru kata-kata juga gerak orang sekitarnya.

Namun kejadian sore tadi membuat saya takjub dan tercengang lalu merenung. Tak mengira anak sekecil itu merekam sesuatu begitu baiknya.

Peristiwa tadi terjadi dalam sebuah angkutan umum. Ibu dan ponakan saya ikut saya menuju ke sebuah restoran untuk makan. Kala melewati satu kawasan ramai, tiba-tiba didalam angkutan yang berisikan 9 orang itu ponakan saya tiba-tiba menirukan tembakan. Ke arah penumpang lain. “Dor! Dor! Dor dor dor!!”

Saya kaget lalu bilang : “eh rafa, kenapa nembak2an?” Sambil tersenyum sama ibu2 di depan saya yang juga kaget. Saya dan mamah bingung sekejap mengira itu hanya celoteh biasa. Tak lama saya ingat kenapa dia tiba2 menirukan suara tembakan.

Hari Kamis 3 hari lalu, Rafa ini diajak oleh kakak saya ke sekitar jambu dua ini. Saat membeli gorengan dikejauhan ada anak2 sekolah tawuran. Tak lama terdengar suara tembakan peringatan yang mungkin ditembakan polisi di lokasi. Anak-anak sekolah berhamburan. Kata teteh saya suara tembakannya keras sekali.

Dan celotehan Rafa tadi menunjukan bahwa dia merekam kejadian sore itu dengan baik. Di lokasi yang persis dimana dia dan mamahnya sore itu dia menirukan suara tembakan padahal kami di dalam angkutan umum.

Saya tersenyum karena gaya dia yang dari diam tiba2 menirukan suara tembakan, saya takjub mengetahui bagaimana balita yang beberapa waktu lalu ini masih bayi bisa merekam kejadian beberapa hari lalu dan mengingat lokasinya dengan tepat. Namun saya juga termenung, karena adegan yang dia ingat bukan sesuatu yang menyenangkan.

Kalau boleh berharap sih dia mengingat hal2 yang asik dan edukatif aja. Ingat betapa dia disayang, dimanja juga diajarkan hal2 sederhana. Lah ini merekam suara tembakan yang betulan terjadi.

Allah Maha Besar menciptakan anak-anak manusia dan mengatur perkembangannya. Ini sungguh jadi PR bahwa kita orang dewasa harus bisa menciptakan lingkungan tumbuh yang normal dan alami karena mereka, balita-balita itu merekam semuanya tak ubahnya sebuah mesin pengingat.

Tiga Bulan Tanpamu, Bapakku

Hari ini tanggal 14 di bulan Maret. Tepat 3 bulan bapak gak ada. Lupakah saya padanya? Tidak. Tidak sehari pun terlupa. Saya hanya tau setiap hari saya belajar tanpa kehadirannya.

Teman lain mungkin ada yang merasakannya lebih dulu. Namun inilah pelajaran kehilangan saya yang pertama. Kehilangan satu orang tua, seakan sebelah pasang sayap saya lenyap. Seperti salah satu kaki meja patah. Tak seimbang.

Hidup tidak akan pernah sama. Tidak akan. Ada satu kekosongan yang tak akan pernah kembali terisi. Pengisinya pergi dan tak akan kembali.

Hidup adalah belajar bukan? Dari waktu ke waktu kita titi. Kehilangan, kesedihan dan ketiadaan adalah bagian dari hidup itu sendiri.

Rindu padamu Pak, 3 bulan adalah waktu terlama bapak tidak menampakkan diri. Air mata terkadang masih membulir diujung kelopak mata, nafas terkadang mendadak tercekat di tenggorokan kala mengingatmu.

Doa bagimu tiada henti, mengenangmu adalah caraku memastikan kepala ini masih ingat akan hadirmu. Semoga Allah melimpahkan segenap rahmat kepadamu, memudahkan segala perkara, melapangkan tempatmu menanti hari akhir dalam ketenangan.

Saya anak yang biasa saja, tapi cinta kasih saya luar biasa padamu. Bapak selamanya akan ada di hati.

Semangat!!

HP serasa Belahan Jiwa :p

Yak! Judulnya aja tampak gak pas gimana gitu ya di telinga. Biarkan saya melebay di judul namun disini saya akan menulis dengan sedikit renungan bagi diri saya sendiri.

Dalam seminggu ini saya terpisah dari HP android saya gara2 HP itu mengalami sedikit kerusakan. Senin lalu saya inapkan HP saya di service center dan dijanjikan beberapa hari akan selesai.

Duuueeeeng! Mulainya rasa-rasa hampa tanpa HP yang kemana saja saya genggam itu. Bagaimana tidak, HP yang memang saya khususkan untuk kegiatan online itu nyaris saya genggam kemanapun. Saat dalam antrian, HP ini jadi alat saya membaca berita, mendapat kabar kabari terbaru, bercengkrama dan bergurau dengan kawan2. Tidak hanya dalam antrian, di angkutan umum, saat menunggu orang lain bahkan di kamar mandi dan tempat tidur sekalipun HP ini menemani.

Dengan HP ini, tidak perlu memegang koran secara fisik untuk bisa membaca surat kabar, tidak perlu berkumpul bertatap muka langsung untuk tergelak bersama kawan2. Bahkan dengan HP ini saya bisa menulis dalam blog saya.

Berpisah dengan HP saya jadi menyadarkan saya betapa besar ketergantungan saya terhadap gadget tersebut. Kebutuhan saya berselancar di dunia maya juga ketara sebegitu kentalnya. Ini tidak benar-benar aneh sebenarnya, internet sudah menjadi bagian hidup sebagian orang. Saya pun begitu, dunia maya sudah menjadi salah satu tempat bermain saya bertahun-tahun lalu.

Lumayan loh bikin merenung. Kegelisahan saya tak mendapatkan kemudahan berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya gara2 HP saya sakit menyentil saya dan memancing gumaman dalam hati : “ya ampuun, lu kayak yang sakau gitu. Segitunya ya tuh HP”. He2

Hanya saja itu benar2 terasa di 2-3 hari pertama. Selanjutnya saya mendidik diri saya sendiri untuk santai dan tidak terlalu terganggu secara emosi. Toh dibalik porsi waktu yang besar di dunia maya saya secara individu masih punya kehidupan nyata yang saya jalani dengan normal.

Wah ini HP masa bisa bikin gelisah dan galau bahkan hampa ya saat gak ada. Hehe, bahan pengingat saya juga sih mungkin sebegitu besar ketergantungan saya. Bagus juga dijauhkan selama seminggu ini, bisa saya jadikan moment agar tidak terlalu bergantung akan sesuatu dan kemudahan yang menyertainya.

Duuh HP, masa iya kamu soulmate saya. Soulmate tuh harusnya seorang pria di luar sana yang sampai sekarang belum menunjukan batang hidunyanya 🙂