Minimarket, Supermarket dan Warung Kecil

Kamu, suka belanja tidak? Pasti suka. Belanja adalah salah satu hal menyenangkan di dunia. Saya suka belanja, walau saya massih kategori pembelanja rasional.

Senang rasanya mendorong kereta belanja dan berjalan-jalan di lorong mengitari rak-rak produk, memilih, dan meemasukannya ke dalam roda belanjaan kita. Saya suka…

Apa sih yang biasanya orang beli di supermarket? Gak jauh kan dari kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Shampo, sabun, pasta gigi, makanan ringan, makanan cepat saji, alat mandi dan sebagainya. Ringkas, sekali belanja kebutuhan sebulan sudah terkumpul.

Tapi awal minggu ini saya membaca sebuah note di FB tulisan dari seorang dosen kampus ITB tentang keharuannya terhadap seorang kakek yang menjual dagangan sederhananya di sisian jalan mesjid.

Satu kalimatnya menyentil saya. Betapa zaman sekarang saat mall2 bertebaran ditambah lagi berserakannya mini market di berbagai lokasi membuat akses kita untuk berbelanja jadi mudah.

Jumlah mini market saat ini sepertinya sudah tak masuk akal. Dalam hitungan jarak ratusan meter, kita sudah menemukan lagi mini market lain. Lalu apa kabar nasib si warung2 kecil? Yang pemiliknya pemiliknya adalah warga dan masyarakat sekitar.

Mungkin ada baiknya kita membiasakan diri berbagi dan ikut serta dalam menjamin keberlangsungan usaha sederhana tetangga sekitar kita. Bisa dengan membeli barang kebutuhan di warung kecil dan membeli sisanya di supermarket atau mini market jika memang hanya tersedia disana.

Ah iya juga, keberadaan mini market yang mulai terlalu rapat dan tersedianya mall2 besar tentu memiliki dampak kepada usaha2 warung kecil. Beralihnya sebagian besar konsumen ke toko2 serba ada yang nyaman ber-AC itu tentu lama kelamaan akan melemahkan eksistensi dari warung2 kecil tersebut. Ujungnya pedagang menyerah kehabisan modal lalu gulung tikar.

Ah saatnya me-list, mana2 saja yang bisa dibeli di warung dan mana saja yang bisa dibeli di supermarket dan minimarket. Betul kata dosen dalam catatan FB itu untuk peduli kita tak mesti melulu memberi orang lain uang, namun bisa dengan terus dan tetap menggunakan juga memanfaatkan jasa dan usaha mereka. Sehingga warung2 kecil tetap bisa bertahan ditengah gempuran minimarket dan supermarket yang berserakan. Hasilnya, tentu saja pemilik warung2 kecil jadi lebih mudah memperoleh keuntungan dan dapat menjalankan usahanya dalam kurun waktu yang panjang.

Ketulusanku Tak ada Harganya

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Wild Romance : Cinta Dan Fanatisme Suporter Olahraga

Nonton drama korea Wild Romance yang diawali adegan eforia satu keluarga Korea dalam mendukung tim bisbol kebanggaannya bisa menyeret bayangan kita akan fanatisme sejenis yang juga terjadi di negeri ini, terutama terhadap olahraga sepakbola. Ternyata hal semacam ini terjadi juga di negara lain.

Di Kisahkan satu keluarga dengan ayah sebagai single parent dengan dua anaknya, satu perempuan dan satu laki2. Di suatu karaoke terjadi kesalahpahaman sehingga terjadi perkelahian antara keluarga itu dengan salah satu pemain utama tim bisbol lawan. Tak disangka kejadian tersebut memicu skandal yang lebih panjang.

Menutupi kejadian sebenarnya di settinglah bahwa si perempuan yang melumpuhkan atlet bisbol itu adalah bodyguard yang sedang melatih bela diri. Hasilnya adalah terjadi hubungan pura2 sebagai bodyguard dan klien antar keduanya. Hal ini sungguh sulit, karena si wanita adalah suporter fanatik dari tim yang berbaju Biru ( saya lupa apa nama tim-nya), dan si atlet yang harus ia kawal adalah pemain utama tim bisbol lawan yang berseragam merah.

