Nasi Kuning dan Ketupat Sayur Jalan Heulang

image

Selamat pagi dari Kota Bogor….

Saya mau share sarapan saya pagi ini ah. Pagi ini saya sarapan di satu jalan yang bernama Jalan Heulang. Teman2 saya sesama alumni SMPN 5 Bogor mungkin agak familiar dengan jalan ini.

Yup, Jalan heulang adalah jalan di sisi Lapangan SMKN 1 Bogor (dulu kita mengenalnya dengan SMEA Negeri). Jalan ini dilalui oleh angkot 16 Salabenda – pasar anyar atau pun 07 biru Bojong Gede – Pasar anyar. Lokasi gerobak dagangnya tepat di sebrang SMKN atau pas di depan pagar rumah dinas polisi.

Kamu yang terbiasa bolak – balik kantor imigrasi Kota Bogor, jalan heulang persis jalan sebelah kanannya kantor Imigrasi.

Continue reading

Advertisements

Melamun Tengah Malam

Tebak apa yang sedang saya tatap. Saat ini saya sedang menatap sebuah jendela dan sebuah kursi panjang. Ya, saya sedang di rumah sakit. Betul, semalam ini masih di RS. Kali ini menemani kakak ipar yang opname karena hamil muda yang ringkih.

Kita kembali ke tatapan saya. Ini rumah sakit yang sama dengan rumah sakit dulu ketika almarhum bapak saya di rawat. Saya menatap jendela kamarnya, nampak jelas dari sini walau berbeda bagian dan ruangan. Saya melihat kursi kayu panjang. Ada bapak2 gemuk yang sebenarnya belum terlalu tua dengan wajah gembira karena dokter mengatakan dia boleh pulang, duduk ditemani tiang gantungan infusan. Dia bapak saya.

Saya juga memandang tiang bangunan dimana bapak saya pernah duduk di kursi menyinari tubuhnya dengan matahari pagi. Ya kala itu dia masih bisa mencandai pasien lain. Tertawa dan menikmati sakitnya.

Saya melihat teras tempat duduk2, saya ingat ketika bapak saya membanting tiang infusan dan memaksa duduk disana dan gak mau masuk kamar. Dia marah, ingin pulang ke rumah. Pagi itu saya menandatangani surat pernyataan pulang paksa sekalipun bapak belum sehat.

Lorong2 rumah sakit ini, suasana malam ini, aroma ruangan ini mengundang rindu yang sulit tergambarkan. Saya berusaha untuk tak apa2. Lamunan tetap saja lamunan, sejenak kita terjaga, kemudian melamun kembali namun hidup tetap saja harus berjalan ke depan bukan dalam lamunan.

Saya rindu bapak, sekian.

Olah Raga pagi menyehatkan tubuh, jiwa dan pikiran

image

Suatu hari saya duduk berdua dengan salah satu kawan baik saya di pizza hut. Siang itu kami memesan cukup banyak makanan dan minuman, setidaknya diukur dari jumlah kami yang hanya berdua. sambil makan tak enak jika tak berbincang kemana-mana. Siang itu kami yang sudah berkawan belasan tahun itu mengobrol tentang keseharian, hari esok, asmara, keluarga hingga kesehatan orang tua.

Berujung pada obrolan tentang kesehatan entah bagaimana saya dan kawan tadi mencanangkan untuk sedikit lebih banyak menggerakan badan kami dengan jalan pagi. Jadi diantara deretan piring dan gelas kotor sisa sajian yang baru saja disantap kami berdua sepakat mau mulai berolah raga.

Saya menepati janji, kawan saya pun sama. Di suatu pagi masih pukul 6 kawan saya sudah menunggu di depan pintu istana bogor. Pagi itu pun kami berjalan ke arah lapangan sempur dan mulai berjalan santai mengelilingi lapangan. Beberapa putaran dan bertambah di keesokan harinya.

Continue reading

Rapuhmu Erat Mengikatku

Pagi tadi baca salah satu majalah kesehatan dan life style pria,sepintas cepat hingga di salah satu artikel dalam tulisan cukup besar terbaca sebait kata :

Ketika dia tau bahwa anda cukup mempercayainya untuk tampak rapuh di depannya, maka dia akan merasa lebih terikat dengan anda

Saya gak tau rubrik apa tepatnya yang saya baca, namun sepertinya dari kutipan di atas majalah tersebut sedang berbicara bagaimana proses seorang wanita tertarik atau pada akhirnya memiliki ikatan emosi dengan seorang pria.dan salah satunya adalah kutipan di atas.

