SPLIT – Saat Kau Memiliki 23 Kepribadian berbeda dalam 1 Tubuh 

Semalam gue iseng cari tau tentang Dissociative Identity Disorder (DID) hanya karena gak sengaja liat istilah itu lewat di wall Facebook gue. Menyasar ke sebuah forum, ke ulasan yang ditulis oleh orang lain hingga ke beberapa video yang disebar di youtube.

Jika gangguan seperti  bipolar, depresi bahkan schizophrenia yang lebih familiar dalam perbincangan kita sehari – hari , namun tidak dengan DID yang mungkin juga baru kita denger istilahnya. DID bukan hanya gangguan terjadinya kepribadian ganda yang terjadi pada seseorang. Menurut yang gue baca penderita DID bisa memiliki belasan, puluhan bahkan ratusan kepribadian yang berbeda dalam satu tubuh yang dimilikinya.

Continue reading

My lowest Point 

Satu dua bulan ke belakang, beberapa teman berkomentar tentang tatapan mata gue yang menurut mereka full of sorrow terutama beberapa pekan ke belakang. Yang bertanya ada yang gue tanggapi dengan senyum ada yang perlu gue jawab meski tidak panjang – panjang. Ada yang bertanya saat dalam perjalanan di dalam mobil, ada yang bertanya via WA hanya karena liat foto gue di FB (padahal fotonya lagi senyum manis loh dengan rambut rapi).

Yang bertanya tentu temen2 yang main sesehari dengan gue dan gak ketinggalan temen2 lama yang udah kenal gue luar dalam. Ya, sepertinya tatapan mata gue mengganggu penglihatan beberapa temen. Sekarang ini lah gue kayak dikasih bukti betapa ungkapan “mata adalah jendela hati”  itu benar adanya. Susah bener nutupinnya memang begitu adanya.

Continue reading

LIMA TAHUN BAPAK TIADA 

Hari ini tepat Rabu 14 Desember lima tahun lalu, dalam sakitnya bapak minta istirahat di kamar gue setelah sholat dzuhur. Gak lama merasa sakit lalu dibantu duduk di sisi tempat tidur dan bapak gue minta pake sendal katanya dia akan pergi jauh. Sambil memeluk mamah gue bapak bilang “sudah ada yang datang”. Semakin kuat meluk sambil bilang “Ya Allah, jangan terlalu sakit”. Gak lama kemudian bapak lemas terkulai dan berpulang selama – lamanya dengan dituntun mamah gue yang tegar. 

Momentum kepergian yang diceritakan mamah karena di saat yang sama gue sedang berlari pulang karena setelah malam begadang menjaga bapak, pagi saya menjaga keluarga saya lainnya yang dirawat di rumah sakit. Bapak gue rebah melintang di tempat tidur gue yang besar. Di telinganya mamah berbisik “yang ikhlas ya pak”. Air mata bapak menetes lalu dia pergi dan gak kembali. 
Kehilangan luar biasa yang pertama gue alami. Beberapa waktu dari itu sesekali gue tidur di kamar persis dengan posisi  bapak gue membujur kaku ketika gue datang. Membayangkan Momentum terakhir beliau ada. 

Lima tahun berlalu dengan cepatnya. Rindu tak jua pernah surut. Melayangkan pandang kemana pun wujudnya tak pernah kembali tampak. Semoga Allah mengabulkan setiap doa yang gue kirimkan untuk menjadi kebaikan bagi almarhum. 
Rindu… 

BAJU ALMARHUM BAPAK

Malem tadi sesampenya gue di rumah gue dipanggil mamah gue ke ruang tamu. Katanya :”udah ya Din, itu baju2 alm bapak sisanya 2 karung di atas dikasihin. Nanti dibawa ke kampung orang itu pasti lebih manfaat dibagiin ke orang lain”.

….. Gue tiba2 diam…

coba inget2 apa aja yang ada di dalam karung. 4,5 tahun ditinggal bapak, gue ngelepas barang2nya sedikit – sedikit.
“duuuh ini topi kesukaannya” (gak boleh di kemana-mana in)
“ini sarung yang paling dia sering pake kalo lagi nonton tv (simpen)
“mah ini jaket kulit Dina yang simpen ya… “(iya)

Dua karung terakhir pakaian yang sepertinya terus gue undur2 pelepasannya. Dan hari ini semua diserahkan ke orang lain tanpa sempet gue sortir lagi barangkali ada yang paling gue ingin simpan.

