KANGEN KUBIKEL KANTOR

Beberapa tahun lalu, dalam percakapan dengan teman gue bilang betapa gue ingin tau rasanya bekerja duduk di kubikel2 meja dan punya temen kerja di kiri kanan meja gue. Bayangin rasanya sibuk bekerja masing2 namun sesekali bisa menoleh dan ditoleh saling menyapa. 

Menurut bayangan gue kala itu,teman di kiri kanan meja tadi yang bisa gue sebut temen kantor. Sama mereka lah gue pergi makan siang di hari kerja lalu mengabari orang lain yang menanyakan kabar “oh ya sorry tadi gue lagi makan siang ama temen2 kantor”.  Sesederhana itu bayangan gue tentang bekerja di suatu kantor, punya kubikel dan menjadi bagian suatu circle yang dinamakan “teman kantor”. 

Dulu saat membayangkannya gue sedang berprofesi sebagai pengajar di sebuah kampus selama 8 tahun lamanya. Meski juga mempunyai teman sesama pengajar, tapi gue gak punya meja dan ruangan khusus bersama orang lain. Datang ke kampus, antara sarapan pagi atau makan siang di kantin atau menunggu di ruang dosen sambil bekerja. Sesekali aja dapat teman mengobrol itupun sesama dosen lain di sela2 mengajar dan tak seberapa lama kami akan mengisi kelas masing2.  

Sore hari gue mengajar les di suatu bimbingan belajar. Meski juga di sana gue punya banyak teman, suasananya nyaris serupa. Berbincang di sela mengajar tanpa memiliki ruang kerja dan kubikel gue sendiri. 

Bukan berarti tidak menyenangkan  toh pada saat itu gue punya teman makan siapa aja. Temen2 lama, temen di kampus,temen di bimbel. Tapi sensasi mempunyai kubikel dan sebutan temen kantor itu gak pernah terasa sahih gue cicip. 

Celotehan ingin punya kubikel di kantor ke wujud ketika 4 tahun lalu Allah mentakdirkan gue jadi PNS dan bekerja di sebuah kantor. Meski gak benar2 pake kubikel, seenggaknya gue merasakan punya meja sendiri dan bersebelahan meja dengan temen kantor lain. Dan gue pun tau rasanya pergi makan bareng2 temen kantor. 

Waktu selalu merubah banyak hal. Meski beberapa kali berpindah ruangan, berganti meja hingga terakhir kemarin berpindah lokasi kantor, kali ini perubahan kembali membawa gue ke “gak punya meja kantor” lagi. Seenggaknya status bekerja sekarang gak mengharuskan gue harus berada seharian di ruangan kantor dan duduk di belakang meja. Waktu membawa gue  kembali ke masa lalu. 

Siang jelang sore tadi, tiba2 gue merasa sepi. Rindu keriuhan ruangan kantor dan meja gue yang selalu dipenuhi benda2 penyaman keseharian gue. Rindu suasana pergi makan siang dengan temen kantor lalu kembali ke meja masing2. 

Hello benkie, nikmatilah. Ini baru permulaan. Yang menyenangkannya juga banyak bukan? 

Advertisements

KEMBALI KE SANGKAR 

Hari ini gue meliburkan diri dari pekerjaan (kecuali mengajar les di sore hari) dan memilih istirahat di rumah. Satu hari sebelumnya, gue sedikit berpikir bahwa gue butuh istirahat dan mundur sejenak serta membuat jarak diri gue terhadap interaksi – interaksi dengan orang lain.  

Beberapa waktu ini gue merasa banyak merasa dan berpikir negatif. Penyebabnya adalah gue yang kadang kayak spon ini serba menyerap perasaan dan suasana sekitar. Gak melulu mood jelek itu adalah gambaran sesuatu yang terjadi ke gue. Bisa aja mood gue terpengaruh oleh kejadian yang menimpa dan dialami orang lain atau suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Kadang gak berurusan langsung ke gue tapi suasana hati orang sekitar kesedot semua. 

Orang cemas, orang kecewa, orang cuek, orang seenaknya,  orang egois, orang resah apa aja mudah nyerep dan mempengaruhi suasana hati gue. Ketika input yang gue terima hal2 gak mengenakan, seringkali kesimpulan yang gue tarik juga gak baik. Negatif kemiring-miringan. 

Sebagian dari diri gue merasa mungkin benar suasana ada yang sedang tidak memuaskan, tapi pasti ada yang keliru jika semua hal tertelan negatif dan membuat gue kurang gembira. Pasti ada masalah di saringan diri gue. Bukankah lingkungan luar semestinya bukan jadi satu2 nya penentu suasana hati gue? Dalam diri kita sendiri lah yang semestinya lebih dominan. 

