KEMBALI KE SANGKAR 

Hari ini gue meliburkan diri dari pekerjaan (kecuali mengajar les di sore hari) dan memilih istirahat di rumah. Satu hari sebelumnya, gue sedikit berpikir bahwa gue butuh istirahat dan mundur sejenak serta membuat jarak diri gue terhadap interaksi – interaksi dengan orang lain.  

Beberapa waktu ini gue merasa banyak merasa dan berpikir negatif. Penyebabnya adalah gue yang kadang kayak spon ini serba menyerap perasaan dan suasana sekitar. Gak melulu mood jelek itu adalah gambaran sesuatu yang terjadi ke gue. Bisa aja mood gue terpengaruh oleh kejadian yang menimpa dan dialami orang lain atau suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Kadang gak berurusan langsung ke gue tapi suasana hati orang sekitar kesedot semua. 

Orang cemas, orang kecewa, orang cuek, orang seenaknya,  orang egois, orang resah apa aja mudah nyerep dan mempengaruhi suasana hati gue. Ketika input yang gue terima hal2 gak mengenakan, seringkali kesimpulan yang gue tarik juga gak baik. Negatif kemiring-miringan. 

Sebagian dari diri gue merasa mungkin benar suasana ada yang sedang tidak memuaskan, tapi pasti ada yang keliru jika semua hal tertelan negatif dan membuat gue kurang gembira. Pasti ada masalah di saringan diri gue. Bukankah lingkungan luar semestinya bukan jadi satu2 nya penentu suasana hati gue? Dalam diri kita sendiri lah yang semestinya lebih dominan. 

Jadi gue meliburkan diri. Dimulai dengan tiduran lagi sehabis solat subuh lalu duduk sarapan pagi di depan televisi. Sialnya berita TV didominasi oleh berita artis2 tertangkap karena penyalahgunaan narkoba. Gue pun berpindah channel berharap terhindar dari berita2 kurang asik. 

Lama sekali rasanya gue tidak melakukan ini. Menghabiskan banyak waktu di rumah. Bukan karena gak ada kerjaan atau acara. Tapi memang ingin menghabiskan waktu di rumah. Dan ini menyenangkan. 

Gue santai di depan rumah gak pake mandi pagi lalu nego belanjaan sama tukang sayur. Kembali ke ruang TV lalu ngemilin buah2an sambil ngobrol sama mamah. Lalu liat ponakan pergi ke sekolah. Gue juga mencuci banyak baju. Dari baju yang sudah menumpuk di mesin cuci sampai baju2 menggantung  yang gue sweeping sepenjuru rumah. 

Gue mengumpulkan gelas piring bekas sarapan lalu mulai mencuci piring di dapur. Gue beresin kamar dan menata benda2 yang tidak masuk lemari. Menyapunya hingga bersih. Menarik sprei nya hingga kencang dan rapi. Angkat jemuran lalu Jemur lagi yang lain. 

Gue menata aksesori kalung gue yang berserakan, merapikan kotak2 make up dan buku2 di lemari kamar . Juga menata cemilan di toples2 di meja depan Tv.  Sampai akhirnya gue masak di dapur. Gue mengiris bawang dan cabe untuk masak tumis jamur. 

Capek? Iya tapi tiba2 gue merasa mengistirahatkan diri. Sejenak hanya fokus sama kegiatan2 domestik. Tidak banyak merasa, tidak banyak berpikir dan tidak banyak mendengar. Hidup hanya sesederhana diri gue dan tugas2 di rumah. 

Pekerjaan2 rumah ini bukan berarti gak pernah gue kerjain. Tapi sejak bekerja resmi jadi abdi negara dan mempertahankan mengajar, gue jarang sekali di rumah seharian. Datang dan pulang pun pasti udh dalam kondisi Kelelahan. 

Gue menyukai keputusan gue untuk rehat hari ini. Semoga esok hari saringan diri gue terhadap situasi dan kondisi lingkungan sekitar cukup baik. Satu pinta gue ke diri sendiri, kembali lah berpikir sederhana dan merasa secara sederhana. Kembali mampu menempatkan diri di sudut pandang – sudut pandang positif. Menjauhkan diri dari asumsi2 yang menggiring ke penyimpulan yang keliru. 

Semoga hari esok lebih baik. Hari dimana gue gak mudah merasa takut jika orang lain akan mengecewakan. Ketika gue merasa ringkih, gue tau kemana gue harus kembali. Beristirahat di sangkar. *_*

SPLIT – Saat Kau Memiliki 23 Kepribadian berbeda dalam 1 Tubuh 

Semalam gue iseng cari tau tentang Dissociative Identity Disorder (DID) hanya karena gak sengaja liat istilah itu lewat di wall Facebook gue. Menyasar ke sebuah forum, ke ulasan yang ditulis oleh orang lain hingga ke beberapa video yang disebar di youtube.

