OVER THINKING

image

Kita kadang terkejut saat menyadari begitu mudahnya diri kita terganggu. Cukup dengan terlalu banyak tidur, terlalu lama bermain gadget dan saat dalam posisi merebahkan diri tiba – tiba saja kita merasa diri kita kosong dan hampa. gue merasakannya di pergantian hari di akhir tahun kemarin. memutuskan istirahat (terlalu banyak istirahat) membuat kita terlalu banyak waktu untuk diam.

Pada saat diam itulah ketenangan yang semestinya muncul malah tergantikan dengan segala pikiran yang tiba-tiba berkecamuk. Dalam sebuah buku gue menemukan kalimat bahwa pada saat kita berusaha mengosongkan pikiran justru itu menjadi pemicu semua pikiran menjadi datang. Banyak diam justru memberikan kita waktu untuk berpikir terlalu banyak, mencemaskan segala sesuatu yang belum terjadi, menyesali yang pernah terjadi dan berasumsi bahwa orang lain melakukan sesuatu karena ini dan itu.

Continue reading

JEDA

image

Gue semalem ini baru selesai meneguk secangkir coklat panas. setelah selesai membereskan kamar lalu membersihkan diri gue baru sadar kalo esok pagi tibalah gue kembali ke kantor. Bukan hanya ke kantor, tapi artinya kembali ke rutinitas lainnya seperti mengajar belasan murid les selama seminggu sepulang kantor. 2015 bagi gue adalah tahun bekerja. Entah bagaimana awalnya tapi sepanjang tahun gue merasa kehilangan banyak waktu beristirahat. Istirahat yang gue maksud adalah bukan hanya merebahkan diri dan leyeh-leyeh di atas kasur, tapi gue butuh mengistirahatkan pikiran dan diri gue dari segala ketergesaan.

Rutinitas terasa selalu sama, bangun di pagi hari dan tergesa menembus jalanan pagi agar tidak terlambat masuk kantor. Baru saja duduk mau mengerjakan tugas kantor hp sudah berbunyi kalo gak orang tua murid ya muridnya sendiri memastikan jadwal les nanti sore. agak siang sedikit bunyi lagi satu atau dua murid meminta pendapat tentang soal. semuanya tak ada masalah karena gue tau konsekuensi memiliki dua profesi. pagi sebagai abdi negara, sore hingga malam gue sebagai pengajar matematika. Dalam satu minggu gue bekerja 9 jam setiap harinya di kantor, sore hingga malam gue pergi mengajar 2 murid yang kadang rumahnya saling berjauhan. 8 murid lainnya akan gue temui setiap weekend tiba. sesak…Ya sesak karena di antaranya gue tetep harus menyisipkan waktu untuk keluarga dan teman2. Bukan saja mereka membutuhkan mereka, gue jauh lebih membutuhkan mereka.

Continue reading

LIMA BELAS RIBU PERAK

image

Siang ini saat beresin kamar gue nemuin catatan keuangan gue di sebuah buku agenda. Sepertinya ini catatan sekitar tahun 2003 yang artinya pada saat menulis catatan itu gue masih seorang mahasiswa semester 6 atau 7. Kayaknya waktu itu gue lagi jalanin resolusi untuk lebih tertib secara keuangan baik mencatat uang masuk maupun uang keluar untuk gue telaah setelahnya atau sebagai peluit kalo keborosan kumat.

Sedikit senyum bacanya karena yang gue catat sampe yang sepele-sepele. Tercatat sisa harta (begitu gue menyebutnya) pada awal catatan adalah 198.000 lalu bertambah setelah uang saku gue hari itu sebesar 15.000 rupiah masuk. Wah 12 tahun lalu uang jajan gue 15.000 sehari dan itu harus cukup untuk operasional gue sebagai mahasiswi yang kampusnya jauh dari rumah. Bertahun – tahun udah bisa cari uang sendiri dan mampu membiayai hidup sendiri catatan ini bikin termenung juga berapa kali inflasi yang gue lewati ya dan udah berapa fase hidup yang udah gue lewati.

image

Kala itu gue bergantung hidup dari uang 15.000 per hari yang dikasih oleh orang tua dan harus cukup. Sepertinya tahun itu dengan uang 3000 gue udah bisa makan dan biaya transportasi gue sekitar 7000 – 8500. Ampe uang 2000 upah ngerokin (sepertinya bapak) gue catat sebagai pemasukan. Dan ada biaya telp umum 100 perak. Hahahahaha catatan dari masa lalu gini udah kayak mesin waktu. Kertas bisa menyimpan sesuatu yang di ingatan kita bahkan udah samar dan terlipat-lipat ingatan baru. Menyenangkan beresin kamar siang ini gue seperti diingatkan lagi seperti apa kondisi gue di masa lalu.

Jasa orang tua tiada batasnya, mereka menyokong kita di saat kita belum mampu berdiri sendiri. Memastikan kita tercukupi meski pasti dalam keterbatasan mereka sendiri. Dan sekarang gue berdiri sebagai anak yang udah dewasa dan mampu membiayai diri sendiri. Gue jadi terharu.

Ebetewe, kalo sekarang uang 15.000 dipake naek gojek sekali selesai bahkan gue gak akan bisa pulang 🙂