Continue reading

Bermain Dengan Kenangan

image

Jalan Jalak Harupat Bogor

Tadi pagi selepas jogging di satu lapangan di tengah kota Bogor saya melanjutkan jalan pagi saya menuju RS PMI. Jalannya yang agak menanjak cukup membuat saya terengah-engah. Mau naik angkot tapi saya masih ingin berolah raga. Akhirnya saya menikmati jalan kaki sendirian.

Jalanan pagi sudah ramai oleh lalu lalang kendaraan. Wajah-wajah tergesa menuju kantor, entah dimana kantor mereka. Tapi jalanan yang asri membuat saya tetap berusaha menikmati jalan pagi walaupun sendirian.

Continue reading

Uang Barang Pecah Belah

image

uang

Mau tanya, kalo uang pecahan seratus ribu itu pecahan besar atau kecil ya? Buat saya kok rasanya besar ya. Masalahnya uang pecahan seratus ribu itu udah kayak barang pecah belah, sekali pecah jadi receh maka lenyaplah semua.

Jangan uang pecahan besar, uang pecahan kecil pun berharga. Bahkan seorang financial planer pernah ngetwit kalo uang2 pecahan kecil kalo di manage dengan baik saat seseorang lagi bokek, uang itu akan menolong sekali.

Saya beberapa kali pergi hanya dengan membawa uang selembar seratus ribu. Biasanya kalo pergi untuk kebutuhan spesifik dan gak banyak kebutuhan. Kadang kaget saat kembali pulang uang 100.000 itu bersisa beberapa ribu saja. Jadi pengeluaran2 yang kecil itu kalo dikumpulin besar juga.

Continue reading

Penyebrang Jalan Kadang Kala Tak Sabar

image

Buat kita yang tinggal ataupun beraktivitas di kota yang ramai dan jalanan padat, menyebrang jalan dengan aman adalah satu kebutuhan khusus terutama jika tidak tersedia jembatan penyebrangan jalan.

Menyebrang jalan untuk saya sendiri jika bukan dijalanan sepi maka mending di jalanan yang macet. Karena kendaraan2 di jalanan cenderung lebih lambat melajunya. Atau yang menurut saya terbaik adalah menyebraang jalan di atas zebra cross yang berada tepat di depan sebuah lampu meerah. Tinggal menunggu dengan sabar, hingga akhirnya lampu merah berjalan dan zebra cross aman untuk dilalui.

Semalam saya berada disana. Di depan zebra cross di suatu tempat di sebuah perempatan jalan yang cukup besar. Lampu merah ada di setiap ujung jalan. Saya merasa mudah menyebrang disana. Cukup menanti dengan sabar di sebrang jalan sana lampu merah menyala, di belokan sana lampu merah menyala, makan saya menyebrang. Sudah di tengah jalan saya masih harus menunggu sejenak hingga sebagian ruas jalan dari arah kiri pun terhenti.

Continue reading

Tak Diajarkan di Sekolah

Pagi tadi saya mengcopy beberapa lembar berkas saya di sebuah kios fotocopy. Seorang pria muda menerima berkas saya yang total berjumlah 8 lembar 16 halaman. Saya minta mereka dicopy sebanyak 5 rangkap.

Saya lihat pria pertama cukup cekatan. Sama sekali tak kebingungan bahkan ketika saya memintanya meng-copy dengan cara bolak balik di satu kertas. Nampak terampil. Mungkin saja karena ia telah bekerja cukup lama disana, saya tidak tahu pasti.

6 halaman pertama sudah selesai dicopy. Saya menawarkan diri untuk menyusun dan merapihkannya sendiri, sementara pria tadi mengcopy berkas lainnya.