Jika gangguan seperti  bipolar, depresi bahkan schizophrenia yang lebih familiar dalam perbincangan kita sehari – hari , namun tidak dengan DID yang mungkin juga baru kita denger istilahnya. DID bukan hanya gangguan terjadinya kepribadian ganda yang terjadi pada seseorang. Menurut yang gue baca penderita DID bisa memiliki belasan, puluhan bahkan ratusan kepribadian yang berbeda dalam satu tubuh yang dimilikinya.

Continue reading

My lowest Point 

Satu dua bulan ke belakang, beberapa teman berkomentar tentang tatapan mata gue yang menurut mereka full of sorrow terutama beberapa pekan ke belakang. Yang bertanya ada yang gue tanggapi dengan senyum ada yang perlu gue jawab meski tidak panjang – panjang. Ada yang bertanya saat dalam perjalanan di dalam mobil, ada yang bertanya via WA hanya karena liat foto gue di FB (padahal fotonya lagi senyum manis loh dengan rambut rapi).

Yang bertanya tentu temen2 yang main sesehari dengan gue dan gak ketinggalan temen2 lama yang udah kenal gue luar dalam. Ya, sepertinya tatapan mata gue mengganggu penglihatan beberapa temen. Sekarang ini lah gue kayak dikasih bukti betapa ungkapan “mata adalah jendela hati”  itu benar adanya. Susah bener nutupinnya memang begitu adanya.

Continue reading

LIMA TAHUN BAPAK TIADA 

Hari ini tepat Rabu 14 Desember lima tahun lalu, dalam sakitnya bapak minta istirahat di kamar gue setelah sholat dzuhur. Gak lama merasa sakit lalu dibantu duduk di sisi tempat tidur dan bapak gue minta pake sendal katanya dia akan pergi jauh. Sambil memeluk mamah gue bapak bilang “sudah ada yang datang”. Semakin kuat meluk sambil bilang “Ya Allah, jangan terlalu sakit”. Gak lama kemudian bapak lemas terkulai dan berpulang selama – lamanya dengan dituntun mamah gue yang tegar. 

Momentum kepergian yang diceritakan mamah karena di saat yang sama gue sedang berlari pulang karena setelah malam begadang menjaga bapak, pagi saya menjaga keluarga saya lainnya yang dirawat di rumah sakit. Bapak gue rebah melintang di tempat tidur gue yang besar. Di telinganya mamah berbisik “yang ikhlas ya pak”. Air mata bapak menetes lalu dia pergi dan gak kembali. 
Kehilangan luar biasa yang pertama gue alami. Beberapa waktu dari itu sesekali gue tidur di kamar persis dengan posisi  bapak gue membujur kaku ketika gue datang. Membayangkan Momentum terakhir beliau ada. 

Lima tahun berlalu dengan cepatnya. Rindu tak jua pernah surut. Melayangkan pandang kemana pun wujudnya tak pernah kembali tampak. Semoga Allah mengabulkan setiap doa yang gue kirimkan untuk menjadi kebaikan bagi almarhum. 
Rindu… 

BAJU ALMARHUM BAPAK

Malem tadi sesampenya gue di rumah gue dipanggil mamah gue ke ruang tamu. Katanya :”udah ya Din, itu baju2 alm bapak sisanya 2 karung di atas dikasihin. Nanti dibawa ke kampung orang itu pasti lebih manfaat dibagiin ke orang lain”.

….. Gue tiba2 diam…

coba inget2 apa aja yang ada di dalam karung. 4,5 tahun ditinggal bapak, gue ngelepas barang2nya sedikit – sedikit.
“duuuh ini topi kesukaannya” (gak boleh di kemana-mana in)
“ini sarung yang paling dia sering pake kalo lagi nonton tv (simpen)
“mah ini jaket kulit Dina yang simpen ya… “(iya)

Dua karung terakhir pakaian yang sepertinya terus gue undur2 pelepasannya. Dan hari ini semua diserahkan ke orang lain tanpa sempet gue sortir lagi barangkali ada yang paling gue ingin simpan.

Terkadang gak merasa cukup menyimpan kenangan di hati dan kepala, kita suka melekatkan kenangan2 akan sesuatu pada benda2 dan tempat2 khusus. Dalam hal ini gue punya sisi sentimentil akut apalagi jika barangnya bersejarah. Gue inget beberapa pekan setelah bapak gak ada kakak laki2 gue mutusin bawa tabung oksigen bapak ke rumahnya untuk keperluan ipar gue yang bidan. Gue berat lepasin tabung itu meski gue bantu turunin lewat tangga. Gue liatin sampe bener2 dimasukin ke mobil.

