Berpetualang ke Kebun Teh Cianten – Kabupaten Bogor

image

Hari Sabtu kemarin saya, mamah, keponakan kecil (Rafa, 2,5th), sepupu (Nadia 3SMA dan Nunu 1SMA) plus bibi saya berkunjung ke rumah kakak laki2 saya di Desa Ciasmara – ParaBakti Kab Bogor. Walau kakak laki-laki saya adalah pegawai negeri sipil di kawasan Pemda Kabupaten Bogor di Cibinong, dia tinggal sejauh ini karena kebetulan kakak ipar saya adalah seorang bidan desa di puskesmas setempat.

Lokasi Desa Ciasmara sendiri kira2 sekitar 2,5 jam dari rumah saya di tengah Kota Bogor. Melewati kampus IPB ke arah Leuwiliang, sesampainya di pertigaan belokan cemplang kami berganti angkutan umum ke arah kiri hingga tiba di Puskesmas Ciasmara.

malam itu kami menginap disana. Malam itu hujan turun dengan derasnya. Suasana dingin lengkap ketika obrolan dilengkapi oleh gorengan dan teh panas. Pagi2 kami pun berjalan kaki melihat-lihat sekitar mencari sarapan pagi.

Pukul 9 pagi kami bersiap dari rumah kakak saya. Menggunakan mobil yang disupiri oleh pengemudi asli daerah setempat ceritanya kami akan pergi piknik makan siang ke perkebunan teh. Waduh saya gak kebayang kebun teh macam apa? Seberapa jauh? Enak gak tempatnya,dll.

Perjalanan dimulai dan saya pasrah aja mau dibawa kemana. Haha lah wong semua orang ikut masa saya gak diajak. Supir tampak beberapa kali menyapa warga yang ia temui. Setelah memastikan, mobil berbelok ke kiri dan menanjak di jalan kecil. Menyusuri kebun dan jalan sempit. Mulai cemas juga kok ya jalannya kecil sekali dan banyak tanjakaan dan turunan curam. Meleset sedikit ban mobil akan tergelincir. Konon itu adalah jalan alternatif dan bisa menghemat 30% perjalanan. Jalan sempit pun berakhir berganti jalan besar. Fiuh.

image

Kami melewati jalanan yang berkelok-kelok. Semacam berputar mengitari tebing gunung. Lama-lama rumah yang kami temui semakin jarang. Kiri kanan hanya terlihat pohon2 besar dan tebing hutan. Konon katanya perkebunan teh ini memang dikelilingi hutan2 yang masuk ke kawasan hutang lindung halimun. Walaah saya mulai berasa diculik ke antah berantah.

Ngeri juga kalo ada penjahat di jalan. Gimana kalo ada warga usil menodong di jalan sepi? Tapi itu sepertinya hanya ketakutaan saya aja. Hehe. Sesekali perjalanan kami disalip oleh mobil colt berisi banyak warga yang pergi berbelanja. Di atas atapnya banyak belanjaan warung. Sepertinya mereka berbelanja ke “kota” beramai-ramai dan pastinya jarang.

Jalan makin jauh, rasanya hutan tak selesai-selesai. Namun tak lama hutan-hutan mulai sirna. Mendadak ada kawasan kebun. Sepertinya kami mulai memasuki kawasan perkebunan Nusantara VIII di Cianten. Setelah memasuki pos penjagaan, pemandangan mulai tampak rapih. Walaupun disekitar perkebunan banyak rumah2 penduduk sepertinya perkebunan cukup ketat menerapkan aturan dengan terpampangnya tulisan “jagalah kebersihan” – “dilarang menebang pohon” – “dilarang berburu” nyaris di banyak tempat.

image

Ada mesjid kecil yang bersih di dekat pabrik mengolahan teh, tampak mesin-mesin pabrik, ada juga lapangan voli, sekolah dan TK yang pagi itu tampak kosong karena bukan hari sekolah. Kami pun lanjut berjalan. Saya semakin gak tau mau dibawa kemana. Jauh..rasanya ingin nyerah. Haha. Masih lewati jalan berbatu namun hutan nyaris tak nampak.