Saya letakan 5 lembar secara sejajar, dengan halaman satu telungkup, halaman 2 menengadah dan bersiap saya tumpuk dengan halaman 3 dengan dibaliknya halaman 4. Begitu seterusnya. Tidak sampai 3 menit penyusunan selesai dan saya mengklipnya satu persatu. Selesai.

10 halaman lain yang dicopy menjadi 50 halaman akhirnya selesai dicopy. Sebelum saya menawarkan diri, pria tadi meminta temannya untuk membantu menyusun kertas2 tadi. Saya mengerti maksud dan arahannya, sayang temannya yang ia mintai tolong tidak juga faham.

Continue reading

Nyeseknya lirik Lagu “Tahu Bagaimana Rasanya” – Lala Purwono

TAHU BAGAIMANA RASANYA

Tahu bagaimana rasanya mencinta
dia yang takkan pernah mencintaimu
Tahu bagaimana rasanya merindu
dia yang takkan bisa membalas rindumu

Kutahu rasanya, sakitnya karena kau yang tak pernah mau
tahu akan cintaku
kutahu rasanya, sampai mengilu karena kau tetap tak bisa
pedulikan hatiku

Tahu bagaimana rasanya memanggil
dia seolah tuli tuk teriakmu
tahu bagaimana rasanya menangis
dia yang tak pernah merasa melukaimu

Kutahu rasanya, sakitnya karena kau yang tak pernah mau
tahu akan cintaku
kutahu rasanya, sampai mengilu karena kau tetap tak bisa
pedulikan hatiku
pedulikan hatiku, oh!

Cobalah kau sedikit mengerti betapa sulitnya menjadi aku
kujatuh terlampau dalam di hatimu
kini kamu tahu; rasaku, inginku, jeritan sakitku

Berhentilah menjadi lelaki itu
Mengertilah sulitnya menjadi aku

Sudah matikah rasamu tuk mengerti sakitku?
Apa karena mati rasamu, kau harus tak peduli?

ah, lagu ciptaan Andry & Lala yang dinyanyika Lala Purwono Ini liriknya sungguh JLEB!

Tiga Doa di Pagi Hari

Hari ini tanggal 14 April, hari ulang tahun mamah saya yang ke- 56 sekalligus tepat 4 bulan wafatnya almarhum bapak saya. Bapak meninggal tepat di tanggal 14 Desember pasca beliau selesai menunaikan sholat dzuhur.

Bangun pagi dengan mata rapat karena saya tidur agak larut semalam, sebelum matahari benar-benar terbit tadi saya sudah merajuki Allah dengan beberapa doa. Untuk mamah saya di dunia, untuk bapak saya di akhirat dan untuk diri saya sendiri.

Berharap dan meminta mamah saya diberikan kesehatan hari ini dan hari2 ke depan, dimudahkan rizkinya oleh Allah, dipanjangkan umurnya, selalu ditenangkan hati juga pikirannya dan diberi jalan untuk meraih apa2 yang belum diraihnya.

Continue reading

Jangan Bunuh Diri ah..enggak ah..

Siang ini saya sudah 2x mendengar berita bunuh diri di televisi. Satu upaya bunuh diri dilakukan anak remaja laki2 usia 17 tahun dengan menggantung diri di seutas tali plastik. Kabar lainnya upaya bunuh diri dengan menyayat urat nadi yang dilakukan oleh seorang wanita muda, namun upayanya berhasil digagalkan oleh warga yang menemukannya di sisi lapangan dan membawa ke rumah sakit.

Kangen gak sama masa lalu? Saat semuanya tampak sederhana dan simple. Ah saya tak punya data statistik saat ini dan masa lalu jumlah orang yang bunuh diri meningkat, tetap atau menurun. Namun dari sisi kaca mata saya faktor pemicu bunuh diri di masa lalu tidak semenjamur saat ini.

Dahulu saya bayangkan ayah2 yang pergi bekerja dengan kemeja-kemeja sederhana, tas-tas sederhana, setiap pagi dan pulang petang. Ayah tak neko-neko. Iya hanya tau bekerja untuk keluarganya. (Setidaknya itu saya lihat dari bacaan di buku, dalam kisah di televisi). Ayah sesekali berkumpul dan berbincang bersama tetangga, bekerja bakti di hari Minggu, bahkan masih ada waktu untuk ikut serta di acara Agustusan kampung.