Salah satu penyebab kita mengikatkan emosi kepada seseorang adalah saat orang tersebut menaruh kepercayaan pada kita dan membiarkan dirinya menunjukan kerapuhan diri baik itu perasaan masa lalu, pemikiran saat ini maupun ketakutan di masa depan.

Hal seperti ini masuk akal, karena melalui situasi tersebut kita merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang apa adanya diri dia. Seseorang yang nyaman untuk bercerita sekaligus merasa tak apa2 sekalipun dia tau dirinya jadi tak dipandang hebat akibat ceritanya. Dari situasi tersebut sekaligus seseorang seperti meminta perlindungan dan kita mulai mengikatkan diri kita sendiri ke dalam cerita dan pencerita.

Selepas sesi berbagi lalu tumbuhlah empati2 di hati, semacam ada perasaan untuk melindungi dan keinginan menjaga. Kita ingin menjadi alasan seseorang berbahagia, tidak lagi menjadikan ceritanya sebagai alasan bersedih dan menggantinya dengan kita lalu bahagia.

sementara di sisi lain seseorang yang menampakan kerapuhan tadi seakan menemukan rumah hangat atau peraduan lembut dimana dia bisa berbagi kekurangan hidupnya tanpa merasa kecil hati. Semakin banyak ia berbagi justru ia semakin merasa terisi. Serapah seakan terlontar keluar dan melapangkan himpitan hati. Lalu muncul perasaan bergantung, rasa membutuhkan dan kelegaan menemukan sumber kenyamanan terbaik. Seorang pendengar yang melegakan dan untaian kata2 mencerahkan setiap hari.

Seperti itu kah cinta bekerja? berawal dari sesuatu percakapan mendengar dan didengar? Jika memang iya, saran saya hati2lah berbagi kerapuhanmu dan hati2lah menentukan kerapuhan siapa yang ingin kita dengar. Karena apa? karena cinta seringkali jahat. Jahat. Melesat ke sembarangan orang yang bisa jadi kadang ke orang yang tak seharusnya. Itu saja. 

Ributin si Miss Gaga

Ah, boleh jadi saya adalah salah satu orang kuper dan wawasan untuk satu hal ini sedemikian sempit. Belakangan di televisi dan di dunia maya ramai perbincangan dan perdebatan menjelang konser Lady Gaga di Indonesia. Banyak sekali suara – suara mengemuka mengenai hal ini. Tidak hanya ormas Islam, FPI, HTI, menteri, partai, tokoh partai, DPR, masyarakat dan tak ketinggalan para pekicau di twitter mengemukaan pendapat mereka.

Mungkin saya yang cuek, kurang membaca atau minim menangkap informasi. Saya malah terjebak dalam tontonan saling tolak saling dukung tanpa memahami landasan mereka masing2 apa. Sebenarnya what’s wrong dengan Lady Gaga?

Dalam hal ini saya gak puas dengan penolakan karena pakaian seksi lah,upaya menghalau kebudayaan barat lah, atau menyoroti hingar bingar konser itu sendiri lah yang dianggap gaya hidup hedonis, buang2 uang untuk tiket yang mahal sementara sebagian masyarakat lain masih hidup berkekurangan.

Continue reading

Namanya Juga Nenek-nenek

2 hari lalu di sela-sela berkumpulnya saya dengan keluarga ada satu kalimat keluar dari mulut sepupu saya yang masih gadis belia : “suka sebel da ama si emak”.

Emak adalah sebutan kami ke nenek. Bagi saya beliau adalah ibunya mamah, bagi sepupu belia saya emak adalah ibu dari ayahnya. Usianya di atas 75 tahun. Saya lupa persisnya, mungkin 78 mungkin juga 79 tahun.

Di usianya yang sudah sepuh beliau masih tampak sehat sekalipun ciri fisik menua jelas terlihat. Masih suka makan soto,roti, masih cerewet, sesekali mengomel dan melakukan keriweuhan lainnya seperti mau pergi jam 10 pagi si emak dari jam 7 udah ready dan rewel ngeburu-buru minta semua bergegas. Atau di waktu lain dia keukeuh waktu udah masuk dzuhur padahal sepupu saya menjelaskan belum. Beliau pun keukeuh sholat duluan. Ah dan lain sebagainya.