Jadi gue meliburkan diri. Dimulai dengan tiduran lagi sehabis solat subuh lalu duduk sarapan pagi di depan televisi. Sialnya berita TV didominasi oleh berita artis2 tertangkap karena penyalahgunaan narkoba. Gue pun berpindah channel berharap terhindar dari berita2 kurang asik. 

Lama sekali rasanya gue tidak melakukan ini. Menghabiskan banyak waktu di rumah. Bukan karena gak ada kerjaan atau acara. Tapi memang ingin menghabiskan waktu di rumah. Dan ini menyenangkan. 

Gue santai di depan rumah gak pake mandi pagi lalu nego belanjaan sama tukang sayur. Kembali ke ruang TV lalu ngemilin buah2an sambil ngobrol sama mamah. Lalu liat ponakan pergi ke sekolah. Gue juga mencuci banyak baju. Dari baju yang sudah menumpuk di mesin cuci sampai baju2 menggantung  yang gue sweeping sepenjuru rumah. 

Gue mengumpulkan gelas piring bekas sarapan lalu mulai mencuci piring di dapur. Gue beresin kamar dan menata benda2 yang tidak masuk lemari. Menyapunya hingga bersih. Menarik sprei nya hingga kencang dan rapi. Angkat jemuran lalu Jemur lagi yang lain. 

Gue menata aksesori kalung gue yang berserakan, merapikan kotak2 make up dan buku2 di lemari kamar . Juga menata cemilan di toples2 di meja depan Tv.  Sampai akhirnya gue masak di dapur. Gue mengiris bawang dan cabe untuk masak tumis jamur. 

Capek? Iya tapi tiba2 gue merasa mengistirahatkan diri. Sejenak hanya fokus sama kegiatan2 domestik. Tidak banyak merasa, tidak banyak berpikir dan tidak banyak mendengar. Hidup hanya sesederhana diri gue dan tugas2 di rumah. 

Pekerjaan2 rumah ini bukan berarti gak pernah gue kerjain. Tapi sejak bekerja resmi jadi abdi negara dan mempertahankan mengajar, gue jarang sekali di rumah seharian. Datang dan pulang pun pasti udh dalam kondisi Kelelahan. 

Gue menyukai keputusan gue untuk rehat hari ini. Semoga esok hari saringan diri gue terhadap situasi dan kondisi lingkungan sekitar cukup baik. Satu pinta gue ke diri sendiri, kembali lah berpikir sederhana dan merasa secara sederhana. Kembali mampu menempatkan diri di sudut pandang – sudut pandang positif. Menjauhkan diri dari asumsi2 yang menggiring ke penyimpulan yang keliru. 

Semoga hari esok lebih baik. Hari dimana gue gak mudah merasa takut jika orang lain akan mengecewakan. Ketika gue merasa ringkih, gue tau kemana gue harus kembali. Beristirahat di sangkar. *_*

SPLIT – Saat Kau Memiliki 23 Kepribadian berbeda dalam 1 Tubuh 

Semalam gue iseng cari tau tentang Dissociative Identity Disorder (DID) hanya karena gak sengaja liat istilah itu lewat di wall Facebook gue. Menyasar ke sebuah forum, ke ulasan yang ditulis oleh orang lain hingga ke beberapa video yang disebar di youtube.

Jika gangguan seperti  bipolar, depresi bahkan schizophrenia yang lebih familiar dalam perbincangan kita sehari – hari , namun tidak dengan DID yang mungkin juga baru kita denger istilahnya. DID bukan hanya gangguan terjadinya kepribadian ganda yang terjadi pada seseorang. Menurut yang gue baca penderita DID bisa memiliki belasan, puluhan bahkan ratusan kepribadian yang berbeda dalam satu tubuh yang dimilikinya.

Continue reading

My lowest Point 

Satu dua bulan ke belakang, beberapa teman berkomentar tentang tatapan mata gue yang menurut mereka full of sorrow terutama beberapa pekan ke belakang. Yang bertanya ada yang gue tanggapi dengan senyum ada yang perlu gue jawab meski tidak panjang – panjang. Ada yang bertanya saat dalam perjalanan di dalam mobil, ada yang bertanya via WA hanya karena liat foto gue di FB (padahal fotonya lagi senyum manis loh dengan rambut rapi).

