Lelaki Pantai Emas – 9

pantai emas

Aku bangun siang sekali hari ini. Semalam aku terlalu larut tiba di rumah. Sambil membersihkan tubuhku aku bersenandung kecil. Hal yang cukup lama tidak kulakukan.

Aku sedang menghabiskan sarapanku di atas meja makan ketika pengantar majalah menekan bel dan meletakkan majalah di kotak surat tepat di atas pintu masuk.

Aku kembali ke tempat tidurku, tak sedikitpun majalah itu aku sentuh. Rasanya tubuhku lemas dan letih. Sedikit tidak terasa nyaman bangun pagi ini. Mungkinkah ini semua karena pulang larut semalam? Yang ku tahu hanyalah aku ingin kembali terlelap.

Laki – laki itu, bayangannya mengganggu pagiku. Aku mencoba kembali mengingat kejadian semalam. Apa yang ada dipikiranku sehingga aku begitu saja memeluknya. Bahkan saat ini aku tak mampu mengatakan hal itu layak atau justru memalukan diriku sendiri. Siapa dia, tau namanya pun tidak. Siapa laki – laki itu, bicara dengannya pun aku belum pernah. Mengapa hanya dengan melihat punggung laki – laki itu aku merasa berhak memeluknya? Mengapa aku biarkan ia bersandar kemarin malam? Pikiran – pikiran ini membuatku semakin letih.

Aku berguling di atas tempat tidurku. Meraih remote TV mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikiranku. Tidak ada satupun yang ku temukan menarik disana. Aku pun berusaha kembali terlelap.

Continue reading

Lelaki Pantai Emas – 8

pantai emas

Pantai sore telah meninggalkan kami beberapa waktu lalu. Berganti pantai gelap dengan cahaya temaram dari lampu jalanan. Lampu – lampu dari pemukiman di kiri dan kanan pantai menjadi pemandangan kami dari kegelapan.

Angin menerpa pipiku, berputar dan meliuk tepat diujung hidung. Apa angin mampu mendengar apa yang aku ucapkan dalam hati, mereka tak nampak beranjak sepertinya mendengarkanku dengan seksama.

Apa yang aku lakukan disini, dengan kedua tangan memeluk laki – laki ini. Sudah waktuku untuk pulang, namun aku tak tega untuk melepaskan dekapan ini. Ok, jujur aku pun memang tak ingin melepaskannya. Laki – laki yang tadi tidur dengan wajahnya yang sedih kini tampak begitu tenang.  oh wajah tenangnya menenangkan jiwaku. Bagaimana mungkin aku melepaskan dekapan dan mengganggu tidurmu? Dan aku pun semakin merapatkan pelukan, seakan tak rela sedikit pun angin menjamah laki – laki yang bahkan aku pun tak tau siapa namanya.

Malam kian larut, cahaya – cahaya lampu dari kejauhan mulai tak nampak di mataku. Semua cahaya itu memudar, tak seberapa lama gelap telah menelan seluruhnya. Dan aku pun melupakan waktu.

Mataku amat rapat, ingin aku membukanya namun terasa berat. Aku bertanya pada diriku sendiri, aku dimana?. Seingatku seharusnya aku sedang memeluk laki – laki itu di sisi pantai. Menjaganya yang terlelap. Namun mengapa aku yang kini terpejam? Tangan siapa ini yang mendekapku, dekapannya kuat sekali. Ya Tuhan, mungkinkah aku tertidur dan lelaki itu yang kini memelukku? Aku ingin bangun, tapi aku tak tau bagaimana caranya.

Continue reading

Lelaki Pantai Emas – 7

pantai emas

Aku memeluk sesuatu yang terasa lembut. Mata belum juga terjaga aku memeluknya lebih kuat lagi.  Semuanya yang tersentuh tubuhku terasa nyaman, enak sekali dan menentramjan. Aku memejamkan kembali mataku dan membenamkan tubuhku dalam balutan hangat.

Rasanya banyak waktu yang kulewatkan, mungkin aku tidur terlalu lama. Sudah lama tak kudapati tidur senyenyak ini. Aku terpejam.

Aku berusaha mengingat apa yang telah kulewatkan saat ini. Mengapa rasanya seperti ada sesuatu yang aku lewatkan. Dimana seharusnya aku berada dan aku lakukan jika aku tidak tidur senikmat sore ini.

Sore. Aku merasa ada yang salah dengan mengucapkan kata sore. Jika ini sore lalu mengapa aku ada disini? Seharusnya aku ada di pantai. Bulatan emas dilangit itu tidak boleh tergelincir di ujung langit tanpa aku disana menyaksikannya. Aku memang seharusnya disana. Menikmati pantai emasku. Ah buaian peraduan ini telah mengganggu hariku.

Aku harus bangun. Ya bangun, nyamannya pantai lebih menjanjikan dari tempat tidurku. Siapa yang mengizinkan aku tidur hingga aku terancam melewatkan pantai soreku?. Ku bergegas beranjak dan mengganti pakaianku. Sebuah t-shirt warna hijau lembut membalut tubuhku yang masih lemas. Ku rapikan rambutku dengan sela – sela jari. Untuk apa aku tampil sempurna toh pantai hanya ujung jalan rumahku.