Nenek saya adalah orang betawi asli yang dialek dan bahasanya sudah bergeser menjadi sunda karena puluhan tahun di Bogor. Beliau kembar yang bisa dikatakan identik. Sekitar 2 tahun lalu kembarannya berpulang terlebih dahulu. Sekalipun keras saat berbicara saya tau nenek saya orang baik hati dan perasaannya halus. Beliau mengajarkan berbagi dan menolong antar saudara jika ada yang kekurangan. Beliau juga pintar memasak.

Saya masih ditegur seusia ini jika beliau liat celana saya terlalu pendek, baju saya terlalu tipis. Dia baik sama anjing tetangga yang ditinggal pemiliknya. Saya masih makan pun udah suka nyeletuk : “ayamnya kalo gak abis jangan dibuang ya, buat anjing”. Saya pun menjerit dalam hati : “masih di makaaaaan, jangan nyebut2 anjing dulu” hehe

Siang kemarin sambil memotong kue yang akan kami makan saya menghela nafas dulu setelah mendengarkan pernyataan sepupu saya yang masih ABG. Saya pun mengajukan beberapa pertanyaan padanya.

Sepupu saya suka dan sayang dengan keponakan saya si Rafa (1,5 tahun). Saya tanya, mengapa gak marah sekalipun si Rafa numpahin air minum si tempat tidurnya? Mengapa gak kesel liat si rafa nyoret2 bukunya? Kok gak bete ketika ngadepin rafa rewel dan bikin kita riweuh?

Dia menjawab beberapa kali dan saya terus mengerucutkan pertanyaan,hingga keluarlah jawaban yang saya tunggu. Yup semua tampak menjadi masalah karena kita maklum si Rafa kan masih anak2, namanya juga anak kecil.

Saya bilang ke sepupu saya, begitu juga si emak. Ada hal2 dan perilaku beliau yang harus kita maklumi dan bisa kita pisahkan jika penyebabnya adalah karena usianya yang sudah lanjut. Kita semua pun akan seperti itu, menua dan kembali bak anak2. Tapi rasa hormat dan peduli tidak bisa luntur sekalipun nenek tua kita melalukan hal2 konyol atau meriweuhkan.

Dan saya lihat sepupu saya diam sambil bergumam entah apa yang dia racaukan di dalam hatinya. Ya betul, namanya juga nenek-nenek.. sabar sedikit ya…

Jambu Cincalo Ku Suka

Ada jenis jambu air yang saya suka, mamah saya suka menyebutnya sebagai Jambu Cincalo. Itu loh jambu air yang ukurannya agak besar, mirip lonceng warnanya cenderung hijau kemerahan atau bahkan berujung kecoklatan.

Kenapa saya suka? Karena rasanya lebih manis dan dagingnya tebal dan besar. Tak harus di makan dengan cara dirujak pun jambu cincalo enak dikunyah seperti buah lainnya.

Beberapa hari lalu saya menemukan pedagang rujak yang salah satu buahnya adalah jambu cincalo. Mata saya cukup awas menangkap keberadaan jambu itu di gerobak sederhana sisi jalan raya. Saya pun membelinya dengan suka cita. Sudah musim jangan2 ya…

Nah masalah dimulai dengan penyebutan jambu itu. Saya menyebutnya jambu cincalo, kawan yang saat itu bersama saya menyebutnya jambu lilin. Ah saya baru denger itu istilah jambu lilin.

Keesokan harinya saya cerita ke teman lain baru memakan jambu cincalo dia pun bingung jambu mana yang dimaksud. Pas saya ceritakan ciri2nya dia juga menyebutkan nama lain.

Jadi setelah saya googling barusan, jambu yang kami maksud konon adalah Jambu Air Semarang. Penyebutannya memang berbeda-beda namun ditilik dari ciri-cirinya semuanya merujuk ke jambu yang sama.

Ini kata wiki, penyebutan nama lain dari jambu air semarang : jambu air mawar (Malaysia),
jambu lilin , jambu cincalo, jambu camplong ( Ind. ), jambu
klampok (Jw.), chomphu kaemmaem ( Thai), makopa (Fil.)

Dan hari ini saya akan lirik2 keberadaan jambu cincalo ini di pasar. semoga saja sudah musim. Ah beruntunglah tetangga yang di halaman rumahnya tumbuh pohon jambu cincalo. Sayang pohon jambu air di rumah nenek saya adalah jenis lain.