LIMA BELAS RIBU PERAK

image

Siang ini saat beresin kamar gue nemuin catatan keuangan gue di sebuah buku agenda. Sepertinya ini catatan sekitar tahun 2003 yang artinya pada saat menulis catatan itu gue masih seorang mahasiswa semester 6 atau 7. Kayaknya waktu itu gue lagi jalanin resolusi untuk lebih tertib secara keuangan baik mencatat uang masuk maupun uang keluar untuk gue telaah setelahnya atau sebagai peluit kalo keborosan kumat.

Sedikit senyum bacanya karena yang gue catat sampe yang sepele-sepele. Tercatat sisa harta (begitu gue menyebutnya) pada awal catatan adalah 198.000 lalu bertambah setelah uang saku gue hari itu sebesar 15.000 rupiah masuk. Wah 12 tahun lalu uang jajan gue 15.000 sehari dan itu harus cukup untuk operasional gue sebagai mahasiswi yang kampusnya jauh dari rumah. Bertahun – tahun udah bisa cari uang sendiri dan mampu membiayai hidup sendiri catatan ini bikin termenung juga berapa kali inflasi yang gue lewati ya dan udah berapa fase hidup yang udah gue lewati.

image

Kala itu gue bergantung hidup dari uang 15.000 per hari yang dikasih oleh orang tua dan harus cukup. Sepertinya tahun itu dengan uang 3000 gue udah bisa makan dan biaya transportasi gue sekitar 7000 – 8500. Ampe uang 2000 upah ngerokin (sepertinya bapak) gue catat sebagai pemasukan. Dan ada biaya telp umum 100 perak. Hahahahaha catatan dari masa lalu gini udah kayak mesin waktu. Kertas bisa menyimpan sesuatu yang di ingatan kita bahkan udah samar dan terlipat-lipat ingatan baru. Menyenangkan beresin kamar siang ini gue seperti diingatkan lagi seperti apa kondisi gue di masa lalu.

Jasa orang tua tiada batasnya, mereka menyokong kita di saat kita belum mampu berdiri sendiri. Memastikan kita tercukupi meski pasti dalam keterbatasan mereka sendiri. Dan sekarang gue berdiri sebagai anak yang udah dewasa dan mampu membiayai diri sendiri. Gue jadi terharu.

Ebetewe, kalo sekarang uang 15.000 dipake naek gojek sekali selesai bahkan gue gak akan bisa pulang 🙂

Advertisements

Perjalanan ke Desa Cidugaleun Tasikmalaya (1)

image

Sabtu Minggu kemarin saya dan keluarga besar melakukan perjalanan ke sebuah desa di kawasan Singaparna Tasikmalaya. Lokasi desa yang kami sambangi lumayan berada di dataran tinggi kawasan gunung Galunggung. Niat kedatangan kami adalah mengantar sepupu laki2 saya menikah dengan seorang perempuan yang kampung halamannya di desa tersebut.

Sabtu siang kami meluncur dari kota Bogor sebanyak kurang lebih 30 orang. Melewati tol cipularang, kemudian melewati cileunyi Bandung dan kami pun meluncur ke Tasikmalaya melewati Kota Garut.

Continue reading

Pohon Kersen

image

Pohon kersen begitu saya menyebutnya. Saya tak tau persis nama umum lainnya. Pohon ini sepertinya banyak dan sembarangan tumbuh di banyak tempat sekalipun tidak sengaja ditanam. Pohonnya merebak ranting dan daunnya meneduhkan. Buah2nya kecil2 hijau dan akan merah glossy saat matang.

Sampai sedewasa ini, setiap melihat pohon kersen apalagi yang berbuah jiwa anak2 saya muncul. Saya pasti menoleh atau mendongak memperhatikan adakah buah yang merah. Sayang, karena seringnya liat di lingkungan orang lain saya udah gak pantas layaknya anak2 berebutan naik atau menggapai dahan hanya untuk memetik buahnya. Maklum,jaga image-laaah.

Pohon kersen rasanya jadi salah satu pohon kenangan masa kecil saya selain pohon kenari sepanjang jalan. Ahmad Yani Kota Bogor. Masa kecil saya banyak dihabiskan bermain-main dengan kawan dibawah pohon ini. Sesekali memanjat, sesekali membawa sebilah bambu panjang ataupun bahu membahu dengan kawan2 saya meraih dahan dan memetik buahnya.

Continue reading

Nyubuh di Bulan Ramadhan, masih adakah?

Alhamdulillah, sudah tiba kembali kita di bulan Ramadhan. Bulan yang selalu mendatangkan sukacita bagi umat muslim dimanapun mereka berada.

Saya baru saya menyelesaikan tadarusan saya setelah sholat subuh tadi. Di suasana bulan puasa, pagi ini mengantarkan rindu kepada salah satu aktivitas bulan puasa di masa saya kecil. Nyubuh namanya.

Nyubuh seperti namanya adalah kegiatan jalan-jalan pagi selepas sholat subuh di bulan Ramadhan. Rasanya zaman kecil saya aktivitas ini marak sekali. Saya salah satu pelakunya. Entah kenapa, lupa mulai tahun yang mana seiring alih generasi sepertinya kebiasaan nyubuh pun mulai berkurang dan menghilang.

Continue reading

Es Goyang – Jajanan SD Penuh Kenangan

image

Yang pernah jajan es beginian waktu SD ngacuuuuung…. ?!

Wah beruntung banget saya bisa nemuin jajanan zaman SD dulu waktu car free day beberapa waktu lalu di sekitaran sempur. Dulu saat kecil saya suka banget es ini. Ada warna pink ada putih. Kalo saya suka warna putih karena rasanya kelapa dan bercampur butiran kacang hijau.