Di beberapa malam sulit, cuma ada bapak yang sesak bersama gue ditemenin ama tabung itu. Rasanya tentu konyol merasa sedih berpisah ama tabung oksigen. Tapi beberapa hal emang sulit difahami. Hohoho

Ketika di suatu waktu memutuskan mengganti sofa, kursi lama yang rusak dibuang tapi satu kursinya gak terangkut sekaligus dan beberapa hari di sisi rumah kehujanan. Gue dalam hati komentar “butut juga itu kursi tempat bapak duduk. Mah kursinya kehujanan mah..”

Malem ini lepas lagi itu baju2 dan topi. Rupanya gue hanya akan disisakan sebuah jaket kulit.

Ah sisi sentimentil ini kadang bikin segala sesuatu jadi penuh drama *_*

CEMBURU

Pagi tadi saat sarapan, kakak perempuan gue cerita kalo semalem dia memimpikan alm bapak. Di dalam mimpinya bapak sedikit menegur dan memberinya saran. Tapi kakak gue cerita dengan gembira seperti udah ketemu seseorang yang memang udah lama gak dia lihat. Mimpi ini datang setelah cukup lama dari mimpi dia sebelumnya. Entah kenapa kakak perempuan gue sering mimpiin alm bapak dan isi mimpinya mengomentari kehidupan sehari – hari. Seperti waktu gue ngecat rumah dan gak punya ide untuk berapa biaya yang gue perlu siapin untuk bayar tukang, malem itu kakak gue mimpi bapak mengomentari cat rumah bagian atas yang gak rapih. Juga nyuruh bayar sekian untuk tiga tukang. Semalem tadi dia mimpi bapak mengomentari obrolan gue dan keluarga saat makan malam.

Mimpi itu bunga tidur, yang muncul bisa siapa aja. Tapi andaikan saja orang yang pergi dari kita bisa muncul dalam mimpi seperti itu, tiba2 siang tadi gue merasa cemburu. Mengapa kakak gue lebih sering bertemu meski hanya dengan bayangan di mimpi. Padahal terkadang gue berpikir sepertinya gue orang paling terluka karena kehilangan bapak. Tak sehari pun.. Melupakannya. Lalu bagaimana kalo bapak yang melupakan gue…. 😦

4 Tahun

Jam nyaris pukul 02.30 dan gue belum memejamkan mata. Hari ini, 14 Desember kembali datang. 4 tahun lalu jam segini gue lagi duduk di lantai memeluk lutut menahan kantuk, Duduk deket bapak yang lagi di atas sajadah. Bibirnya bergerak – gerak tak bersuara, air matanya mengalir di pipi. Gue mendongakan kepala menyentuh punggungnya bertanya apa sakitnya masih terasa. Dia menggeleng dan menyuruh gue pergi tidur.

Gue gak bergeming.. Tetap duduk disana diam memeluk lutut. Bingung bapak selalu bilang sakit padahal obat sudah diberikan. Malam terasa lebih panjang hari2 tersebut. Harapan gue saat itu semoga Allah meringankan sakit apapun yang dirasakan oleh bapak.

Malam itu diam2 gue menangis duduk di lantai diantara ibu yang mengigau karena kelelahan dan bapak yang terisak di atas sajadah. gelisah menunggu pagi meski  tau pagi hari gue akan bertugas gantiin kakak jagain paman di RS.

Pagi hari saat bersiap pergi ke RS bapak bangun dan berusaha jalan sendiri ke kamar mandi lalu duduk di kursi. Meminta tukang pijit dipanggil ke rumah dan gue pamit pergi ke RS karena kakak harus ke kantor . Andai tau itulah pertemuan yang terakhir, gue memilih gak akan pergi meninggalkannya pagi2. Karena dzuhur gue dipanggil pulang dan mendapatinya udah terbujur kaku. Kembali ke sisi Allah.

Tanpa kata2 selamat tinggal dan sampai jumpa tiba2 aja bapak gak ada. Kami kebumikan dan sampai hari ini akhirnya gak pernah gue liat lagi. Dimana bapak gue? apa di sana Allah baik padanya? Gue memejamkan mata pun wujudnya mulai sulit gue gambarkan.

Hidup baik2 aja tapi rasa kehilangan terus mengikuti. Semakin lama semakin terasa hilang. Masih ingatkah almarhum kepada kami? Masih ingatkah almarhum semua kenangan saat hidup bersama kami?

Gue rindu alm bapak terutama di hari yang tak terlupakan ini.