BAJU ALMARHUM BAPAK

Malem tadi sesampenya gue di rumah gue dipanggil mamah gue ke ruang tamu. Katanya :”udah ya Din, itu baju2 alm bapak sisanya 2 karung di atas dikasihin. Nanti dibawa ke kampung orang itu pasti lebih manfaat dibagiin ke orang lain”.

….. Gue tiba2 diam…

coba inget2 apa aja yang ada di dalam karung. 4,5 tahun ditinggal bapak, gue ngelepas barang2nya sedikit – sedikit.
“duuuh ini topi kesukaannya” (gak boleh di kemana-mana in)
“ini sarung yang paling dia sering pake kalo lagi nonton tv (simpen)
“mah ini jaket kulit Dina yang simpen ya… “(iya)

Dua karung terakhir pakaian yang sepertinya terus gue undur2 pelepasannya. Dan hari ini semua diserahkan ke orang lain tanpa sempet gue sortir lagi barangkali ada yang paling gue ingin simpan.

Terkadang gak merasa cukup menyimpan kenangan di hati dan kepala, kita suka melekatkan kenangan2 akan sesuatu pada benda2 dan tempat2 khusus. Dalam hal ini gue punya sisi sentimentil akut apalagi jika barangnya bersejarah. Gue inget beberapa pekan setelah bapak gak ada kakak laki2 gue mutusin bawa tabung oksigen bapak ke rumahnya untuk keperluan ipar gue yang bidan. Gue berat lepasin tabung itu meski gue bantu turunin lewat tangga. Gue liatin sampe bener2 dimasukin ke mobil.

Di beberapa malam sulit, cuma ada bapak yang sesak bersama gue ditemenin ama tabung itu. Rasanya tentu konyol merasa sedih berpisah ama tabung oksigen. Tapi beberapa hal emang sulit difahami. Hohoho

Ketika di suatu waktu memutuskan mengganti sofa, kursi lama yang rusak dibuang tapi satu kursinya gak terangkut sekaligus dan beberapa hari di sisi rumah kehujanan. Gue dalam hati komentar “butut juga itu kursi tempat bapak duduk. Mah kursinya kehujanan mah..”

Malem ini lepas lagi itu baju2 dan topi. Rupanya gue hanya akan disisakan sebuah jaket kulit.

Ah sisi sentimentil ini kadang bikin segala sesuatu jadi penuh drama *_*

CEMBURU

Pagi tadi saat sarapan, kakak perempuan gue cerita kalo semalem dia memimpikan alm bapak. Di dalam mimpinya bapak sedikit menegur dan memberinya saran. Tapi kakak gue cerita dengan gembira seperti udah ketemu seseorang yang memang udah lama gak dia lihat. Mimpi ini datang setelah cukup lama dari mimpi dia sebelumnya. Entah kenapa kakak perempuan gue sering mimpiin alm bapak dan isi mimpinya mengomentari kehidupan sehari – hari. Seperti waktu gue ngecat rumah dan gak punya ide untuk berapa biaya yang gue perlu siapin untuk bayar tukang, malem itu kakak gue mimpi bapak mengomentari cat rumah bagian atas yang gak rapih. Juga nyuruh bayar sekian untuk tiga tukang. Semalem tadi dia mimpi bapak mengomentari obrolan gue dan keluarga saat makan malam.

Mimpi itu bunga tidur, yang muncul bisa siapa aja. Tapi andaikan saja orang yang pergi dari kita bisa muncul dalam mimpi seperti itu, tiba2 siang tadi gue merasa cemburu. Mengapa kakak gue lebih sering bertemu meski hanya dengan bayangan di mimpi. Padahal terkadang gue berpikir sepertinya gue orang paling terluka karena kehilangan bapak. Tak sehari pun.. Melupakannya. Lalu bagaimana kalo bapak yang melupakan gue….😦

OVER THINKING

image

Kita kadang terkejut saat menyadari begitu mudahnya diri kita terganggu. Cukup dengan terlalu banyak tidur, terlalu lama bermain gadget dan saat dalam posisi merebahkan diri tiba – tiba saja kita merasa diri kita kosong dan hampa. gue merasakannya di pergantian hari di akhir tahun kemarin. memutuskan istirahat (terlalu banyak istirahat) membuat kita terlalu banyak waktu untuk diam.

Pada saat diam itulah ketenangan yang semestinya muncul malah tergantikan dengan segala pikiran yang tiba-tiba berkecamuk. Dalam sebuah buku gue menemukan kalimat bahwa pada saat kita berusaha mengosongkan pikiran justru itu menjadi pemicu semua pikiran menjadi datang. Banyak diam justru memberikan kita waktu untuk berpikir terlalu banyak, mencemaskan segala sesuatu yang belum terjadi, menyesali yang pernah terjadi dan berasumsi bahwa orang lain melakukan sesuatu karena ini dan itu.