Ah zaman kecil mana mikir pewarnanya apaan. Bahkan pas kemarin nemu di car free day aja saya gak mikir lama. Langsung lari mendekat dan menyaksikan si abangnya bikin es2 baru.

Continue reading

Nasib Rumah Makan Sunda jalur Bandung Via Puncak

image

Sepi ya.. rumah makannya kurang rame. Padahal malam itu kebetulan masih ada 3 meja yang terisi sih. Lumayan. Mobil yang parkir pun ada beberapa.

Sepanjang perjalanan ke Bandung lewat puncak kemarin saya lihat rumah makan sepanjang jalur Cipanas, cipatat , cianjur hingga Padalarang banyak yang sepi. Bahkan gak sedikit yang kosong melongpong sudah tak ada isinya.

Pada zamannya dulu, sepertinya bisnis rumah makan di daerah situ semarak sekali. Maklum, untuk ke Bandung umumnya orang2 melewati jalur puncak. Bis2 bekerja sama dengan rumah makan dan biasanya di perjalanan berhenti sesaat dan penumpang tak sedikit yang ikut makan.

Continue reading

Bioskop Usang

image

Beberapa hari lalu, saya ikut ke pasar tradisional di Kota saya mengantar ibu. Bukan mengantar dalam artian sebenarnya sih, motif utama adalah saya mau ikut sarapan ketupat padang si Uni pagi itu. Ya, si Uni emang berjualan di pasar.

Sambil menelusuri pedagang-pedagang, sesekali saya dan ibu berhenti. Sementara ibu saya bertransaksi menawar barang saya berdiri memandangi sekeliling, pedagang lain, menoleh memperhatikan kejadian-kejadian umumnya di pasar tradisional. Hingga akhirnya saya agak menengadah dan mendapatkan bangunan tinggi besar dan plang-plang sisa yang mengisyaratkan bahwa pada masanya dulu, gedung itu adalah sebuah bioskop.

Zaman saya SD dulu, tepat di gedung yang saya foto di atas adalah satu gedung toserba Plasa Dewi Sartika. Dibawahnya semacam food court aneka jajanan, di lantai 2 departemen store, dan di lantai 3 ada supermarket dan bioskop 21.

Lokasinya dulu nyaman untuk didatangi. Jalan di depan gedung bersih dari PKL. Di sebrang gedungnya ada sebuah toko buku dan alat tulis Dewi sartika. Saya sering kesini. Jajan bersama orang tua, membeli baju, atau sekedar belanja kebutuhan supermarket.

Beranjak besar saya mulai mengenal bioskop. Sering saya menonton film-film di bioskop ini bersama kawan2 saya. Bahkan jika sedang punya banyak uang jajan seperti masa-masa lebaran saya bisa pergi ke bioskop setiap hari dalam seminggu berturut-turut dan menonton film-film yang berbeda.

Saya masih ingat lobi bioskop dan kursi2 melingkarnya, ingat tangga2 tempat saya dan teman2 duduk menunggu pintu studio dibuka. Ingat aroma pop corn dan pojokan tempat menjual minuman. Ingat moment2 bertemu teman sekolah tak sengaja disana, atau ingat bagaimana duduk dari kejauhan memperhatikan sepasang kawan terlihat datang bersama ke bioskop sementara di sekolah telah tersebar rumor mereka berpacaran.

Pagi itu, saya melihat plang2 kosong dan usang tempat dahulu bioskop ini memajang gambar2 film yang sedang diputar. Plasa dewi sartika pun jauh lebih acak2an, lantai satu dipenuhi oleh toko2 dan pedang kaki 5. Pedagang2 di pasar menyeruak ke jalanan dan menghabiskan separuh jalanan dengan hamparan sayur mayur.

Ya, bioskop 21 dewi sartika itu pada akhirnya tak mampu bertahan. Selain memang dilemahkan oleh sisi kenyamanan lingkungannya yang berhimpitan dengan pasar, di Kota bogor sejak beberapa tahun ke belakang mulai bermunculan mall2 baru dan tak ketinggalan bioskop2nya. Lokasi-lokasi yang lebih strategis, dilengkapi lahan parkir yang cukup dan bersinergi dengan toko2 dan pusat2 jajanan khas mall2 zaman sekarang.

Remaja era sekarang mungkin tidak mengalami atau setidaknya hanya mendengar dari cerita, bahwa dahulu ada bioskop 21 Dewi Sartika yang pernah berjaya dalam memfasilitasi gairah warga Bogor dan sekitarnya untuk menonton film2 di Bioskop.

Hal sama pernah diceritakan ibu saya tentang bioskop2 di masa lampau di zaman beliau. Ceritanya selalu sama, bioskop besar kala ibu saya remaja telah usang terlebih dahulu dan saat saya kecil sudah melihatnya sebagai gedung lama yang teronggok tak berguna.

Sepertinya hukum ke-usangan ini hanya menunggu waktu. Sebuah bioskop yang besar di era siapapun harus bersiap untuk menjadi usang jika tidak mampu terus memperbaharui diri dan menyerah digempur bioskop2 baru yang siapa tahu akan datang di masa depan.

*bioskop pada gambar adalah bioskop 21 di Plasa Dewi Sartika. Percaya tak percaya dulu, tepat dibawah bioskop itu adalah kelas saya di sekolah lama. Yang saya tempati selama satu tahun sebelum akhirnya kenaikan kelas 2 SD sekolah di relokasi ke tempat lain dan di bangunlah mall ini