MENGENANG BAPAK DI IDUL ADHA

Embeeeeee….. Embeeeeee……. Terdengar suara domba di sisi jalanan malam dimana saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis mengajar. Kalo aja gak denger suara takbir saya mungkin lupa sesaat kalo malem ini adalah malam takbiran jelang Idul Adha besok. Mata saya menatap kambing / domba sepanjang jalan. Ya tahun ini saya tidak berkurban seperti tahun sebelumnya karena di saat yang bersamaan ada pengeluaran yang amat besar yang tidak kalah penting.

Idul adha mengingatkan saya kepada almarhum bapak. Sepanjang perjalanan pulang saya terdiam dan rekaman idul adha bapak yang terakhir berputar terus di pikiran saya. Idul Adha tahun 2011, saya gemas dan jengkel kepada bapak karena keras kepalanya. Dia adalah pasien yang baru seminggu keluar dari rumah sakit dan 9 hari dirawat dengan 3 hari pertama mesti di ICU karena terkena serangan jantung medium.

Continue reading

Tahun Ketiga dan Gue Baik – Baik Aja

image

Hari ini, 14 Desember tepat 3 tahun lalu gue kehilangan bapak gue yang pada hari itu wafat karena sakitnya.Rasa duka barangkali udah terlalu banyak gue sampaikan baik ke teman maupun tercurah dalam tulisan. Hari ini mari mengingat – ingat momentum hari itu dan masa – masa sulit setelahnya dari sudut hati yang tenang.

Kehilangan bapak gue barangkali adalah pukulan hidup pertama dan terberat yang gue alamin. Untuk gue yang sebelumnya belum pernah mengalami kehilangan yang berarti, ditinggal wafat oleh bapak bisa jadi cobaan terberat.
Continue reading

Penyambung Rindu

Barangkali rindu yang tak akan pernah sirna adalah rindu kepada orang tua kita yang telah tiada. Itu karena semakin lama waktu berjalan, perasaan seseorang kepada orang tuanya (umumnya) tak pernah sirna, tak pernah terlupakan, tak pernah surut. Tidak seperti cinta kepada lawan jenis yang barangkali bisa saja surut tergerus waktu, kepada orang tua perasaan seorang anak memiliki siklusnya sendiri.

Saya adalah satu dari sekian milyar anak manusia yang sudah merasakan kehilangan orang tua (bapak). Dalam kasus saya kehilangan ini terjadi akibat datangnya maut, hadirnya kematian yang memisahkan.

Continue reading

Apa Kabar Ragamu, Bapak?

Malem ini saya tersasar membaca salah satu kolom di media yang dipublish beberapa bulan lalu. “Menggali Makam Ibu – A. Syafii Maarif”. Tulisannya dalam berkisah enak dibaca. Menelusuri kalimat dan per katanya membuat hati kita ikut mengalir ke setiap cerita.

Tak sempat melihat ibu yang wafat saat Syafii Maarif balita lalu takdir menggariskan 75 tahun sejak wafatnya, anak yang ditinggalkan saat masih kecil ini menggali dan memindahkan makam sang ibu dengan alasan tertentu.

Tak ingat seperti apa ibu, saat melihat tulang belulang di makam itu lah menjadi pertemuan pertama beliau melihat wujud sang ibu. Mata saya berkaca-kaca dan tertegun mengikuti kisahnya.
Continue reading

Rindu Bapak Edisi Dengerin Broken Vow

I let you go….I let you fly.. how do I keep on asking why…

Lagu Broken Vow – Josh Groban ini sekalipun liriknya gak berkaitan tapi dengerinnya teringat perpisahan ama alm bapak. Lagu ini mengalun sepanjang perjalanan konvoi menuju pemakaman mengantarnya ke peristirahatan terakhir.

Malam ini seakan sengaja ingin menyayat hati sendiri, saya mendengarkannya beberapa kali. Seperti biasa, air mata pun mengalir deras. Ini seperti lagu pengantar perpisahan.

Rindu sekali ke alm bapak. Sebegini lemahkah saya menyembuhkan diri sendiri, tapi rasanya saya orang paling terluka atas kepergiannya.

Jauuuuh…..jauuuuuh….hilang dan tak nampak.

Kehilangan sosok bapak, kehilangan terbesar dan tersedih sepanjang saya hidup sampai saat ini. Rindu tak bertepi dan mungkin tak akan ada henti.

Kemana Bapak?

Coba tanya saya sampai saat ini apa hal paling menyedihkan yang pernah saya alami. Saya akan jawab pertanyaan itu dengan “kehilangan alm bapak di dunia ini dan berpisah alam tanpa pernah melihatnya lagi”.

Semakin lama waktu berlalu,semakin banyak tanya yang memenuhi kepala. KEMANA? DIMANA? BAGAIMANA BISA? KENAPA? BAGAIMANA CARANYA BERTEMU? :((

Belakangan bayangan bapak selalu memenuhi kepala saya. Semakin terbayang sosoknya saat masih ada, semakin sakit dada saya karena gak bisa melihatnya kemana pun mata saya memandang.

Rasanya seperti ribuan patah hati disatukan. Gak banyak kalimat pas untuk menggambarkan rindunya. Hanya ingin ia kembali dan ada.

Saya mencintaimu, bapak. Dengan segenap rindu yang nyaris membunuh ini.

Hujan Setahun Lalu

Semalam ini tenggorokan saya tercekat, hidung saya perih dan bulir-bulir air mata ini menetes dengan derasnya. Saya ingat sedang apa dan dimana saya malam jumat satu tahun lalu. Malam yang jauh berbeda.

Saya ada di Rumah Sakit dan gemeteran dan menangis seraya berdoa agar sakit alm bapak saya diredakan. Malam Jumat dengan hujan amat deras, alm bapak saya merintih-rintih kesakitan. Malam itu saya cuma mampu mundur beberapa langkah dan balik badan mencari tempat untuk berlari.

Hujan yang suaranya masih terbayang itu di mesjid rumah sakit lantai 2, saya duduk bersimpuh memohon dengan hati yang amat kecil berharap Allah meringankan sakit bapak saya yang dari magrib kesakitan.
Continue reading