BATAGOR Si Baso Tahu Goreng

This slideshow requires JavaScript.

Malam hari kapan sepulang kerja yang kemalaman, setibanya di rumah saya yang saat itu belum makan malam mulai dilintasi dengan jenis – jenis makanan yang rasanya enak di santap saat itu. Sehabis hujan kadang perut kita berisik nyebutin ragam kudapan.

Saat itu yang terlintas adalah batagor. Tetiba kebayang gerakan penjualnya ngiris – ngiris batagor yang ditusuk garpu oleh tangan kiri sementara pisau ditangan kanan mengiris – iris ke ukuran lebih kecil. Kemudian dibumbui bumbu kacang, ditetesin jeruk limau dan pake saos pedas.

Continue reading

Advertisements

KANGEN KUBIKEL KANTOR

Beberapa tahun lalu, dalam percakapan dengan teman gue bilang betapa gue ingin tau rasanya bekerja duduk di kubikel2 meja dan punya temen kerja di kiri kanan meja gue. Bayangin rasanya sibuk bekerja masing2 namun sesekali bisa menoleh dan ditoleh saling menyapa. 

Menurut bayangan gue kala itu,teman di kiri kanan meja tadi yang bisa gue sebut temen kantor. Sama mereka lah gue pergi makan siang di hari kerja lalu mengabari orang lain yang menanyakan kabar “oh ya sorry tadi gue lagi makan siang ama temen2 kantor”.  Sesederhana itu bayangan gue tentang bekerja di suatu kantor, punya kubikel dan menjadi bagian suatu circle yang dinamakan “teman kantor”. 

Dulu saat membayangkannya gue sedang berprofesi sebagai pengajar di sebuah kampus selama 8 tahun lamanya. Meski juga mempunyai teman sesama pengajar, tapi gue gak punya meja dan ruangan khusus bersama orang lain. Datang ke kampus, antara sarapan pagi atau makan siang di kantin atau menunggu di ruang dosen sambil bekerja. Sesekali aja dapat teman mengobrol itupun sesama dosen lain di sela2 mengajar dan tak seberapa lama kami akan mengisi kelas masing2.  

Sore hari gue mengajar les di suatu bimbingan belajar. Meski juga di sana gue punya banyak teman, suasananya nyaris serupa. Berbincang di sela mengajar tanpa memiliki ruang kerja dan kubikel gue sendiri. 

Bukan berarti tidak menyenangkan  toh pada saat itu gue punya teman makan siapa aja. Temen2 lama, temen di kampus,temen di bimbel. Tapi sensasi mempunyai kubikel dan sebutan temen kantor itu gak pernah terasa sahih gue cicip. 

Celotehan ingin punya kubikel di kantor ke wujud ketika 4 tahun lalu Allah mentakdirkan gue jadi PNS dan bekerja di sebuah kantor. Meski gak benar2 pake kubikel, seenggaknya gue merasakan punya meja sendiri dan bersebelahan meja dengan temen kantor lain. Dan gue pun tau rasanya pergi makan bareng2 temen kantor. 

Waktu selalu merubah banyak hal. Meski beberapa kali berpindah ruangan, berganti meja hingga terakhir kemarin berpindah lokasi kantor, kali ini perubahan kembali membawa gue ke “gak punya meja kantor” lagi. Seenggaknya status bekerja sekarang gak mengharuskan gue harus berada seharian di ruangan kantor dan duduk di belakang meja. Waktu membawa gue  kembali ke masa lalu. 

Siang jelang sore tadi, tiba2 gue merasa sepi. Rindu keriuhan ruangan kantor dan meja gue yang selalu dipenuhi benda2 penyaman keseharian gue. Rindu suasana pergi makan siang dengan temen kantor lalu kembali ke meja masing2. 

Hello benkie, nikmatilah. Ini baru permulaan. Yang menyenangkannya juga banyak bukan? 

