Hujan Setahun Lalu

Semalam ini tenggorokan saya tercekat, hidung saya perih dan bulir-bulir air mata ini menetes dengan derasnya. Saya ingat sedang apa dan dimana saya malam jumat satu tahun lalu. Malam yang jauh berbeda.

Saya ada di Rumah Sakit dan gemeteran dan menangis seraya berdoa agar sakit alm bapak saya diredakan. Malam Jumat dengan hujan amat deras, alm bapak saya merintih-rintih kesakitan. Malam itu saya cuma mampu mundur beberapa langkah dan balik badan mencari tempat untuk berlari.

Hujan yang suaranya masih terbayang itu di mesjid rumah sakit lantai 2, saya duduk bersimpuh memohon dengan hati yang amat kecil berharap Allah meringankan sakit bapak saya yang dari magrib kesakitan.
Continue reading

Selamat Datang Hujan

image

Perasaan, baru aja beberapa waktu lalu marak berita disana sini terutama di daerah masyarakat kesulitan air bersih. Ada yang harus berjalan jauh untuk mengantri air, ada yang terpaksa menggunakan air tak layak untuk kebutuhan air hariannya. Penyebabnya? Tentu saja kemarau.

Sebenarnya saya tak terlalu merasakan namanya kemarau. Selain karena saya tinggal di kawasan rindang saya pun tak kesulitan air karena saya menggunakan air PAM. Indikator kemarau di lingkungan saya yang paling jelas mungkin kering kerontangnya aliran sungai ciliwung. Pepohonan di tepian tebingnya pun kering. Kalau siang, terik panas sekali.
Continue reading

Perjalanan Ke Desa Cidugaleun Tasikmalaya (2)

image

Malam selepas kami tiba, kami beristirahat di satu rumah cukup besar yang sudah dipersiapkan oleh keluarga pengantik wanita. Sebagian sibuk merapihkan barang bawaan, sebagian sibuk mencari makanan, sementara saya sibuk girang karena ternyata disediakan TV dengan gambar jelas sehingga saya tetap bisa nonton sinetron “Tukang Bubur Naik Haji”. Kami makan bersama malam itu, berganti pakaian dan bersiap tidur. Di kawasan desa itu sinyal telepon muncul dan tenggelam. XL, indosat di HP saya ilang sinyal. Beruntung saya membawa HP berkartu telkomsel, jadi saya masih bisa internetan. Itu pun sedikit bergerak kesana, bergeser kemari. Demi…demi online 🙂 Malam itu hujan deras. Beruntung kami tiba lebih awal. Sebagian besar udah tidur hanya para pria saja yang duduk2 di teras depan. Saya juga duduk-duduk menjemput sinyal. Daerah desa mungkin dimana-mana begini. Malam baru pukul 22.00 jalanan sudah senyap. Sama aja sih sebenernya pembedanya hanya penerangan di luar rumah minim sekali. Kalo ada perlu apa2 semalam gini gimana ya? 🙂

image

Hujan sampai subuh, cuaca semakin dingin. Saya harus merelakan jaket tebal dan selimut tebal saya dipakai sepupu yang kurang sehat. Pagi2 kami menyantap pop mie bawaan kami sambil menikmati pagi dengan teh panas. Wah enak ya suasananya. Saya juga sempat berkeliling desa sejenak. Senyap, sepertinya semua orang masih di atas kasur. Hujan pagi makin deras. Beruntung menjelang acara hujan mereda. Duh saya sebenernya suka suasana tenang desa macam ini. Disapa seorang ibu dari pintu dapurnya, mengintip dia sedang memanaskan sesuatu diatas tungku dan melihat asap mengepul keluar dari genting di atas dapur. Pertanda pagi itu di dapur si pemilik sedang berkutat dengan tungku dan kayu bakarnya.

image

Pepohonan basah, bunga2 sederhana yang tumbuh di pekarangan, kolam2 ikan yang permukaan airnya dipercik air hujan, senyap. Suasana pas untuk tidur kembali bukan? Tapi saya gak memilih tidur. Berhubung saya tamu saya memilih untuk berkeliling dan sesekali mengabadikan yang saya lihat dengan kamera HP saya.

image

Dan saya menemukan ini di sisi kolam. Pohon nanas! Duh andai udah matang, saya ingin mencoba memetiknya setelah minta izin. Maklum, saya jarang memetik buah2an langsung dari pohonnya 🙂 Acara pernikahan hari itu selesai. Kami pun kembali ke tempat kami menginap. Merapihkan bawaan kami dan membersihkan rumah sekalipun pemiliknya melarang. Setengah jam sebelum dzuhur kami berangkat kembali menuju Bogor. Deg-degan lagi karena akan melewati jalanan semalam. Wah ternyata gelap semalam itu menyembunyikan pemandangan indah. Kiri kanan hamparan sawah dan kebun juga gunung. Jauh dari kesan menakutkan. Cuma tetap saat akan melewati sungai saya memilih turun dan berjalan kaki. Dan rasanya mantap! Jauh lebih buruk dari tetap berada di dalam mobil. Capek.

image

Sepanjang jalan saya mengagumi pemandangan alam yang kami lewati. Gak takut seperti semalam. Tak lama tiba deh kami di Singaparna dan mulai menyusuri jalan menuju Garut. Di kawasan Garut kami melewati jalanan baru di sisian tebing gunung, terowongan membelah gunung. Wah saya pertama kali melewati jalan ini. Waas sekali. (* Waas , bahasa sunda) Kami pulang melalui jalur puncak. Alhamdulillah semua lancar di jalan walau sesekali kami istirahat untuk makan dan sholat. Jam 21.30 pun kami tiba di rumah. Ini perjalanan yang menyenangkan. Melihat hal-hal yang sehari-hari gak saya lihat. Sampai ketemu Desa Cidugaleun..mohon maaf kalo gak nyaman liat saya foto sana foto sini 🙂

Perjalanan ke Desa Cidugaleun Tasikmalaya (1)

image

Sabtu Minggu kemarin saya dan keluarga besar melakukan perjalanan ke sebuah desa di kawasan Singaparna Tasikmalaya. Lokasi desa yang kami sambangi lumayan berada di dataran tinggi kawasan gunung Galunggung. Niat kedatangan kami adalah mengantar sepupu laki2 saya menikah dengan seorang perempuan yang kampung halamannya di desa tersebut.

Sabtu siang kami meluncur dari kota Bogor sebanyak kurang lebih 30 orang. Melewati tol cipularang, kemudian melewati cileunyi Bandung dan kami pun meluncur ke Tasikmalaya melewati Kota Garut.

Continue reading