Duka Yang Ku Ikat

Dear bapak yang lama tak ku sapa,
Apa kabarmu?

Waktu berlalu begitu cepat bukan? 9 bulan tidaklah pendek.
Doa2 untukmu sampai ku hafal dan melekat dibibirku.
Kala ku sibuk kadang aku sampai lupa sudah mengucapkannya atau belum. Aku banyak lupa.

Ada yang selalu ingin ku ikat dalam diriku, sesuatu yang mungkin saja orang lain ingin membuangnya jauh2.

Duka
Aku ingin mengikat duka kehilanganmu seumur hidupku.
Bukan untuk bersedih
Cukup sebagai pengingat akan rasa kehilangan seorang bapak
Duka itu yang menekuk lututku dan menundukkan wajahku dan membuat mataku berkaca-kaca.
Duka yang sama yang menyuburkan kekhusyu-an dan tulusnya untaian doa seorang anak menghamba dan meminta kepada Tuhan-nya.
Jaga dan sayangi almarhum bapakku.

Aku sering lupa, lupa duka itu seharusnya tetap ada.
Semoga bapak tak merasa kesepian jika doaku terlambat datang.

Tenanglah pak, tenang hingga hari dimana kita akan dikumpulkan bersama. Semoga amal ibadahmu menemani dan doa2ku yang tulus sering menghampiri.

Kabulkan segala doa anak2 yang sedih ditinggal jauh bapaknya Ya Allah. Ditangan-Mu lah segala kuasa dan kehendak. Amin.

Advertisements

Cerita Naik Kereta Argo Parahyangan Bandung – Gambir (Jakarta)

image

Selasa kemarin setelah menutup liburan dan segala keperluan di Kota Bandung, saya mengajak ponakan cilik saya si Rafa pulang ke Kota Bogor menggunakan kereta. Sudah lama sekali sejak zaman saya SMP mudik ke Bandung naik kereta. Hari itu mamah saya juga ikut serta, tak ketinggalan teteh saya dan suaminya yang sama2 cuti sehingga kami sama2 bisa pulang belakangan. (Rombongan lain pulang Minggu sore).

Urusan tiket kereta saya dibantu oleh kawan saya di twitter Kang Agus Sopandi. Kebetulan beliau bekerja di PT. KAI – Persisnya di stasiun Bandung. Saya titip 4 lembar tiket Bandung – Jakarta (Gambir) untuk jam 12 siang. Jadi saya gak perlu repot pesan online ataupun membelinya langsung di stasiun. Tinggal ambil. Sssst, ini rahasia ya ternyata saya dapat kejutan kata Kang Agus tadi 2 tiket hadiah gratis dari beliau jadi saya cukup membayar 2 tiket lain. Duh saya senang dapet kejutan seperti ini tapi juga sekaligus malu karena memang berpikir menitip saja saya sudah merepotkan. Tapi katanya karena beliau lagi baik. Ya sudah, alhamdulillah 🙂
Continue reading

Rumah Tanpa Atap

image

Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara – pasal 34 ayat 1 UUD 45

Sore kemarin saat baru saja selesai hujan, langit gelap sisa air tumpah bercampur matahari yang bersembunyi dibalik senja yang basah. Dua makhluk kecil ini tidur dengan nyenyaknya di emperan ruko. Di tengah lalu lalang orang-orang yang bergegas entah untuk urusan apa.

Saya berdiri lama disana, karena menanti keluarga saya selesai menemani nenek saya ke dokter. Ini bukan foto pertama saya, kelompok anak jalanan di daerah ini pernah juga saya foto saat mereka tidur di kawasan ini. Entah anak yang sama atau berbeda.

Setiap menit orang lewat,mereka pasti menoleh,menunduk ataupun menatap bocah yang gak mengenal dingin ini. Bisa saya simpulkan sebagian besar dari kita menatap ini bukan pemandangan yang wajar.
Continue reading

Pagi Pak!

Pagi pak, apakabar?
Seharian kemarin saya ingat bapak dan hati saya terasa nelangsa jika ingat lebih dari 8 bulan kita tidak bertemu dan entah berapa puluh tahun lagi ke depan yang akan saya habiskan dengan perasaan yang sama.

Ah saya nulis separagraf aja udah berkaca-kaca, gimana neh pak? Di kamar mandi pun sama tadi. Kemarin siang saya sedang mengajar pun mendadak mata berkaca-kaca ingat bapak. Bapak kah yang sedang ingat saya?

Wah saya PMS neh pak…. 😦

Barusan bangun pagi, saya terbangun oleh suara di mesjid bapak-bapak yang sedang sholat subuh berjamaah. Mata saya lengket tapi ditelinga saya ada yang berbisik : “ayo bangun nanti kesiangan sholat subuh. Bapak tunggu doa kamu”. Nah loh, siapa itu yang bisikin? Mungkin suara hati kecil saya barangkali.

Continue reading