My lowest Point 

Satu dua bulan ke belakang, beberapa teman berkomentar tentang tatapan mata gue yang menurut mereka full of sorrow terutama beberapa pekan ke belakang. Yang bertanya ada yang gue tanggapi dengan senyum ada yang perlu gue jawab meski tidak panjang – panjang. Ada yang bertanya saat dalam perjalanan di dalam mobil, ada yang bertanya via WA hanya karena liat foto gue di FB (padahal fotonya lagi senyum manis loh dengan rambut rapi).

Yang bertanya tentu temen2 yang main sesehari dengan gue dan gak ketinggalan temen2 lama yang udah kenal gue luar dalam. Ya, sepertinya tatapan mata gue mengganggu penglihatan beberapa temen. Sekarang ini lah gue kayak dikasih bukti betapa ungkapan “mata adalah jendela hati”  itu benar adanya. Susah bener nutupinnya memang begitu adanya.

Satu dua temen bersikap manis ngadepin gue yang cranky, emosional, mellow dan bahkan tiba2 berkaca-kaca tanpa sebab. Bersikap manis karena meski mereka bertanya gue tidak dipaksa untuk menjawab. Temen banyak tapi gue memilah kepada siapa gue bercerita. Cerita banyak tapi gue pun memilah mana yang bisa diceritakan dan tidak.

Seorang teman baik yang belasan tahun berteman dekat dan pernah lewatin banyak moment senang dan sedih dalam hidup gue ikut  berkomentar. Katanya apapun yang membuat gue sedih, sepertinya ini yang paling berat dari yang sebelumnya pernah terjadi. Tapi masih menurut dia, sepertinya ini juga jadi yang paling cepat recovery karena perlahan tapi pasti gue tampak mulai menertibkan diri.

Wel…

Gak banyak yang bisa gue jelasin selain mengatakan bahwa gue sedang melewati sesuatu yang gak siap gue hadapi. Bukan berat dan tidaknya, tapi gue tidak siap menghadapi hal seperti ini (lagi). Ada hari dimana satu per satu keyakinan kita runtuh. Ada hari dimana segala sesuatu yang sudah mengakar kuat tiba2 dirabut paksa. Ada hari dimana akal sehat kita mogok bekerja sehingga kita mengalami banyak kegagalan menelan suatu kenyataan dengan baik.

Tiba – tiba aja kita kehilangan keyakinan baik terhadap orang lain maupun diri kita sendiri.

Sialnya sesuatu terjadi berbarengan dengan banyak hal lainnya secara bersamaan. Perubahan suasana kerja, perubahan formasi teman kerja, lokasi kerja, status pekerjaan dan banyak perpisahan. Gue juga menyerap kesedihan dan kecemasan sekitar. Bergulung – gulung tercampur aduk. Dan gue tak siap karena jika boleh jujur, semua terjadi bersamaan di titik terlemah gue.

Gue sadar gue terganggu secara emosi. Tersenyum tapi dalam hati sedih, tertawa tapi dalam hati sakit. Gue sempet mengalami gangguan tidur dan dua – tiga kali gangguan nafas. Sekali sempat gue menyalahkan diri gue sendiri karena tidak bersiap dengan baik menghadapi beberapa kenyataan. Seakan imunitas gue hilang, banyak hal negatif yang bertengger.

Amarah, sedih, kecewa, perasaan gagal, tak bernilai, curiga, insecure, dendam,  Merasa sia – sia, merasa ditinggalkan, tidak diperhitungkan, dimanfaatkan bahkan dibuang.

Disaat imunitas psikis turun, kesedihan diri sendiri dan kesedihan orang lain udah kayak virus yang menyerang habis2an dan tiba2 aja kita kehilangan takaran tentang porsi tepat cara kita menghadapi satu per satu.

Betul jika  bilang mungkin ini salah satu my lowest point dalam hidup. Dan ketika kita merasa terjerembab jatuh, kita perlu ingat bahwa gak ada yang mampu menolong kita selain diri kita sendiri. Dan gue berterima kasih ke diri gue sendiri karena meski bisa dikatakan kecolongan, setidaknya gue berusaha keras memperbaikinya.

Dan gue merindukan the person I used to be.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s