Selamat Ulang Tahun Bapak

Ini hari terakhir di Tahun 2011,tanggal 31 di akhir bulan Desember bersamaan dengan hari lahir bapak saya. Sayang, tidak seperti tahun2 lalu, tahun ini bapak telah tiada. Berpulang dipanggil oleh Sang Khalik Allah SWT. Tidak terasa, 17 hari sudah bapak sudah tidak bersama kami. Jika beliau masih ada, usianya hari ini adalah 56 tahun.

Assalamualaikum Bapak,

Saya menulis ini sesaat saya sudah selesai makan malam bersama. Malam ini kami makan berdelapan di rumah. Seperti biasa Nadia, Nunu, Farhan dan Dilla menginap di rumah.

Diluar ramai sekali anak2 berlarian meniup terompet yang mereka miliki. Kami disini duduk melingkar, mengitari hidangan sederhana makan malam kami. Ada martabak telur, ada tutut, ada sate, kangkung, tahu, sambal,emping. Adakah satu diantaranya yang bapak suka?

Hari ini adalah hari ulang tahunmu, selamat ulang tahun ya Pak. Kata2 yang rasanya tidak pernah saya ucapkan semasa bapak hidup. Bukankah seperti itulah keluarga kita, perhatian tanpa kata2.

Ku panjatkan doa untukmu setiap waktu, semoga Allah merahmatimu dengan segala ampunannya dan menempatkanmu di SurgaNya yang mulia.

Hari ke-17 bapak tak ada, sedikit banyak saya mulai mampu beradaptasi akan ketidakhadiranmu. Walau di hati ini dirimu selalu terkenang.Kami baik2 saja pak, jangan khawatir. Keluarga kita kuat dan solid, bapak jangan mencemaskan apapun.

Bapak tau, hari ini saya menemui dr.Djabir. mengabarkan bahwa hari ini bapak berulang tahun. Sampaikah doa dokter djabir pak? Beliau mendoakan bapak masuk surga dan hati saya mengamininya.

Tahun akan berlalu dan berganti selepas malam ini. Walau kita tak terbiasa menganggapnya istimewa, namun malam ini saya meresapinya berbeda. Bapak telah tiada.

Kehilangan bukan milik kami saja. Orang lain pun mengalami hal serupa. Maka kami akan berusaha sekuat tenaga melauinya dengan baik. Lalu mulai menata dan meniti kembali hidup kami senormal mungkin. Namun bapak selamanya tak akan terlupakan.

Selamat ulang tahun pak, doa sedikit berbeda tahun ini. Semoga Bapak diberi tempat terbaik dan terindah oleh Allah SWT. DiramhatiNya dengan ampunan atas segala dosa dan khilaf semasa hidup dan dimudahkan segalanya disana. Semoga Allah melapangkan dan menerangi kuburmu pak, dan menjagamu dari segala hal buruk.

Ya Allah, rahmati Almarhum ayahku dengan ampunanMu. Jadikanlah ia menjadi bagian orang2 yang beruntung. Bersama kaum muslimin dan muslimat pilihan, para mujahid dan syuhada. Jadikanlah almarhum ayah saya hamba yang beruntung mendapatkan surgaMu. Amin

Advertisements

Belajar Dari Orang Lain

Beberapa kali saya sampaikan, kehilangan bapak saya yang meninggal dunia 11 hari lalu adalah pelajaran hidup terbaru dan terberat. Menyadari bapak tak ada lagi dalam kehidupan saya membuat hati rasanya hampa. Ada sebagian energi hidup yang hanyut entah kemana.

Tapi jika saya membuka mata, perasaan duka mendalam semacam ini bukan saya saja yang merasakannya. Orang lain, anak lain, keluarga lain banyak yang telah mengalaminya terlebih dahulu. Kehilangan sanak saudara, orang tua dan orang yang mereka kasihi seperti saya. Tidak jarang yang kondisinya lebih tidak beruntung.

Seperti itulah ketentuan hidup, Allah memanggil kita satu per satu dengan cara yang dikehendaki-Nya. Ada yang tiba-tiba, ada yang sudah dikira-kira. Ada yang karena sakit, celaka, musibah alam bahkan ada yang tanpa sebab.

Reaksi semua orang yang mengasihinya tentu saja akan kaget, syok dan sedih. Namun pada akhirnya semua akan melanjutkan hidup sekalipun perasaan kehilangan tak akan pernah sirna. Mungkin saya harus rajin mengintip orang lain, belajar dan meniru bagaimana mereka menyelesaikan rasa kehilangannya karena meninggalnya seseorang yang mereka kasihi.