Dahulu saya ingat-ingat bahwa para ibu sibuk mengasuh anak2nya di rumah. Ibu memasak dan memakaikan sepatu. Sesekali bertukar janji dengan ayah siapa yang menjemput ke sekolah. Ibu duduk di sore hari sambil menyeterika baju dan anak2 duduk di sampingnya bersama mendengarkan radio. Ibu juga pergi senam SKJ 88 di lapangan. Bukan..bukan hanya dengan genknya yang eksklusif, ibu senam dengan ibu-ibu sekelurahan. Sampai ke RW sebelah ibu kenal.

Anak-anak pergi bersekolah, di sekolah kami bermain dan belajar. Terkadang disuruh guru membeli gado-gado saat 5 soal dari buku pelajaran cetakan dinas P dan K selesai dikerjakan. Itu karena harus menunggu teman2 yang lain selesai. Waktu terasa tak berburu apapun. Anak2 masih ada waktu untuk bercanda, main di lahan kosong tetangga yang belum terjual, belajar di madrasah, bahkan mengaji selepas magrib.

Walau TV begitu kuno dengan warnanya yang hitam putih, ditambah pilihan acara hiburan yang terbatas tapi kita tak merasa kekurangan hiburan. Selalu ada cara untuk bergembira dan menghabiskan waktu.

Waktu tak berputar terburu-buru, banyak gosip2 yang masih “sakral” saat dulu. Anak gadis yang hamil diluar nikah jarang. Ada pun akan ditutupi keluarganya hingga ke perut bumi. Yang menggunjingkan pun sangat hati2. Cerita tetangga bercerai sedikit perbandingannya dari keluarga utuh. Skandal dan perdebatan tak kita dapati dengan mudah di ruang publik.

Manusia zaman sekarang mungkin terbentuk dari situasi yang semakin kompleks. Kemajuan, kemudahan informasi, masalah2 yang semakin mudah bertebaran, tuntutan kemajuan zaman dan semakin kompetitifnya orang2 memenuhi kebutuhan hidup membentuk kita menjadi orang2 yang berpikir rumit, sulit diurai dan sibuk satu sama lain.

Mungkin saat ini kita sendiri-sendiri mulai membentuk diri sebagai pribadi2 yang kompleks. Melupakan kesederhanaan berpikir dan cara hidup. Sekumpulan orang kompleks dengan hidup dan cara berpikir kompleks, berinteraksi dengaan orang2 yang sama kompleksnya. Akhirnya satu dua terpojok dalam hidup dan kesulitan menentukan solusi diri. Pesan2 banyak yang sampai tak utuh, tak sederhana, tak gamblang. Dan si rumit mulai berputus asa dan gelap mata.

Saya tau rasanya sedih, tau rasanya putus asa (setidaknya mendekati putus asa), saya tau rasanya rasa takut dan kecewa. Begitupun mungkin orang lain. Namun jangan menyerah sekalipun saya tau kadang setan membisiki kalimat “hey mati saja”.

Zaman dan manusia mungkin banyak berubah, semakin baju, modern, sibuk, tak peduli, kusut, berharapan tinggi, mengutuki ketidaksempurnaan setiap waktu. Tapi…pasti …pasti masih ada cara hidup yang menyenangkan di zaman yang waktu terasa semuanya cepat ini.

Maka mari redakanlah diri sendiri, sesekali memperlambat putaran hari, melirik sekitar dan menyebarkan kepedulian dan tidak menyulitkan kehidupan orang lain berlebihan. Hidup dengan cerita yang sederhana sepertinya jauh lebih menyehatkan jiwa.

Jangan bunuh diri, jangan. Jangan pernah memilih mati jika tau masih berhak menyaksikan matahari terbit dan bersinar esok hari.