Agama Saya Adalah…..

hihihi saya sengaja menulis judul seperti itu, judul yang seakan menjawab tulisan kawan saya disini (Agama Lu Apa). kita dan orang sekitar termasuk teman – teman seringkali beragam pemikirannya. Tidak melulu bertolak belakang habis-habisan tentu saja, seringkali ada perbedaan sedikit yang tentu perlu kita mengerti sebagai ke-khasan seseorang dan pemikirannya. Begitu pula dengan saya. Nah disini saya mencoba menjelaskan pemikiran dari sisi saya.

Melalui percakapan dengan kawan tadi dan dengan mengalaminya sendiri saya mendapatkan input bahwa sebagian, atau ada bahkan munkin saya banyak orang yang tidak nyaman ketika ditanya oleh orang lain perihal keyakinan yang dianutnya. Sebagian berpikir itu adalah pertanyaan pribadi yang belum tentu perlu dijawab. Selain itu juga terlontar pertanyaan “kepentingannya apa tanya keyakinan?.

Bacalah tulisan kawan saya yang link-nya saya sertakan diatas. Disana dia melengkapi dengan contoh pemikiran orang lain yang menganggap tau keyakinan orang lain itu perlu. Dalam beberapa kasus saya pun termasuk yang pernah ingin tau perihal keyakinan orang lain. biasanya sih ini kasus untuk teman-teman dekat. seringnya dengan mengamati karena saya pun tidak begitu nyaman bertanya langsung, selanjutnya bertanya ke pihak ketiga jika memang perlu.Bahkan kalo kepepet dan bingung cari taunya sekali waktu bertanya langsung kepada yang bersangkutan. Tentu dengan memperhatian situasi dan kondisi sehingga bertanya seperti itu tidak nampak begitu aneh.

Continue reading

Karena Kita Begitu Kepo

Ah, kalimat serupa judul di atas terngiang terus di telinga saya dua hari ini. Kalimat menggelitik ini diucapkan kawan saya, Rane Hafied ketika kami tak sengaja berbincang di dunia maya. Ya, kawan saya ini mengatakan saya kepo tak ubahnya dirinya.

Kepo adalah ungkapan bagi rasa ingin tahu yang amat tinggi, setidaknya itulah definisi kepo yang saya serap dari melihat bagaimana orang2 menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Kepo ditujukan kepada seseorang ketika ia nampak begitu ingin tahu banyak baik dengan banyak bertanya maupun hanya dengan memantau secara intens. entah bahasa dari mana dan sejak kapan kata kepo ini digunakan. Yang jelas saya dan kawan2 saya suka menggunakannya dalam percakapan kami.

Saya juga suka kepo. misalnya ketika tak sengaja di ranah twitter saya melihat orang lain men-share berita hot atau kabar seru dari orang lain. umumnya sih urusan2 kontroversial atau perseteruan. Jika sedang terlalu semangat mungkin saya akan terus bertanya kepada pemberi kabar : “eh ada apa? hah, dimana? emang kenapa dia?” hahaha. kalau sedang tak mau repot seringnya sih saya melakukan pencarian di public timeline menggunakan sepenggal kata kunci yang saya yakini akan menghantarkan ke sumber “berita”.

Continue reading

Musibah Ke Kiri Dan Ke Kanan

Beberapa waktu lalu, dihari yang sebenarnya tampak biasa saja melintas satu kabar di jejaring sosial beserta beberapa kawan yang mengutarakan keprihatinan yang mendalam. Terjadi kecelakaan maut di satu jalanan di Kota Jakarta. Sebuah mobil yang dikendarai seorang wanita menabrak belasan orang yang sedang berjalan kaki dan 9 diantaranya dinyatakan tewas, tak terkecuali balita.

Kabar yang mencengangkan dan memilukan ya. Tragis adalah diantara korban-korban ada yang sekeluarga tewas. Pengemudi sendiri yang akhirnya diketahui bernama apriyani dipastikan mengemudi dalam keadaan tidak fit dan lalai. Ia selepas begadang semalaman, minum minuman keras dan mengkonsumsi zat terlarang.