Yang bertanya tentu temen2 yang main sesehari dengan gue dan gak ketinggalan temen2 lama yang udah kenal gue luar dalam. Ya, sepertinya tatapan mata gue mengganggu penglihatan beberapa temen. Sekarang ini lah gue kayak dikasih bukti betapa ungkapan “mata adalah jendela hati”  itu benar adanya. Susah bener nutupinnya memang begitu adanya.

Continue reading

LIMA TAHUN BAPAK TIADA 

Hari ini tepat Rabu 14 Desember lima tahun lalu, dalam sakitnya bapak minta istirahat di kamar gue setelah sholat dzuhur. Gak lama merasa sakit lalu dibantu duduk di sisi tempat tidur dan bapak gue minta pake sendal katanya dia akan pergi jauh. Sambil memeluk mamah gue bapak bilang “sudah ada yang datang”. Semakin kuat meluk sambil bilang “Ya Allah, jangan terlalu sakit”. Gak lama kemudian bapak lemas terkulai dan berpulang selama – lamanya dengan dituntun mamah gue yang tegar. 

Momentum kepergian yang diceritakan mamah karena di saat yang sama gue sedang berlari pulang karena setelah malam begadang menjaga bapak, pagi saya menjaga keluarga saya lainnya yang dirawat di rumah sakit. Bapak gue rebah melintang di tempat tidur gue yang besar. Di telinganya mamah berbisik “yang ikhlas ya pak”. Air mata bapak menetes lalu dia pergi dan gak kembali. 
Kehilangan luar biasa yang pertama gue alami. Beberapa waktu dari itu sesekali gue tidur di kamar persis dengan posisi  bapak gue membujur kaku ketika gue datang. Membayangkan Momentum terakhir beliau ada. 

Lima tahun berlalu dengan cepatnya. Rindu tak jua pernah surut. Melayangkan pandang kemana pun wujudnya tak pernah kembali tampak. Semoga Allah mengabulkan setiap doa yang gue kirimkan untuk menjadi kebaikan bagi almarhum. 
Rindu… 

Train To Busan 

Busan adalah salah satu kota terbesar di Korea Selatan setelah Seoul. Memiliki alam perpaduan gunung dan laut menjadikan Busan salah satu kota pelabuhan yang sibuk sekaligus kota tujuan pariwisata Korea. Dengan menggunakan kereta cepat, dibutuhkan 2 jam aja menjangkau kota Busan dari Seoul. Salah satu pantainya yang terkenal, yaitu pantai Haendaeu pernah dijadikan judul film korea tentang bencana alam tsunami. 

Liat trailernya dilayar bioskop beberapa waktu lalu ketika pergi nonton dengan seseorang, film Train To Busan masuk ke waiting list film yang ingin dan akan ditonton. Meski belum pernah nonton film korea langsung di bioskop, liat Gong Yoo yang jadi masalah pemeran utamanya cukup dijadikan motivasi dan dorongan untuk nonton. 
Gong Yoo si lesung pipi yang gemesin di drama Coffee Prince di film ini berperan sebagai Seok Woo seorang fund manager yang sibuk bekerja dan jarang menyisihkan waktu untuk putri semata wayangnya Soon Ah yang diasuh sang nenek setelah Seok Woo berpisah dengan sang istri. Suatu hari Soon Ah bersikeras ingin mengunjungi sang ibu di hari ulang tahun meskipun sang ayah membujuknya pergi di hari lain saat ia tidak terlalu sibuk. Bersikeras dengan keinginannya, Seok Woo pun pergi mengantar anaknya karena tak tega anaknya pergi naik kereta cepat sendirian. 

Ketika kereta cepat bersiap untuk berangkat, tanpa diketahui petugas naiklah seorang perempuan muda dalam kondisi terluka yang kemudian disadari sebagai seseorang yang terluka dan terinfeksi karena gigitan zombie. Lalu bermetamorfosa menjadi zombie itu sendiri dan mulai menginfeksi satu per satu penumpang di kereta. (jangan tanya gimana asal muasalnya ada zombie ya, serius gak ngeh) 

Train To Busan film horor campur aksi yang sepanjang film menceritakan bagaimana Seok Woo mempertahankan hidup dirinya dan sang anak untuk tetap selamat sampai tiba di Busan bersama penumpang kereta lainnya. Sementara di luar dan di beberapa kota kerusuhan akibat zombie ini makin meluas, tular menular infeksi para zombie di dalam perjalanan kereta menjadi cerita tersendiri yang menarik. 

