Egoisme Manusia dan Kesetiakawanan Kucing

image

Saya bukan salah satu pencinta kucing, pun salah satu pembencinya. Tidak benci untuk sampai tega menyakiti tapi tak cukup suka untuk lantas mengelus-ngelus dan bersentuhan. Di rumah ada kucing yang sering ikut makan. Kelamaan sering ikut makan lama2 kucingnya sok akrab sok dekat gitu, mensahkan dirinya sendiri menjadi bagian dari rumah ini. Coki namanya.

Coki entah kucing blasteran apaan, yang jelas kucing ini ssering dipuji bulunya cantik. Seluruh tubuhnya berbulu coklat, hanya saja warna coklatnya bergradasi. Bagian mulut dan telinga coklat tua, bagian tubuh coklat muda dan bagian ekor kembali coklat tua. Si Coki ini kucing peliharaan rumah sebelah, milik anak bungsu perempuan tetangga. Awal kedatangannya si coki ya gitu deh dimanja dan dipuja. Namanya juga kucing “cantik”. Seiring dewasa si anak keluarga sebelah kucing ini lebih banyak diurus dan diberi makan ama ibunya. Sampe tibalah anaknya pergi kuliah dan bekerja dan mereka pun pensiun lebih banyak menghabiskan waktu di Cimahi, si Coki mau dibuang karena gak akan dibawa pindah. Alm bapak saya bilang jangan, biarin. Urusan makan mah biar aja minta ke rumah kami. Maka si coki ini jadi kebiasaan lah makan di rumah, bahkan sampe sekarang setelah alm bapak saya meninggal dunia.

Yah untuk sekedar berbagi makanan dengan seekor kucing asal gak perlu merawatnya secara telaten rasanya gak masalah. Walau ganggu juga sih kalo udah SKSD masuk ke ruang tamu dan mau coba mendekat ke kamar. Apalagi kalo nyolong makanan. Gemes. Nah saya dan orang rumah ikhlasnya ya ngasih makan si coki aja, itu pun berharap teratur dan tetap bersih rumah. Kadang suka sebel kalo 3 sampe 4 kucing peliharaan orang ikut berkumpul di sekitar rumah. Seringkali si coki yang sudah menua ini kalah galak dan terpaksa memberikan makanan yang kami sediakan ke kucing tetangga.

Saya mikirnya kucing lain harusnya makan di rumahnya, minta ke si pengurusnya. Ngapain jadiin rumah kami basecamp. Tiap kali ngasih makan si coki di luar tiap itu pula dia berbagi makanannya, apalagi kalo kucingnya cewek. Masalahnya si cokinya nanti minta lagi.

Nah kemarin waktu coki minta makan saya kasih lah ujung2 sayap ayam goreng dan sedikit nasi. Liat ada 4 kucing di luar rumah saya pun mengarahkan si coki makan diam2 di dapur. Saya tinggal nonton TV pas saya liat ternyata kucing coklat itu cuma makan sebagiannya. Gak lama datang kucing orange lari dari dapur bawa makanan. Hmm jadi si coki menyisakan makanan dan lari keluar membisiki teman2nya perihal makanan di dapur.

Sia2 saya mencoba kasih makan diam2. Ujungnya comel2 juga itu kucing. Sedikit merasa egois sih, saya sebagai manusia jelas terlalu menghitung. Gak rela kalo harus kasih makan kucing lain yang ada tuannya, nanti kebiasaan berkumpul disini. Rumah jadi kotor, kalo mereka pipis maka jadi bau. Tapi ternyata kucing punya pemikiran mereka sendiri. Naluri berbagi.

Melihat kejadian itu mendadak berpikir betapa saya sebagai manusia egois sementara kucing2 pun yang hanya binatang memiliki kesetiakawanan dengan cara mereka sendiri

Advertisements

Selamat Jalan Pak Deni

image

Innalillahi wa innaillahi rojiun

Gak nyangka. Perasaan semacam itu seringkali muncul ketika kita mendapat kabar seseorang wafat, berpulang kepada Sang Khalik. Percaya gak percaya, kalo kabar itu datang maka mungkin memang itu yang terjadi.

Pagi hari ini kabar duka datang tentang Pak Dinarwan yang memang selama beberapa minggu belakangan ini sakit. Pak Dinarwan yang biasa kita panggil Pak Deni ini berpulang ke Rahmatullah di ICU RS karya bakti Bogor.

Saya syok, melamun lama ketika bangun pagi banyak sms dan missed call tak terangkat yang ternyata membawa kabar duka. Keresahan saya semalem kejadian. Saya kaget almarhum yang ketika saya tengok banyak jauh membaik kondisinya, makan pun duduk kok malah ke ICU. Saya sms Bu Sufi sebelum tidur berharap Pak Deni sembuh lagi.
Continue reading

JEDA

Aku memandangmu sebagai puisi
Kamu menganggapku jeda di antara paragraf

Aku mengingatmu sebagai musim semi
Kamu mengenangku sebagai hujan sekejap di musim kemarau

Aku jeda dan tak lebih, semoga sisanya bukan dialog dalam sebuah sandiwara.