Hari itu ramai sekali di social media orang mencaci dan menghujat Apriyani. Hal ini dipicu oleh reaksi pengemudi pasca kejadian maut tersebut. Alih2 syok dan histeris menyaksikan apa yang telah ia perbuat, apriyani dalam rekaman video tampak lempeng saja. Sepertinya pagi itu ia masih terpengaruh oleh apa yang ia konsumsi semalam, sehingga tak cukup sadar dengan apa yang terjadi.

Berita kecelakaan mau tersebut cukup jadi perbincangan panas selama beberapa waktu bahkan hingga saat saya menulis ini. Banyaknya korban, besarnya kehilangan dari keluarga-keluarga korban mengundang keprihatinan yang mendalam dari masyarakat. Proses hukum terhadap pengemudi maut ini pun pada akhirnya menjadi sorotan khusus. Masyarakat seakan bersiap mengikuti dan menyaksikan konsekuensi hukum apa yang akan diterima Apriyani.

Saya amat berbela sungkawa terhadap keluarga korban. Kehilangan satu anggota keluarga yang wafat alami akibat sakit yang di deritanya saja saya berduka sekali. Tak mampu saya membayangkan perasaan duka keluarga yang kehilangan beberapa saudaranya sekaligus. Sungguh berat.

Mengesampingkan sejenak sisi kelalaian Apriyani si pengemudi, saya melihat kecelakaan ini sesungguhnya musibah bagi kedua keluarga baik korban maupun pengemudi. Siapa yang menyangka bahwa anggota keluarganya akan tiada padahal hanya pamit mau beraktivitas di Minggu pagi? Siapa yang menduga akan menerima kabar anak, kakak atau adiknya dikabarkan telah mencelakai belasan orang dan menewaskan 9 diantaranya.

Sungguh musibah besar bagi kedua belah pihak. Sepertinya Allah sudah menentukan seperti itu kisah takdirnya. Satu pihak kehilangan anggota keluarga, satu pihak harus bersiap menerima akibat dari kelalaiannya dalam mengemudi. Pasti tak satupun diantara mereka membayangkan akan mengalaminya. Dari sudut pandang Tuhan, mungkin Sang Pencipta menunggu ingin menyaksikan bagaimana kedua pihak tadi saling bereaksi terhadap musibah yang ia sisipkan.

Kembali ke kelalaian Apriyani sebagai pengemudi, masyarakat begitu geram dengan perilaku Apri ini yang mengemudi padahal kondisi dirinya layak mengemudi pagi itu. Desakan untuk menghukum dan menjerat Apri tidak dengan sekedar pasal kelalaian berlalu lintas cukup deras. Konon akhirnya Apri dijerat dengan pasal pembunuhan yang mengancamnya dengan hukuman lebih berat.

Saya sepakat bahwa pelaku kelalaian ini harus dihukum. Siapapun harus tau seseorang akan dimintai pertanggungjawaban atas kengerian akibat perilakunya baik sengaja maupun tidak. Masyarakat akan melihat ini sebagai contoh dan harus menjadikannya peringatan bahwa kelalaian kita bisa berakibat fatal bagi orang lain terutama diri sendiri.

Saya memilih tidak mencaci maki si pengemudi maut karena berpikir siapa pun bisa saja melakukan kesalahan dulu dan nanti, termasuk diri kita sendiri. Namun perilaku dan kecerobohannya tentu saja harus ikut kita kecam. Kebodohan yang merugikan keluarga orang. Maka Hukuman bagaimanapun harus ia jalani. Semoga bisa memetik banyak hikmah dan pelajaran dari kesalahannya hari ini, dan keluarga pengemudi mampu menghadapi musibah ke keluarga mereka akibat perilaku Apri ini.

Saya ikut berdukacita bagi keluarga korban. Semoga semua korban mendapat tempat terbaik untuk kembali di sisi Allah, yang luka segera diberi kesembuhan. Semoga keluarganya diberi kesabaran dan hati yang lapang menghadapi pedihnya melihat keluarga terenggut jiwanya akibat kelalaian orang lain. Sekalipun menjadi pihak yang paling berhak marah dan berhak mencaci serta menuntut hukuman bagi pengemudi, dibalik itu semua semoga keikhlasan keluarga korban menjadi nilai tambah tersendiri di mata Allah yang sesungguhnya sedang menguji.