Saya masih harus lebih bersyukur, Allah memberikan waktu bapak saya cukup banyak untuk mendidik saya dan membesarkan saya hingga dewasa. Bapak pergi setelah saya anaknya yang paling bontot sudah bisa bertanggung jawab akan kehidupannya sendiri. Bapak sudah menyekolahkan saya, bapak sudah melihat saya berpenghasilan sendiri.

Walau sedih banyak pencapaian hidup saya yang tidak akan disaksikan oleh bapak saya, namun seharusnya saya mensyukuri hal2 yang telah saya terima.

Bapak tidak meninggalkan saya menjadi yatim saat saya masih kecil, butuh biaya dan pendampingan untuk dibesarkan. Saya harus melihat banyak anak dan keluarga lain yang ditinggal bapaknya yang wafat dalam keadaan serba terbatas atau kekurangan. Anak2 itu, istri2 yang ditinggalkan pada akhirnya mampu melewati duka dan berhasil menghadapi rasa kehilangannya.

Saya pun harus begitu. Berserah dan sabar menunggu waktu menyembuhkan rasa kehilangan. Saya harus bisa mengatasi sebagaimana orang lain pun mengalami.

Berharap tidak cengeng berkelanjutan dan kembali punya spirit untuk menjalani hidup. Saya masih punya ibu. Ibu yang mungkin hatinya merasa jauh lebih sedih dan sepi dari saya.

Saya harus rajin belajar dari orang lain dan percaya rasa duka ini suatu hari akan jadi teman hidup dan saya mampu berdamai dengannya.

Teras di Senja Hari

Hari – hari menjelang Natal sudah tidak aneh jika kota diguyur hujan. Bulan Desember memang masuk musim penghujan. Sore ini pun begitu, hujan mengguyur bumi dari 3 jam lalu.

Duduk termenung saya di teras rumah, hingga akhirnya meraih HP untuk menulis disini. Menikmati sore dengan membaca 1 koran nasional, ya membaca koran yang terlambat memang sesore ini.

Kursi dan teras yang saya duduki sore ini adalah posisi yang paling disukai oleh almarhum bapak untuk “ngadem”. Terkadang saya atau mamah melengkapinya dengan cemilan sederhana dan kami mulai berbincang. Itu dulu ketika beliau masih sehat. Ketika beliau sakit bapak tidak saya biarkan terlalu lama duduk di teras, atau setidaknya saya memberikannya baju hangat.

Selama membaca koran saya terpikirkan satu hal, di rumah ini di keluarga saya rasanya hanya saya dan bapak yang sedikitnya terlihat memiliki hobi dan minat membaca. Saya tidak melihat di keluarga lainnya. Bayangan saya kembali ke sekitar 2 minggu lalu. Hanya beberapa hari menjelang kepergiannya bapak saya sodori bacaan mengenai cuci darah (hemodialisa), gagal ginjal dan bagaimana penderita lain survive.

……..More

Itulah bacaan terakhirnya, kumpulan artikel yang saya himpun dari dunia maya. sengaja untuk melengkapi ucapan2 saya dalam usaha mengedukasi dan memotivasi bapak mengenai penyakitnya yang terbaru.

Bapak butuh kaca mata untuk membaca, terlebih belakangan diabetes semakin mengurangi kemampuan matanya melihat. Artikel seperti itu saja ia baca butuh beberapa kali istirahat, padahal font tulisannya sudah saya perbesar tidak biasa.

Bapak bilang setelah membaca artikel itu bahwa jika dilihat bisa2 seisi dunia ini memang sebagian besar ditakdirkan menderita gagal ginjal. Saya bilang tidak semua namun banyak, jadi bapak tidak sendirian. Dan mereka tidak sedikit yang survive. Bapak pun harus begitu.

Ingatan itulah yang terlintas sore ini saat saya duduk disini, di teras. Bapak saya yang suka membaca buku disini. Saya sedikit mengintip ke dalam rumah dan sore ini kembali saya belajar bahwa bapak saya sudah tidak ada disini. Kenangannya yang selalu muncul dalam ingatan, sosoknya yang terekam baik di dalam hati saya.

Saya adalah penyuka senja dan langitnya, sore sering menghantarkan banyak lamunan dan renungan. Begitu pun sore ini dan hujannya. Air hujan rintik bergemericik seperti sore ini kadang suaranya hadir menyanyat rasa sepi, sedang saya duduk sendiri di teras meresapi sesuatu yang entah kapan akan benar-benar pergi.