Terkadang gak merasa cukup menyimpan kenangan di hati dan kepala, kita suka melekatkan kenangan2 akan sesuatu pada benda2 dan tempat2 khusus. Dalam hal ini gue punya sisi sentimentil akut apalagi jika barangnya bersejarah. Gue inget beberapa pekan setelah bapak gak ada kakak laki2 gue mutusin bawa tabung oksigen bapak ke rumahnya untuk keperluan ipar gue yang bidan. Gue berat lepasin tabung itu meski gue bantu turunin lewat tangga. Gue liatin sampe bener2 dimasukin ke mobil.

Di beberapa malam sulit, cuma ada bapak yang sesak bersama gue ditemenin ama tabung itu. Rasanya tentu konyol merasa sedih berpisah ama tabung oksigen. Tapi beberapa hal emang sulit difahami. Hohoho

Ketika di suatu waktu memutuskan mengganti sofa, kursi lama yang rusak dibuang tapi satu kursinya gak terangkut sekaligus dan beberapa hari di sisi rumah kehujanan. Gue dalam hati komentar “butut juga itu kursi tempat bapak duduk. Mah kursinya kehujanan mah..”

Malem ini lepas lagi itu baju2 dan topi. Rupanya gue hanya akan disisakan sebuah jaket kulit.

Ah sisi sentimentil ini kadang bikin segala sesuatu jadi penuh drama *_*

CEMBURU

Pagi tadi saat sarapan, kakak perempuan gue cerita kalo semalem dia memimpikan alm bapak. Di dalam mimpinya bapak sedikit menegur dan memberinya saran. Tapi kakak gue cerita dengan gembira seperti udah ketemu seseorang yang memang udah lama gak dia lihat. Mimpi ini datang setelah cukup lama dari mimpi dia sebelumnya. Entah kenapa kakak perempuan gue sering mimpiin alm bapak dan isi mimpinya mengomentari kehidupan sehari – hari. Seperti waktu gue ngecat rumah dan gak punya ide untuk berapa biaya yang gue perlu siapin untuk bayar tukang, malem itu kakak gue mimpi bapak mengomentari cat rumah bagian atas yang gak rapih. Juga nyuruh bayar sekian untuk tiga tukang. Semalem tadi dia mimpi bapak mengomentari obrolan gue dan keluarga saat makan malam.

Mimpi itu bunga tidur, yang muncul bisa siapa aja. Tapi andaikan saja orang yang pergi dari kita bisa muncul dalam mimpi seperti itu, tiba2 siang tadi gue merasa cemburu. Mengapa kakak gue lebih sering bertemu meski hanya dengan bayangan di mimpi. Padahal terkadang gue berpikir sepertinya gue orang paling terluka karena kehilangan bapak. Tak sehari pun.. Melupakannya. Lalu bagaimana kalo bapak yang melupakan gue…. 😦

4 Tahun

Jam nyaris pukul 02.30 dan gue belum memejamkan mata. Hari ini, 14 Desember kembali datang. 4 tahun lalu jam segini gue lagi duduk di lantai memeluk lutut menahan kantuk, Duduk deket bapak yang lagi di atas sajadah. Bibirnya bergerak – gerak tak bersuara, air matanya mengalir di pipi. Gue mendongakan kepala menyentuh punggungnya bertanya apa sakitnya masih terasa. Dia menggeleng dan menyuruh gue pergi tidur.

Gue gak bergeming.. Tetap duduk disana diam memeluk lutut. Bingung bapak selalu bilang sakit padahal obat sudah diberikan. Malam terasa lebih panjang hari2 tersebut. Harapan gue saat itu semoga Allah meringankan sakit apapun yang dirasakan oleh bapak.

Malam itu diam2 gue menangis duduk di lantai diantara ibu yang mengigau karena kelelahan dan bapak yang terisak di atas sajadah. gelisah menunggu pagi meski  tau pagi hari gue akan bertugas gantiin kakak jagain paman di RS.

Pagi hari saat bersiap pergi ke RS bapak bangun dan berusaha jalan sendiri ke kamar mandi lalu duduk di kursi. Meminta tukang pijit dipanggil ke rumah dan gue pamit pergi ke RS karena kakak harus ke kantor . Andai tau itulah pertemuan yang terakhir, gue memilih gak akan pergi meninggalkannya pagi2. Karena dzuhur gue dipanggil pulang dan mendapatinya udah terbujur kaku. Kembali ke sisi Allah.