KEMBALI KE SANGKAR 

Hari ini gue meliburkan diri dari pekerjaan (kecuali mengajar les di sore hari) dan memilih istirahat di rumah. Satu hari sebelumnya, gue sedikit berpikir bahwa gue butuh istirahat dan mundur sejenak serta membuat jarak diri gue terhadap interaksi – interaksi dengan orang lain.  

Beberapa waktu ini gue merasa banyak merasa dan berpikir negatif. Penyebabnya adalah gue yang kadang kayak spon ini serba menyerap perasaan dan suasana sekitar. Gak melulu mood jelek itu adalah gambaran sesuatu yang terjadi ke gue. Bisa aja mood gue terpengaruh oleh kejadian yang menimpa dan dialami orang lain atau suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Kadang gak berurusan langsung ke gue tapi suasana hati orang sekitar kesedot semua. 

Orang cemas, orang kecewa, orang cuek, orang seenaknya,  orang egois, orang resah apa aja mudah nyerep dan mempengaruhi suasana hati gue. Ketika input yang gue terima hal2 gak mengenakan, seringkali kesimpulan yang gue tarik juga gak baik. Negatif kemiring-miringan. 

Sebagian dari diri gue merasa mungkin benar suasana ada yang sedang tidak memuaskan, tapi pasti ada yang keliru jika semua hal tertelan negatif dan membuat gue kurang gembira. Pasti ada masalah di saringan diri gue. Bukankah lingkungan luar semestinya bukan jadi satu2 nya penentu suasana hati gue? Dalam diri kita sendiri lah yang semestinya lebih dominan. 

Jadi gue meliburkan diri. Dimulai dengan tiduran lagi sehabis solat subuh lalu duduk sarapan pagi di depan televisi. Sialnya berita TV didominasi oleh berita artis2 tertangkap karena penyalahgunaan narkoba. Gue pun berpindah channel berharap terhindar dari berita2 kurang asik. 

Lama sekali rasanya gue tidak melakukan ini. Menghabiskan banyak waktu di rumah. Bukan karena gak ada kerjaan atau acara. Tapi memang ingin menghabiskan waktu di rumah. Dan ini menyenangkan. 

Gue santai di depan rumah gak pake mandi pagi lalu nego belanjaan sama tukang sayur. Kembali ke ruang TV lalu ngemilin buah2an sambil ngobrol sama mamah. Lalu liat ponakan pergi ke sekolah. Gue juga mencuci banyak baju. Dari baju yang sudah menumpuk di mesin cuci sampai baju2 menggantung  yang gue sweeping sepenjuru rumah. 

Gue mengumpulkan gelas piring bekas sarapan lalu mulai mencuci piring di dapur. Gue beresin kamar dan menata benda2 yang tidak masuk lemari. Menyapunya hingga bersih. Menarik sprei nya hingga kencang dan rapi. Angkat jemuran lalu Jemur lagi yang lain. 

Gue menata aksesori kalung gue yang berserakan, merapikan kotak2 make up dan buku2 di lemari kamar . Juga menata cemilan di toples2 di meja depan Tv.  Sampai akhirnya gue masak di dapur. Gue mengiris bawang dan cabe untuk masak tumis jamur. 

Capek? Iya tapi tiba2 gue merasa mengistirahatkan diri. Sejenak hanya fokus sama kegiatan2 domestik. Tidak banyak merasa, tidak banyak berpikir dan tidak banyak mendengar. Hidup hanya sesederhana diri gue dan tugas2 di rumah. 

Pekerjaan2 rumah ini bukan berarti gak pernah gue kerjain. Tapi sejak bekerja resmi jadi abdi negara dan mempertahankan mengajar, gue jarang sekali di rumah seharian. Datang dan pulang pun pasti udh dalam kondisi Kelelahan. 