Ingin Bapak Ada

Dua hari ini adalah hari penuh tantangan sesungguhnya pasca meninggalnya bapak. Saat dimana saudara dan kerabat saya kembali pulang ke kediamannya masing-masing. Kakak saya keduanya mulai kembali pergi bekerja. Beruntung pekerjaan saya berbarengan dengan libur akademik.

Tersisalah saya dengan mamah di rumah, berdua mengasuh Rafa (15 bulan). Biasanya kami menghabiskan waktu bertiga bapak. Sore hari hingga malam adalah kebersamaan kami yang paling terasa.

Grafik psikologisnya mulai menukik turun, semakin rileks justru semakin lemah. Bayangkan ketika bapak sakit saya giat sekali bekerja maupun menyimpan uang. Karena saya tau saya harus sedia uang terus jika bapak saatnya berobat. Itu semangat saya.

Ketika bapak sakit di RS saya merasa itulah dimana kekuatan saya semua saya keluarkan. Tidak memikirkan apapun. Saya lupa rasa lelah, lupa mengantuk, saya sedih namun tangis sering saya tahan. Saya tetap pergi bekerja sekalipun letih dan bingung. saya hanya memikirkan bagaimana caranya bapak sembuh. Itu saya sebut harapan.

Ketika bapak berpulang, saya menangis keras lama sekali. Muncul kilatan2 ikhtiar kami berobat selama ini. Saya sakit sekali namun juga saya ikhlas. Bapak tidak perlu merasakan sakit lagi. Giginya tak perlu bergemerutuk lagi menahan sakit yang tak mampu dibagi. Saya menghadapi pemakaman dan meminta keluarga yg mempersiapkan ini itu dengan tenang. Saya menyebutkan Ikhlas.

Dalam seminggu bapak meninggal saya masih berenergi untuk mengurus tahlilan selama 7 malam bersama keluarga. Pergi belanja, beli kue, menyediakan makan bagi keluarga yang menginap, beresin rumah. Bahkan saya masih sempat bersilaturahim dengan dokter bapak ke RS, menjemput sepupu pulang dari RS, mengantar paman saya kontrol ke dokter,dsb. Saya menganggapnya ketenangan diri.

Tapi setelah semakin sedikit yang saya urus, seperti saat ini aktivitas mereda dan urusan berkurang. Tinggalah saya memperhatikan diri saya sendiri atau setidaknya mamah. Saya kebingungan mencari dimana energi yang biasanya ada dan membumbung tinggi.

Dua hari ini semuanya mulai tampak drama, sedikit takut Allah merasa kecewa. Ada sebagian dalam diri menolak bapak telah tiada. Saya mulai merasakan sedih yang bebeda. Bapak gak ada dan gak akan pernah ada lagi walau sekadar berjumpa.

Rumah semakin terasa sendu. Saya sedih melihat tabung oksigen di kamar saya, sendal yang dipakai terakhir sebelum maut menjemputnya masih ada di kamar saya. Saya lemas melihat obat2an yang menumpuk bekas bapak. Seperti melihat perjuangan yang terhenti.

Selalu terbayang bapak rebahan di tempat tidur saya meresapi sakit, duduk di kursi, di karpet, di teras. Saya selalu terbayang sorot mata dan kumis jenggotnya yang lebat. Allah tidak bergurau, bapak benar2 tiada untuk selamanya.

Saya lebih banyak diam, mamah pun begitu. Masak rasanya makan pun tak semangat. Saya ingin bapak ada seperti biasa makan bersama kami. Sedih sekali melihat barang2nya yang masih ditempat masing2 belum sanggup kami rapihkan.

Rileks dan punya banyak waktu memikirkan diri sendiri justru memicu sifat cengeng dan kekanakan. Saya jadi diri saya sendiri, anak bungsu bapak saya yang rasanya sudah lamaa tidak merajuk.

Andai boleh merajuk dan semua rajukan saya mungkin adanya untuk dikabulkan, saya ingin bapak saya ada lagi di sisi saya, hidup bersama kami lebih lama. Saya ingin bapak ada ketika saya menengok ke dalam kamar. Saya ingin bapak ada di rumah ketika seperti kemarin sore diluar hujan dan saya takut. Saya ingin bapak ada di rumah menyuruh saya membeli makanan kesukaannya.

Saya ingin bapak ada mendengar rencana-rencana, saya ingin bapak ada sekedar menegur kala saya salah. Saya ingin bapak ada menemani Rafa bermain. Saya ingin bapak ada dan diberitahu semua ini hanya mimpi.