Continue reading

Lelaki Pantai Emas – 6

pantai emas

Angin menggangguku melalui tirai jendela kamar yang ia kibaskan. Matahari sudah meninggi saat aku masih berselimut di dalam kamar nyamanku. Cahaya matahari itu menggelitik bola mataku hingga ku tak nyamann untuk kembali terpejam.

Ku melamun dalam raga yang jiwanya belum juga terkumpul selepas malam. Suasana hatiku berubah, kemana semua beban yang kemarin lalu aku rasakan? Seperti sibulimkan angin pantai sore kemarin. Hatiku masih juga sakit namun ada sedikit api keberanian untuk menghadapinya. Hatiku belum juga merasa gembira namun aku tau suatu saat aku harus mengakhirinya.

Mendadak aku ingin ke pantai, aku merasa sendirian dibalik selimutku. Hari belum juga sore, pasti bukan pantai yang kuinginkan yang nampak jika saat ini aku kesana. Tidak akan ada bola keemasan yang tergelincir, memedarkan warna emas ke laut ya warna birunya mulai hitam pekat tertangkap malam gelap. Pantai kecintaanku adalah pantai sore yang hangat. Pantai tempat ku menghabiskan seluruh lukaku yang tiada habisnya.

Aku melangkahkan kakiku masih dalam balutan baju tidurku yang lembut. Hidungku basah namun gigiku bersih setelah ku bersihkan sesaat lalu. Ku biarkan angin pagi mengoyak rambut panjangku, setidaknya pantai ini akan tetap mengenaliku yang hadir di saat yang tak seperti biasanya.

Continue reading

Lelaki Pantai Emas – 5

 

pantai emas

Ku kembali ke pantai, disuatu sore hari yang sedikit muram. Bulatan emas tak nampak seperti biasanya, langit tampak kusam dengan awan – awan yang menghalanginya. Sore ini pantai emasku tak nampak, berganti pantai keputihan dengan ombak yang bergelombang pertanda cuaca tak secerah hari2 sebelumnya.

Aku menantinya, si lelaki penyedih yang menghangatkan lelapku dengan jaket hangatnya. Aku bisa meyakinkan diriku bahwa ia kembali ke pantai ini, seperti biasanya. Bersamaku menikmati pantai keemasan.

Aku duduk di atas tumpukan pasir, memandang hamparan air yang kuyakini diatasnya begitu banyak angin berhembus. Aku membalut diriku dengan pakaian yang lebih hangat dari biasanya. Tak mungkin jika jaket yang ingin ku kembalikan akhirnya harus aku pakai kembali.

Pantai ini tampak lain dari biasanya, entah bagaimana menjelaskannya namun sungguh ku merasa aku tidak lagi sendirian. Ah pantai, taukah kamu bayang emasmu yang menjauh membuatku merindukan seseorang di ujung sana. Melambungkan angan dan lamunanku menapaki kisah yang tlah lalu. Aku hanya wanita yang datang setiap harinya untuk melamunkan luka.

Continue reading

Lelaki Pantai Emas – 4

pantai emas

Ada sesuatu yang mengganggu hidungku, beberapa helai poni rambut terjuntai terusik angin. Punggungku terasa hangat, kubuka mataku dan meraba sesuatu yang menempel di atasnya. Sebuah jaket entah milik siapa melindungiku yang tertidur pantai.

Ku gerakan kakiku yang ku tekuk terlalu lama. Gelap dan sunyi, bahkan rembulan pun bersembunyi digelapnya awan. Aku benar-benar sendirian.

Aku memandangi alam mencari laut yang kini hilang dari pandangan. Malam telah menelannya. Kupastikan diriku terjaga, keheningan ini sungguh ingin ku tinggalkan. Kupakai jaket tadi, tanganku hangat di dalam sakunya. Ada kertas yang teraba di dalamnya. aku menghela nafas sebelum benar – benar pergi. Menghela nafas di sisi laut sungguh melegakan.

Continue reading

Lelaki Pantai Emas – 3

Pantai Emas

Lamunanku pecah terganggu suara gemerisik dedaunan kering yang ku pijak. Pasir putih pantai ini menyusup dan menempel di sela – sela jariku.

Langit biru sudah berubah putih, memudar dan cahaya keemasan mulai kembali turun di barat sana.

Aku jadi suka mendatangi pantai di senja hari, bulatan emas yang tergelincir itu seakan adalah seseorang yang kini memang telah tergelincir pergi, tertelan sesuatu dari kejauhan hingga akhirnya aku tak mampu lagi melihatnya.

Lelaki itu lagi, aku mengenali punggung sedihnya. Duduk sendirian menghadap laut, sungguh tak tau bagaimana rupa pemiliknya. Sedang apa laki – laki itu disini? siapakah bulatan emas dalam hidupnya yang tergelincir? ia menoleh ke arahku, langkah kaki ini menyadarkannya. Wajahnya menyadarkanku.

Aku duduk tidak jauh dari tempatnya. Menghela nafas disisi pantai seperti ini melegakan dadaku. Kemudian menghirup udara segara yang kuyakini dikirim dari seberang lautan. Semakin banyak ku menghela nafas, semakin banyak rasa sakit yang ku buang, rongga yang ditinggalkannya pun semakin terasa kosong. sepi..

Continue reading