Ketika sebagian bahkan nyaris semua penumpang satu per satu berubah menjadi zombie dan mulai brutal, sisi heroik Seok Woo sebagai seorang ayah mempertahankan hidup anaknya terus jadi cerita utama sepanjang film. Di sisi lain juga terangkat hubungan emosional lain sepanjang film seperti suami dan istrinya yang sedang hamil, dua nenek adik kakak yang saling menyayangi meski akhirnya tak Selamat hingga kesetiakawanan beberapa remaja dari grup pemain softball. 

Silahkan penasaran siapa yang dipastikan selamat hingga akhir film. Karena sejarah mengatakan dari drama2nya, Korea paling piawai bikin ending cerita yang unpredictable bahkan sad ending. Yang jelas capek sepanjang film disuguhin zombie2 yang penuh luka dan darah mengejar para pemeran utama. Film yang pastinya digarap cukup serius mengingat banyaknya pemeran yang terlibat dan efek2 film yang bikin semua adegan terasa nyata. 

Di akhir film ada yang bisa kita renungi betapa sebagai manusia yang hidup bersama orang lain, kita selalu memiliki pilihan untuk menjadi pribadi yang mengedepankan kebaikan dan kepedulian kepada orang lain atau menjadi seseorang yang hanya memikirkan diri sendiri. Ketika kita memutuskan menjadi orang yang baik dan peduli menolong orang lain, seringkali kebaikan itu kembali menjadi kebaikan orang lain yang berbalik ke kita. Meskipun ada juga yang berujung celaka ketika yang kita tolong justru orang egois yang mementingkan diri sendiri. 

Di akhir film kita diajak memutuskan jika berada dalam situasi yang mirip kita akan memilih menjadi orang yang seperti apa. Apapun yang kita pilih, pastinya akan mengubah apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya. 

Film ini aman untuk anak2 jika diliat dari gak adanya adegan mesra di sepanjang film. Tapi Entah luka2 dan darah para zombie serta adegan aksi yang keras apa cocok jika film ini ditonton oleh anak2. 

Yang jelas gue seneng filmnya si Gong Yoo udah ke ceklis dari list. Semoga cerita zombie ini hanya ada di film *_*

BAJU ALMARHUM BAPAK

Malem tadi sesampenya gue di rumah gue dipanggil mamah gue ke ruang tamu. Katanya :”udah ya Din, itu baju2 alm bapak sisanya 2 karung di atas dikasihin. Nanti dibawa ke kampung orang itu pasti lebih manfaat dibagiin ke orang lain”.

….. Gue tiba2 diam…

coba inget2 apa aja yang ada di dalam karung. 4,5 tahun ditinggal bapak, gue ngelepas barang2nya sedikit – sedikit.
“duuuh ini topi kesukaannya” (gak boleh di kemana-mana in)
“ini sarung yang paling dia sering pake kalo lagi nonton tv (simpen)
“mah ini jaket kulit Dina yang simpen ya… “(iya)

Dua karung terakhir pakaian yang sepertinya terus gue undur2 pelepasannya. Dan hari ini semua diserahkan ke orang lain tanpa sempet gue sortir lagi barangkali ada yang paling gue ingin simpan.

Terkadang gak merasa cukup menyimpan kenangan di hati dan kepala, kita suka melekatkan kenangan2 akan sesuatu pada benda2 dan tempat2 khusus. Dalam hal ini gue punya sisi sentimentil akut apalagi jika barangnya bersejarah. Gue inget beberapa pekan setelah bapak gak ada kakak laki2 gue mutusin bawa tabung oksigen bapak ke rumahnya untuk keperluan ipar gue yang bidan. Gue berat lepasin tabung itu meski gue bantu turunin lewat tangga. Gue liatin sampe bener2 dimasukin ke mobil.

Di beberapa malam sulit, cuma ada bapak yang sesak bersama gue ditemenin ama tabung itu. Rasanya tentu konyol merasa sedih berpisah ama tabung oksigen. Tapi beberapa hal emang sulit difahami. Hohoho

Ketika di suatu waktu memutuskan mengganti sofa, kursi lama yang rusak dibuang tapi satu kursinya gak terangkut sekaligus dan beberapa hari di sisi rumah kehujanan. Gue dalam hati komentar “butut juga itu kursi tempat bapak duduk. Mah kursinya kehujanan mah..”

Malem ini lepas lagi itu baju2 dan topi. Rupanya gue hanya akan disisakan sebuah jaket kulit.

Ah sisi sentimentil ini kadang bikin segala sesuatu jadi penuh drama *_*