Bapakku dan Cucunya

rafaBelakangan ini liat dan menyaksikan perkambangan keponakan saya yang berusia 1,5 tahun suka bikin hati ngenes pedes-pedes gitu. Disatu sisi saya gembira dan terhibur melihat perkembangannya, tapi disisi lain saya suka maratapi dan sedih karena bapak saya tak lagi menyaksikan semua ini.

Saat hidupnya bapak sayang sekali sama cucu pertamanya ini. Saya ingat bagaimana bapak duduk dan berdiri lalu mondar mandir menanti kelahiran di ruang bersalin. Saya ingat ketika kami sekeluarga lengkap menggendong dan membawa Rafa pulang ke rumah.

Bapak yang tampak garang dari luar itu lembut memperlakukan cucunya. Sepertinya terjadi bagi semua kakek nenek, tampak lebih sayang cucu daripada anak🙂 Saya melihat bagaimana bapak menikmati kelucuan cucunya. Beliau cerewet jika cucunya sakit, beliau tertawa ketika melihat cucunya bertambah pintar.

Kenangan paling dalam adalah di acara ulang tahun Rafa yang pertama. Bapak saya sehat kala itu namun ia menangis sesegukan ketika memberi sambutan dan memimpin doa. Pertama kalinya saya melihat bapak saya menangis, dan ini malah di depan banyak orang. Suasana kala itu mendadak hening, lama menunggu bapak saya bisa mengendalikan perasaannya.

Bapak saya mendoakan rafa sehat dan pintar, banyak rezekinya dan jadi anak baik. Sering loh dia berujar kalo rasanya dia pesimis melihat rafa sampai besar dan itu terbukti. Bapak meninggal 3 bulan setelah hari itu.

Baru terfahami semua kata – kata bapak sebelum berpulang. Dia iseng bilang Rafa disunatin sekarang aja mumpung masih ada beliau. katanya entah akan ngalamin atau tidak nanti nyunatin rafa udah gede. Mamah saya selalu diingatkan untuk mengawasi teteh saya mendidik Rafa. Katanya jangan sampai salah asuh.

Bapak masuk RS pertama kali di Bulan Oktober karena jatuh terkena serangan jantung saat berjalan – jalan bawa rafa dalam roda bayi, Bapak juga sakit dada dan akhirnya masuk ke RS kedua kalinya di bulan November setelah paginya merasa sehat dan gendong rafa sambil nyanyi2.

Sedih dan kadang mentok di kepala serasa tak habis pikir, bagaimana bapak pergi dan akhirnya tak bisa melihat semua ini. Sakit kalo ingat Rafa tidak akan mengingat sama sekali seseorang yang sangat menyayanginya.

Assalamualaikum bapak, apa kabar?

Berdiri dimana dan menyaksikan kami menjalani hidup tidak? apa bapak melihat hidup kami 3 bulan ini tanpamu? Kami berusaha membuatnya tampak normal walau ada satu tempat di hati dan di ruangan rumah ini kosong tanpamu.

Bapak lihat tidak rafa? dia sudah bisa berjalan lancar. Bapak pernah melihatnya tertatih lalu jatuh bukan? dia penakut dan tidak ingin mencobanya lagi dan baru kembali jalan setelah bapak 2 bulan tiada. Dia lucu sekali pak, aktif dan sehat walau perawakannya kecil. Cerewet dan suka meniru kata2 yang didengarnya.

Rafa suka air pak, bapak pernah kan ya menemaninya berenang di kolam yang saya beli. Dia takut saat itu namun sekarang justru akan menangis keras jika diangkat dari air. Saya membawanya renang pak, dan dia tidak mau berhenti.

Dia masih suka memanggil “abah..abah..” dan mulai berpura-pura meneleponmu dengan HP yang ia temukan. Dan saya tau seiring waktu ia akan tak ingat lagi. Semoga dari tempat bapak berdiri bapak bisa melihat sukacita dan keriangan hidup kami. Dunia tak akan pernah sama lagi, namun hidup kami harus terus berjalan.

Mendoakanmu sepanjang waktu, selamanya tak akan pernah lupa. suatu waktu nantin saya yakin kehilangan dan rindu akan menjadi sahabat waktu.

kami semua sayang satu2nya cucu yang bapak kenal ini. semoga bisa mewakili kasih sayang bapak yang mungkin dia tak akan sempat mengingat dan melihatnya. 

2 thoughts on “Bapakku dan Cucunya

  1. Saya menangis membaca tulisan anda, sayapun mengalami hal yg sama. Bapak saya begitu girangnya ketika mengetahui bahwa istri saya melahirkan anak perempuan (karena semua anak bapak adalah laki-laki) sampai beliau berucap, akan belikan cincin dan anting emas kalau anak saya benar-benar perempuan. Saya tinggal di depok (jawa barat) dan bapak saya di jawa tengah, dengan jarak sejauh itupun, bapak rela sering-sering ke depok dg lama perjalanan semalam penuh dg kereta api atau bis demi bertemu anak saya, dan bila bapak tau bahwa saya dan anak istri akan pulang kampung, beliau selalu susah tidur beberapa hari sebelumnya karena gelisah menunggu saat bertemu anak saya. Beliau begitu sayang pada anak saya, tetapi itu hanya berlangsung selama 2 tahun, ketika beliau harus meninggalkan kami untuk selamanya, masih terngiang di telinga saya bagaimana suara bapak yang tak pernah lelah mengingatkan saya untuk selalu menjaga anak saya dg baik, masih terbayang di mata bagaimana bapak saya rela melakukan apapun asal cucunya senang. Ya allah, berikanlah tempat yang lapang bagi bapak kami….salam kenal (bayu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s