Hidup Bergantian

rafa

Satu waktu saya menemani keponakan saya satu-satunya tidur siang. Keponakan ini adalah anak dari kakak perempuan saya. Sesekali ia bergerak dan menguletkan badannya. Saya pun yang disampingnya mengusap-usap punggungnya agak keponakan saya tenang.

Entah bagaimana sambil mengusap punggung keponakan saya mendadak teringat uwa, kakek, nenek, bahkan bibi sayang yang sudah berpulang lebih dahulu ke pangkuan Illahi.

Hati saya bercakap sendiri bahwa para “tetua” dalam keluarga itu tidak sempat mengenal keponakan saya ini. Karena ia lahir setelah mereka tiada. Lalu saya membayangkan ketika para almarhum masih hidup, bagaimana mereka berinteraksi dengan saya yang saat itu mungkin masik kanak-kanak atau remaja belia. Pernahkah mereka terpikirkan bahwa mereka akan mendahului saya? meninggalkan dunia dan keluarga hidup tanpa mereka. Apakah manusia yang telah mati masih memiliki perasaan khawatir akan yang hidup? hidup baikkah? berkecukupan kah? Pertanyaan – pertanyaan semacam itulah yang hadir saat itu. Bagi saya yang hidup, saya selalu berusaha berkeyakin bahwa para alhmarhum sudah tenang di sisi Allah YME dan mendapat tempat terbaik.

Continue reading

Advertisements

#IndonesiaJujur : Menakutkan Saat Kecurangan Dianggap Wajar

Mencontek, pernahkah saya? tentu saja pernah. Memberikan contekan, pernahkah saya? tentu saja pernah. Bahkan dicontek paksa pun pernah. Bagaimana rasanya? tentu saja mencontek memunculkan perasaan malu dan gak enak walaupun secara terpendam. Memberikan contekan bagaimana rasanya? tentu saja menghadirkan perasaan bersalah dan ketidakrelaan.

Pernah saya mencontek di satu ulangan harian bahasa Indonesia saat sekolah. Dari begitu banyak teman yang mencontek, ternyata sayalah yang ketahuan oleh guru. Mungkin saya tidak terlalu ahli melakukannya, dan memang belum mendapatkan apa-apa dari buku yang saya intip. Hari itu saya ditertawakan sekelas, ibu guru menegur saya dengan baik. Saya tentu saja malu. Udah jarang-jarang melakukannya kok ketahuan sekalinya nyontek. Bagaimana bisa orang lain begitu lihai melakukannya? Saya gugupnya luar biasa sampai ketahuan.

Dari pengalaman itulah saya mendapat “teguran”. Sepertinya mencontek bukan jalan saya. Perasaan yang ditanggungnya lebih berat dari mendapat nilai buruk sekalipun. Setidaknya saya lebih beruntung, saya besar , sekolah dan mendapat pesan yang wajar, bahwa menyontek dan curang adalah hal tidak jujur yang memalukan.

Continue reading