Continue reading

JEDA

image

Gue semalem ini baru selesai meneguk secangkir coklat panas. setelah selesai membereskan kamar lalu membersihkan diri gue baru sadar kalo esok pagi tibalah gue kembali ke kantor. Bukan hanya ke kantor, tapi artinya kembali ke rutinitas lainnya seperti mengajar belasan murid les selama seminggu sepulang kantor. 2015 bagi gue adalah tahun bekerja. Entah bagaimana awalnya tapi sepanjang tahun gue merasa kehilangan banyak waktu beristirahat. Istirahat yang gue maksud adalah bukan hanya merebahkan diri dan leyeh-leyeh di atas kasur, tapi gue butuh mengistirahatkan pikiran dan diri gue dari segala ketergesaan.

Rutinitas terasa selalu sama, bangun di pagi hari dan tergesa menembus jalanan pagi agar tidak terlambat masuk kantor. Baru saja duduk mau mengerjakan tugas kantor hp sudah berbunyi kalo gak orang tua murid ya muridnya sendiri memastikan jadwal les nanti sore. agak siang sedikit bunyi lagi satu atau dua murid meminta pendapat tentang soal. semuanya tak ada masalah karena gue tau konsekuensi memiliki dua profesi. pagi sebagai abdi negara, sore hingga malam gue sebagai pengajar matematika. Dalam satu minggu gue bekerja 9 jam setiap harinya di kantor, sore hingga malam gue pergi mengajar 2 murid yang kadang rumahnya saling berjauhan. 8 murid lainnya akan gue temui setiap weekend tiba. sesak…Ya sesak karena di antaranya gue tetep harus menyisipkan waktu untuk keluarga dan teman2. Bukan saja mereka membutuhkan mereka, gue jauh lebih membutuhkan mereka.

Continue reading

LIMA BELAS RIBU PERAK

image

Siang ini saat beresin kamar gue nemuin catatan keuangan gue di sebuah buku agenda. Sepertinya ini catatan sekitar tahun 2003 yang artinya pada saat menulis catatan itu gue masih seorang mahasiswa semester 6 atau 7. Kayaknya waktu itu gue lagi jalanin resolusi untuk lebih tertib secara keuangan baik mencatat uang masuk maupun uang keluar untuk gue telaah setelahnya atau sebagai peluit kalo keborosan kumat.

Sedikit senyum bacanya karena yang gue catat sampe yang sepele-sepele. Tercatat sisa harta (begitu gue menyebutnya) pada awal catatan adalah 198.000 lalu bertambah setelah uang saku gue hari itu sebesar 15.000 rupiah masuk. Wah 12 tahun lalu uang jajan gue 15.000 sehari dan itu harus cukup untuk operasional gue sebagai mahasiswi yang kampusnya jauh dari rumah. Bertahun – tahun udah bisa cari uang sendiri dan mampu membiayai hidup sendiri catatan ini bikin termenung juga berapa kali inflasi yang gue lewati ya dan udah berapa fase hidup yang udah gue lewati.

image

Kala itu gue bergantung hidup dari uang 15.000 per hari yang dikasih oleh orang tua dan harus cukup. Sepertinya tahun itu dengan uang 3000 gue udah bisa makan dan biaya transportasi gue sekitar 7000 – 8500. Ampe uang 2000 upah ngerokin (sepertinya bapak) gue catat sebagai pemasukan. Dan ada biaya telp umum 100 perak. Hahahahaha catatan dari masa lalu gini udah kayak mesin waktu. Kertas bisa menyimpan sesuatu yang di ingatan kita bahkan udah samar dan terlipat-lipat ingatan baru. Menyenangkan beresin kamar siang ini gue seperti diingatkan lagi seperti apa kondisi gue di masa lalu.

Jasa orang tua tiada batasnya, mereka menyokong kita di saat kita belum mampu berdiri sendiri. Memastikan kita tercukupi meski pasti dalam keterbatasan mereka sendiri. Dan sekarang gue berdiri sebagai anak yang udah dewasa dan mampu membiayai diri sendiri. Gue jadi terharu.

Ebetewe, kalo sekarang uang 15.000 dipake naek gojek sekali selesai bahkan gue gak akan bisa pulang:)

4 Tahun

Jam nyaris pukul 02.30 dan gue belum memejamkan mata. Hari ini, 14 Desember kembali datang. 4 tahun lalu jam segini gue lagi duduk di lantai memeluk lutut menahan kantuk, Duduk deket bapak yang lagi di atas sajadah. Bibirnya bergerak – gerak tak bersuara, air matanya mengalir di pipi. Gue mendongakan kepala menyentuh punggungnya bertanya apa sakitnya masih terasa. Dia menggeleng dan menyuruh gue pergi tidur.

Gue gak bergeming.. Tetap duduk disana diam memeluk lutut. Bingung bapak selalu bilang sakit padahal obat sudah diberikan. Malam terasa lebih panjang hari2 tersebut. Harapan gue saat itu semoga Allah meringankan sakit apapun yang dirasakan oleh bapak.

Malam itu diam2 gue menangis duduk di lantai diantara ibu yang mengigau karena kelelahan dan bapak yang terisak di atas sajadah. gelisah menunggu pagi meski  tau pagi hari gue akan bertugas gantiin kakak jagain paman di RS.