Mungkin inilah fase denial saya, satu waktu mungkin akan berganti dengan fase penerimaan yang permanen. Rasa kehilangan seperti ini adalah pelajaran baru dalam hidup saya. Mungkin setiap orang tidak akan pernah benar2 mempersiapkan diri menghadapinya.

Berharap waktu dapat saya beli. Jika tidak mungkin membeli waktu yang sudah lampau agar saya masih banyak kesempatan bersama bapak, maka saya berharap mampu membeli waktu agar saya bisa menggeser fase penuh duka seperti saat ini.

Makanan Kesukaan Bapak

bapak

Almarhum bapak saya adalah penikmat kuliner, beliau senang sekali makan diluar. Ibu dan saya sering menemukan struk pembayaran makan ketika merapihkan baju kotor sebelum dicuci. Seringkali tagihan makannya bukan porsi untuk seorang.

Saat berjalan bersama keluarga pun bapak sering mampir ke tempat makan. Bila sepulang kerja beliau makan bersama teman-temannya bapak suka telp rumah menyuruh kami memesan masakan untuk dibawa pulang. Lalu bapak tiba di rumah dengan masakan berbagai rupa dan meminta kami menghabiskannya.

Begitu pula ketika saya beranjak dewasa dan beliau lebih banyak di rumah karena mulai merasa banyak keluhan. Saya seringkali ditunggu di rumah membawa makanan yang ia inginkan. Lalu kami makan bersama.

Bapak saya suka sekali dengan macam2 soto. Soto bening, soto santan, soto daging, soto ayam, ikan mas, gurame, bebek goreng, sate,sop buntut ah kebanyakan makanan yang disuka ama bapak mah.

Mamah sering bilang ke saya untuk tidak terlalu boros perihal makanan, tapi disisi lain bapak saya suka menanti saya membawa makanan apa sepulang beraktivitas diluar rumah. Dan rasa-rasanya saya tidak menyesal, bahkan hingga hari-hari akhirnya saya sering menyediakan makanan apapun yang beliau mau tanpa menunda-nunda.

Selama di rumah sakit bapak saya suka makan “papais pisang” yang dibungkus oleh daun pisang muda. Katanya lembut dan dingin di perut. Satu pagi sepi saya pernah dipanggil oleh perawat ICU. Sambil deg2an saya menghampiri takut ada hal penting. Taunya bapak minta makan papais pisang.

Continue reading

Oh Ibu …

Saya tidak pernah merayakan Hari Ibu secara special, bagi saya sehari-hari ibu selalu menjadi sosok special. Rasanya akan seperti itu pula orang lain kepada ibunya.

Ibu saya sudah sepekan ini ditinggal oleh suami untuk selamanya. Bapak saya sudah berpulang ke sisi Allah SWT pekan lalu.

Saya mendampingi ibu saya beberapa waktu ke belakang ini kala ibu menemani bapak saya sakit. Saya menyaksikannya setia merawat dan menjaga suaminya kala di rumah pun kala di rumah sakit.

Satu waktu mungkin pernah terlintas dibenaknya betapa saya begitu menjaga baik bapak saya, hampir apapun yang almarhum minta saya penuhi. Saya tekun menemani Bapak saya berobat. Mungkin pernah terlintas dalam benaknya saya mengistimewakan bapak, namun sungguh bagi saya keduanya sama.

Continue reading

Sirna-nya Raga

Rabu 7 hari lalu, tepat 13.00 bapak menghembuskan nafas terakhirnya di tempat tidur kamar saya. Sudah sepekan lamanya berpisah dengan raganya yang sirna.

7 hari berpisah dan rasanya almarhum masih saja hidup. Selalu ada bagian dalam diri ini yang berharap ini semua mimpi. Rasa-rasanya semua hal baru saja kemarin terjadi, adegan-adegan bersamanya bulan-bulan terakhir kepergiannya masih saja terbayang.

14 Desember 2011

Pagi yang sibuk hari itu, saya bersiap dengan pakaian saya sekalipun semalamnya saya begadang menemani bapak yang insomnia. Percakapan terakhir, bapak duduk di sisian kursi tamu meminta uang pecahan 10rb untuk beliau berikan kepada seseorang yang sedang dimintai tolong. Saya katakan “siap!” Dan langsung saya sediakan.

Kang Dani pulang dari begadang di RS, membawa beberapa porsi bubur ayam Kabita IPB. Satu porsi saya sodorkan untuk bapak yang berbaring menyamankan tubuh. Saat saya meneguk teh hangat pagi itu, saya menoleh dan menyaksikan bapak sedang duduk dan membuka kemasan bubur dan berusaha menyantapnya.

Continue reading