Tanpa kata2 selamat tinggal dan sampai jumpa tiba2 aja bapak gak ada. Kami kebumikan dan sampai hari ini akhirnya gak pernah gue liat lagi. Dimana bapak gue? apa di sana Allah baik padanya? Gue memejamkan mata pun wujudnya mulai sulit gue gambarkan.

Hidup baik2 aja tapi rasa kehilangan terus mengikuti. Semakin lama semakin terasa hilang. Masih ingatkah almarhum kepada kami? Masih ingatkah almarhum semua kenangan saat hidup bersama kami?

Gue rindu alm bapak terutama di hari yang tak terlupakan ini.

Kemana Harus Berlari saat Hujan

image

Siang tadi saya merasa konyol  juga sedih. Sekaligus lelah dengan semua hal ini.

Selesai mengajar di jadwal yang kedua waktu menunjukan pukul jam 12.00 WIB. Saya mampir makan bakso rudal sendirian sambil order gojek untuk mengantar pulang karena jalanan hari Sabtu macet sekali. Sambil makan makin lama langit mulai mendung, geluduk bersahutan dan semilir angin mulai terasa sedikit lebih kencang.

Belum juga matahari tergelincir, hujan datang terlalu awal hari ini. Saya pun bergegas menghabiskan bakso dan es kelapa dan berharap bisa segera pergi dari sana. Beruntung abang gojek telah tiba. Saya pun minta segera melaju ke rumah berharap gak kehujanan.

Abang gojeknya santai banget bawa motor, dia bilang kalo hujan dia ada jas hujan. Abangmya gak tau kalo saya gak masalah basah karena kehujanan. Tapi saya cemas hujan kali ini akan sama galak nya dengan hujan pekan lalu yang disertai angin puting beliung.

Jalanan macet banget dan karena tersendat saya pun terkejar hujan. Rintik… Rintik… Lalu makin besar. Dada saya gak karuan. Bagaimana ini langit seram begini dan hujan sudah dimulai saya malah ada di atas motor di tengah kemacetan? Abang gojeknya bilang tenang dan nawarin untuk berhenti pake jas hujan. Saya protes jangan berani berhenti, cepetan bawa saya menjauh dari hujan ini. Dari jalanan terbuka ini.

Dan kami mulai kebasahan. Hujan semakin deras.. Angin makin kencang. Otak saya mulai gak karuan. Gagap ambil keputusan. Buntu saking gugupnya. Saya pun minta diturunkan di sisi jalan selepas melewati pintu tol dan berencana pindah ke angkot. Abang gojek bingung.. Dia bilang dianter sampe tujuan aja. Saya memaksa minta turun. Lalu dengan bingung abangmya berenti dan saya membayar uang gojeknya.

Abang gojek menepi berteduh di sebuah tenda bersama orang lain. Saya hanya berdiri ternyata angkot gak ada yang lewat saat itu juga karena kehilangan macet di kejauhan. Saya gak ingin ikut berteduh disana. Pikir saya angin pasti bisa merobohkan tenda itu. Dan saya gak ingin ada disana menyaksikan angin datang. Saya hanya berdiri cemas. Tanpa ingat buka payung dan tiba2 hujan semakin besar. Setelahnya saya berpikir barangkali abang gojek melihat saya saat itu seperti wanita bodoh. Berdiri kuyup menunggu angkot lain lewat.

Satu angkot gak berhasil saya stop tapi saya berhasil naik angkot selanjutnya. Lega tapi lagi2 saya ingat area rumah pasti lagi hujan deras juga… Saya gak akan berani ambil resiko untuk pulang. Berharap angkot ini cepat lewatin lampu merah karena ternyata di angkot pun saya cemas. Angin besar juga gak enak diliat dari dalam angkot. Tapi macet siang tadi menyebalkan.

Akhirnya saya memutuskan turun di ace hardware. Lari masuk lalu menghela nafas akhirnya saya di dalam bangunan gedung. Saya bisa berputar putar liat2 barang sementara menunggu hujan di luar reda.  Saya berkeliling dan memastikan jauh dari jendela. Basah kuyup rambut dan baju.

Setelah sedikit tenang dan hujan mulai reda saya berpikir apa2an itu tadi? Kalo aja lanjut di ojek meski pake jas hujan saya pasti udah sampai di rumah. Tapi hujan2 galak selalu bisa bikin saya mendapat serangan macam tadi. Gugup dan buntu. Dan saya tidak suka hujan galak.

Semoga hujan pancaroba ini segera berlalu… Siang sore di musim ini sungguh ujian berat untuk saya yang phobia hujan pake angin.

Ah lelahnya……