Daaaan saya pun melihat hamparan kebun teh diantara jalanan yang mulus. Lebih mulus dari jalanan di perjalanan tadi. Saya langsung ingat sama wallpaper di komputer lama saya. Ya ya ya hamparan perbukitan hijau berpadu dengan langit biru dengan awan2 putih. Persis.

image

Takjub nemu beginian di Cianten. Saya pikir pemandangan serupa cuma milik puncak aja. Saya gak pernah bayangin ke arah leuwiliang gini bakal nemu yang serupa. Ternyata lebih bagus. Kebun teh yang berbatasan dengan hutan lindung gunung halimun ini masih perawan. Sekalipun ada rumah2 penduduk yang merupakan pekerja kebun teh, belum ada tuh penginapan2, hotel dan warung2 besar macam di puncak. Track ini sepertinya lebih banyak dilalui oleh pesepeda.

Konon jika terus melanjutkan perjalanan, selain akan sampai ke hutan lindung dengan menambahkan waktu tembuh 1,5 jam lagi kita akan sampai ke sukabumi (memang berbatasan dengan sukabumi) dan pelabuhan ratu. Wah2 bikin penasaran. Tapi rasanya untuk saat itu cukuplah sampai kebun saja.

Kami pun menghentikan laju mobil. Membuka perbekalan kami dan makan bersama di sebuah saung di sisian kebun teh. Panas terik tapi dingin. Senyap..nyaris tak ada kebisingan. Bikin takut juga sih haha. Setelah berpuas diri berfoto-foto, kami pun memutuskan untuk turun pulang. Takut hujan. Jalan yang ditempuh lebih jauh karena tidak melalui jalan tikus tadi.
image

Keluar dari kebun teh, melewati hutan cukup panjang, lalu mulai kebun2 cengkeh, persawahan dan kami pun tiba kembali di pasar parabakti yang dipenuhi rumah, toko, pasar, sekolah dan kegiatan lainnya. Petualangan pun usai. Capek dan badan tersiksa di jalan, tapi setimpal karena menemukan pemandangan asik yang gak terbayangkan sebelumnya.

image

17 thoughts on “Berpetualang ke Kebun Teh Cianten – Kabupaten Bogor

  1. Setelah survey ke Cianten, untuk trip observation anak2, betul indah, sejuk.. yang tinggal di jakarta harus coba berlibur ke Kebun Teh Cianten. Boleh minta info jalan lainnya karena yg saya tau cuma jalan dari Pasar Lama Lewilliang. Trimakasih Geulis…

  2. Apa jalan sampai Cianten lewat jalan utamanya cukup bagus? Saya berpikiran bisa jadi jalan alternatif dari Bogor ke Sukabumi Pelabuhan Ratu, mengingat sekarang dari Ciawi ke Sukabumi macet parah sejak ada perbaikan jembatan di Caringin Cigombong.

  3. jalan menuju cianten sekarang belum bagus mudah-mudahn sudah bisa di perbaiki lagi.jln.ke cianten akan di buat jalan alternatif bgr sukabumi yg sudah di rencanakan jauh jauh hari oleh pemerintah kab.Bgr cuman sampai saat ini belum terwujud. sekarang kodisi perkebunan teh cianten mengalami penurunan kualitas,,,di bandingkan ketika saya masih sekolah dasar SDN 1 Cianten tahun 1999 sampai sekarang(2015) dan terus mengalami penurunan

  4. Cianteun keren, akan lebih keren jalan di gunung di benahi,Klo jln bagus pasti akan bnyk wisatawan datang,, kini pemerintah sudah memberikan mobil DAMRI untuk tranportasi, semoga berikut nya jalanpun dibenahi,

  5. Rumah saya di desa situ ilir arah parabakti, perjalanan menuju cianten sekitar 1 jam, klu akses jalan cianten sudah bagus, mantap dech ke plabuhan ratu mungkin bisa ditempuh sekitar 3 jam via cikidang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s