Pagi hari saat bersiap pergi ke RS bapak bangun dan berusaha jalan sendiri ke kamar mandi lalu duduk di kursi. Meminta tukang pijit dipanggil ke rumah dan gue pamit pergi ke RS karena kakak harus ke kantor . Andai tau itulah pertemuan yang terakhir, gue memilih gak akan pergi meninggalkannya pagi2. Karena dzuhur gue dipanggil pulang dan mendapatinya udah terbujur kaku. Kembali ke sisi Allah.

Tanpa kata2 selamat tinggal dan sampai jumpa tiba2 aja bapak gak ada. Kami kebumikan dan sampai hari ini akhirnya gak pernah gue liat lagi. Dimana bapak gue? apa di sana Allah baik padanya? Gue memejamkan mata pun wujudnya mulai sulit gue gambarkan.

Hidup baik2 aja tapi rasa kehilangan terus mengikuti. Semakin lama semakin terasa hilang. Masih ingatkah almarhum kepada kami? Masih ingatkah almarhum semua kenangan saat hidup bersama kami?

Gue rindu alm bapak terutama di hari yang tak terlupakan ini.

Kemana Harus Berlari saat Hujan

image

Siang tadi saya merasa konyol  juga sedih. Sekaligus lelah dengan semua hal ini.

Selesai mengajar di jadwal yang kedua waktu menunjukan pukul jam 12.00 WIB. Saya mampir makan bakso rudal sendirian sambil order gojek untuk mengantar pulang karena jalanan hari Sabtu macet sekali. Sambil makan makin lama langit mulai mendung, geluduk bersahutan dan semilir angin mulai terasa sedikit lebih kencang.

Belum juga matahari tergelincir, hujan datang terlalu awal hari ini. Saya pun bergegas menghabiskan bakso dan es kelapa dan berharap bisa segera pergi dari sana. Beruntung abang gojek telah tiba. Saya pun minta segera melaju ke rumah berharap gak kehujanan.

Abang gojeknya santai banget bawa motor, dia bilang kalo hujan dia ada jas hujan. Abangmya gak tau kalo saya gak masalah basah karena kehujanan. Tapi saya cemas hujan kali ini akan sama galak nya dengan hujan pekan lalu yang disertai angin puting beliung.

Jalanan macet banget dan karena tersendat saya pun terkejar hujan. Rintik… Rintik… Lalu makin besar. Dada saya gak karuan. Bagaimana ini langit seram begini dan hujan sudah dimulai saya malah ada di atas motor di tengah kemacetan? Abang gojeknya bilang tenang dan nawarin untuk berhenti pake jas hujan. Saya protes jangan berani berhenti, cepetan bawa saya menjauh dari hujan ini. Dari jalanan terbuka ini.

Dan kami mulai kebasahan. Hujan semakin deras.. Angin makin kencang. Otak saya mulai gak karuan. Gagap ambil keputusan. Buntu saking gugupnya. Saya pun minta diturunkan di sisi jalan selepas melewati pintu tol dan berencana pindah ke angkot. Abang gojek bingung.. Dia bilang dianter sampe tujuan aja. Saya memaksa minta turun. Lalu dengan bingung abangmya berenti dan saya membayar uang gojeknya.

Abang gojek menepi berteduh di sebuah tenda bersama orang lain. Saya hanya berdiri ternyata angkot gak ada yang lewat saat itu juga karena kehilangan macet di kejauhan. Saya gak ingin ikut berteduh disana. Pikir saya angin pasti bisa merobohkan tenda itu. Dan saya gak ingin ada disana menyaksikan angin datang. Saya hanya berdiri cemas. Tanpa ingat buka payung dan tiba2 hujan semakin besar. Setelahnya saya berpikir barangkali abang gojek melihat saya saat itu seperti wanita bodoh. Berdiri kuyup menunggu angkot lain lewat.

Satu angkot gak berhasil saya stop tapi saya berhasil naik angkot selanjutnya. Lega tapi lagi2 saya ingat area rumah pasti lagi hujan deras juga… Saya gak akan berani ambil resiko untuk pulang. Berharap angkot ini cepat lewatin lampu merah karena ternyata di angkot pun saya cemas. Angin besar juga gak enak diliat dari dalam angkot. Tapi macet siang tadi menyebalkan.

Akhirnya saya memutuskan turun di ace hardware. Lari masuk lalu menghela nafas akhirnya saya di dalam bangunan gedung. Saya bisa berputar putar liat2 barang sementara menunggu hujan di luar reda.  Saya berkeliling dan memastikan jauh dari jendela. Basah kuyup rambut dan baju.

Setelah sedikit tenang dan hujan mulai reda saya berpikir apa2an itu tadi? Kalo aja lanjut di ojek meski pake jas hujan saya pasti udah sampai di rumah. Tapi hujan2 galak selalu bisa bikin saya mendapat serangan macam tadi. Gugup dan buntu. Dan saya tidak suka hujan galak.

Semoga hujan pancaroba ini segera berlalu… Siang sore di musim ini sungguh ujian berat untuk saya yang phobia hujan pake angin.

Ah lelahnya……