Gue menyukai keputusan gue untuk rehat hari ini. Semoga esok hari saringan diri gue terhadap situasi dan kondisi lingkungan sekitar cukup baik. Satu pinta gue ke diri sendiri, kembali lah berpikir sederhana dan merasa secara sederhana. Kembali mampu menempatkan diri di sudut pandang – sudut pandang positif. Menjauhkan diri dari asumsi2 yang menggiring ke penyimpulan yang keliru. 

Semoga hari esok lebih baik. Hari dimana gue gak mudah merasa takut jika orang lain akan mengecewakan. Ketika gue merasa ringkih, gue tau kemana gue harus kembali. Beristirahat di sangkar. *_*

SPLIT – Saat Kau Memiliki 23 Kepribadian berbeda dalam 1 Tubuh 

Semalam gue iseng cari tau tentang Dissociative Identity Disorder (DID) hanya karena gak sengaja liat istilah itu lewat di wall Facebook gue. Menyasar ke sebuah forum, ke ulasan yang ditulis oleh orang lain hingga ke beberapa video yang disebar di youtube.

Jika gangguan seperti  bipolar, depresi bahkan schizophrenia yang lebih familiar dalam perbincangan kita sehari – hari , namun tidak dengan DID yang mungkin juga baru kita denger istilahnya. DID bukan hanya gangguan terjadinya kepribadian ganda yang terjadi pada seseorang. Menurut yang gue baca penderita DID bisa memiliki belasan, puluhan bahkan ratusan kepribadian yang berbeda dalam satu tubuh yang dimilikinya.

Continue reading

My lowest Point 

Satu dua bulan ke belakang, beberapa teman berkomentar tentang tatapan mata gue yang menurut mereka full of sorrow terutama beberapa pekan ke belakang. Yang bertanya ada yang gue tanggapi dengan senyum ada yang perlu gue jawab meski tidak panjang – panjang. Ada yang bertanya saat dalam perjalanan di dalam mobil, ada yang bertanya via WA hanya karena liat foto gue di FB (padahal fotonya lagi senyum manis loh dengan rambut rapi).

Yang bertanya tentu temen2 yang main sesehari dengan gue dan gak ketinggalan temen2 lama yang udah kenal gue luar dalam. Ya, sepertinya tatapan mata gue mengganggu penglihatan beberapa temen. Sekarang ini lah gue kayak dikasih bukti betapa ungkapan “mata adalah jendela hati”  itu benar adanya. Susah bener nutupinnya memang begitu adanya.

Continue reading

LIMA TAHUN BAPAK TIADA 

Hari ini tepat Rabu 14 Desember lima tahun lalu, dalam sakitnya bapak minta istirahat di kamar gue setelah sholat dzuhur. Gak lama merasa sakit lalu dibantu duduk di sisi tempat tidur dan bapak gue minta pake sendal katanya dia akan pergi jauh. Sambil memeluk mamah gue bapak bilang “sudah ada yang datang”. Semakin kuat meluk sambil bilang “Ya Allah, jangan terlalu sakit”. Gak lama kemudian bapak lemas terkulai dan berpulang selama – lamanya dengan dituntun mamah gue yang tegar. 

Momentum kepergian yang diceritakan mamah karena di saat yang sama gue sedang berlari pulang karena setelah malam begadang menjaga bapak, pagi saya menjaga keluarga saya lainnya yang dirawat di rumah sakit. Bapak gue rebah melintang di tempat tidur gue yang besar. Di telinganya mamah berbisik “yang ikhlas ya pak”. Air mata bapak menetes lalu dia pergi dan gak kembali. 
Kehilangan luar biasa yang pertama gue alami. Beberapa waktu dari itu sesekali gue tidur di kamar persis dengan posisi  bapak gue membujur kaku ketika gue datang. Membayangkan Momentum terakhir beliau ada. 

Lima tahun berlalu dengan cepatnya. Rindu tak jua pernah surut. Melayangkan pandang kemana pun wujudnya tak pernah kembali tampak. Semoga Allah mengabulkan setiap doa yang gue kirimkan untuk menjadi kebaikan bagi almarhum. 
Rindu…