Berdisiplin Terhadap Uang

Hari ini entah gimana mulainya gue terlibat perbincangan mengenai uang dengan seorang kawan. ya kawan baru yang kebetulan jadi rekan kerja di kantor yang sekarang. Kawan ini sebaya ama gue tapi udah berumah tangga dan punya anak. Ada statementnya yang simple tapi jadi pernyataan yang paling jleb dari semua kata – katanya sepanjang obrolan.

buat saya, uang 50 ribu, 20 ribu, bahkan 10 ribu itu sangat berharga

Bukan berarti uang sebesar itu jadi kertas langka yang dia punya. Kalo tau pola fikir yang bersangkutan mengenai penggunaan uang untuk kebutuhan hidup pernyataannya di atas bisa kita mengerti bahkan cenderung memecut diri *_*

ah, siapa sih yang gak sepakat kalo uang itu memang berharga? pecahan manapun tentu berharga. Rasanya kita akan selalu sepakat akan hal ini. Yang membedakan adalah gak semua orang tau alasan tepat khususnya alasan bagi dirinya sendiri mengapa uang bagi kita bergitu berharga.

Continue reading

Ayam Goreng Cak Joyo

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa tahun lalu pasti familiar dengan nama Cak Joyo. Ya, Cak Joyo adalah nama salah satu gerai makan di lingkungan kampus yang menjual ayam goreng. mirip – mirip seperti pecel ayam lah, tapi ayamnya itu ada bedanya sambalnya pun khas. Zaman kuliah dulu saya paling getol makan disitu sekalipun tempat makannya sempit.

Di warung Cak Joyo ada dua pilihan jenis nasi, nasi putih dan nasi kuning. ayam gorengnya bertepung khas, gak seperti kentucky tapi juga gak digoreng gitu aja. dilengkapi dengan sambal dan lalapan plus minum teh panas yang disediakan.

Gak mudah menemukan ayam serupa ayam cak joyo di luar kampus. kadang sesekali kangen rasa ayam cak joyo ya cuma melamun karena ke kampus juga males kan jauh, apalagi denger – denger gerai Cak Joyo udah tutup. yaaaaah.

Sampai akhirnya saya pindah kerja dan kawan baru saya yang alumni IPB juga mengabari bahwa Cak Joyo masih ada dan pindah tempat. perburuan ayam cak joyo pun dimulai. Malem itu sebelum berangkat ke Tasik, kawan saya membelikan titipan ayam cak joyo. huaaaaa akhirnya. saya makan ayam dengan sedikit “brutal” hahaha. Dan rasa ayam juga sambelnya gak mengalami perubahan.

Kemarin malam saat berbuka puasa pun

 

 

Sholat Tarawih Bersama Anak Autis

Di deket kawasan rumah gue, ada satu keluarga yang anaknya berkebutuhan khusus. Secara raga ia sehat, cantik malah. Gadis cilik autis itu terus beranjak dewasa. Sesekali melihatnya bermain di jalanan sepi gue suka berharap keluarganya gak kelupaan untuk mengawasinya atau setidaknya anak itu bisa menjaga dirinya jika ada tangan2 jahil.

Sholat tarawih malam ini anak gadis autis itu baris di barisan shaf sama ama gue. Bersebelahan. Ketika baru aja mulai berdiri untuk sholat Isya, anak itu menengok ke arah gue dan memiringkan kepalanya lalu tiba2 bertanya :

“Ini lebarannya kapan?, kita sholat terus”

Nyaris mengucap niat sholat Isya tapi gue gak tahan menyembunyikaan senyum gue. Akhirnya gue pun sholat terlambat sedikit karena kembali harus menjawab pertanyaannya.

“Lebarannya masih jauh…” jawab gue sedikit berbisik.

Dia tanya lagi : “memang tukang ketupatnya udah nyampe mana?”

Gue senyum makin lebar tapi kemudian teringat gue bisa terlambat memulai sholat. Sambil memberikan isyarat untuk dia juga diam, gue memulai sholat gue. Begitu pun dia. Sampai selesai.

Continue reading