JEDA

image

Gue semalem ini baru selesai meneguk secangkir coklat panas. setelah selesai membereskan kamar lalu membersihkan diri gue baru sadar kalo esok pagi tibalah gue kembali ke kantor. Bukan hanya ke kantor, tapi artinya kembali ke rutinitas lainnya seperti mengajar belasan murid les selama seminggu sepulang kantor. 2015 bagi gue adalah tahun bekerja. Entah bagaimana awalnya tapi sepanjang tahun gue merasa kehilangan banyak waktu beristirahat. Istirahat yang gue maksud adalah bukan hanya merebahkan diri dan leyeh-leyeh di atas kasur, tapi gue butuh mengistirahatkan pikiran dan diri gue dari segala ketergesaan.

Rutinitas terasa selalu sama, bangun di pagi hari dan tergesa menembus jalanan pagi agar tidak terlambat masuk kantor. Baru saja duduk mau mengerjakan tugas kantor hp sudah berbunyi kalo gak orang tua murid ya muridnya sendiri memastikan jadwal les nanti sore. agak siang sedikit bunyi lagi satu atau dua murid meminta pendapat tentang soal. semuanya tak ada masalah karena gue tau konsekuensi memiliki dua profesi. pagi sebagai abdi negara, sore hingga malam gue sebagai pengajar matematika. Dalam satu minggu gue bekerja 9 jam setiap harinya di kantor, sore hingga malam gue pergi mengajar 2 murid yang kadang rumahnya saling berjauhan. 8 murid lainnya akan gue temui setiap weekend tiba. sesak…Ya sesak karena di antaranya gue tetep harus menyisipkan waktu untuk keluarga dan teman2. Bukan saja mereka membutuhkan mereka, gue jauh lebih membutuhkan mereka.

Continue reading

Advertisements

MEMBACA ITU KEMEWAHAN

Sore hari lebaran ini karena udah bingung mau ngapain (selain makan… Tidur… Makan… Tidur) saya berjalan mendekati rak buku saya di kamar dan memilih salah satu buku lalu membuka segel dan mulai membacanya (di kamar mandi)

Di awal2 buku itu penulis mengatakan bahwa zaman sekarang membaca adalah suatu kemewahan. Saya pribadi tidak bisa tak setuju karena jika mau jujur istilah mewah itu begitulah adanya. Kemewahan dalam hal ini bukan berarti membaca baik itu buku, artikel di media atau bahkan blog menjadi begitu sulit diraih karena terlalu mahal dan memerlukan biaya. Mewah dalam hal ini karena seringkali kita kesulitan memiliki waktu dan kekhusyuan kala membaca sesuatu.

Penyebab ketidakkhusyuan membaca ini akibat sulitnya kita fokus dan memiliki kesadaran yang baik akan yang sedang kita kerjakan. Sering isi pikiran kita berlompatan kesana kemari dan berujung berpindah-pindahnya konsentrasi dan bikin kita sulit dengan khusyuk menikmati sesuatu. Termasuk diantaranya membaca .

Continue reading

BEGAL BIKIN CIUT AJA

Belakangan ramai diucapkan kata begal dalam keseharian kita baik dalam perbincangan, berita di surat kabar maupun televisi dan media sosial. Istilah begal dari hasil penyimpulan pribadi gue yang gak sempet ngintip kamus ini sebagai cara seseorang atau kelompok kriminal merampas sesuatu dari tangan korbannya di jalanan. Ya… Mirip jambret ya.. Tapi jambret rasanya lebih spesifik ke perampasan tas atau perhiasan. Begal terasa lebih kasar dan beringas dan setidaknya yang mereka rampas minimal kendaraan bermotor yang digunakan korbannya.

Berbeda dengan maling yang mengambil barang incarannya dengan sembunyi-sembunyi, copet yang ambil barang incarannya diam-diam bahkan jambret yang merampas barang sambil melarikan diri, begal terkesan lebih sadis dari perampok yang dalam bayangan gue hobby menggasak apapun incarannya sampai habis dan melukai jika korban melawan. Begal terasa lebih kejam. Merampas paksa barang incarannya dan cenderung melukai dengan senjata tajam,tanpa pandang bulu.

Continue reading

Beruntunglah Kalian Orang Padang

Ada yang bikin gue bahagia menjadi orang Indonesia, salah satunya adalah saat gue duduk manis dan khusyuk melahap kupat padang. eh kupat padang mah cara gue ngebahasainnya kalo ama mamah gue, entah penyebutan aslinya apa.

Kupat padang itu ketupat sayur khas orang minang sana. Ketupat diiris, disiram 2 jenis sayur (sayur nangka dan sayur daun pakis), makan dilengkapi oleh balado telor, mie, kerupuk merah dan sala. Gue sering beli di pasar anyar atau titip mamah gue kalo kebetulan dia ke pasar.
Continue reading

LiburanKu Sayang Liburanku Malang

Sejak jadi pegawai pemerintah daerah tahun ini, jam kerja gue sedikit berubah. Dari yang leluasa dengan waktu luang, pekerjaan baru bikin gue punya jam kerja baku dan rutin. jam 7 pagi sampe 4 sore, selama 5 hari dalam seminggu. Gak gitu berat sebenernya karena jam kerjanya masih wajar. yah sesekali lembur sampe melewati magrib di kantor atau masuk di hari sabtu atau minggu saat pekerjaan banyak rasanya masih masuk toleransi.

Masalahnya adalah waktu gue juga tersita juga dengan pekerjaan sampingan lama gue yang gak gue lepasin. ngajar *_* jadi sebubarnya jam kantor sekitar jam 4 sore, gue akan pergi mengajar les 2 bahkan 3 murid dalam 1 hari di tempat berlainan. jadi baru sekitar jam 9 malam gue bisa tiba di rumah. heboh dengan tas berbiji – biji yang isinya segala barang keperluan dari jas hujan, jaket, buku, payung, helm, dll.

Continue reading

Akhir Tahun, Hujan dan Sore

Apa yang paling gue bayangkan saat ini dan pengen banget gue wujudkan adalah duduk – duduk santai di sore hari di suatu tempat yang nyaman dan santai. Entah itu hanya duduk dengan seseorang yang dekat dengan gue, menyeruput minuman dari gelas besar atau minuman hangat di cangkir keramik yang antik atau berkumpul dengan 4 – 5 orang kawan lalu berbincang sampai tergelak menertawakan sesuatu.

Suasana akhir tahun seperti ini rasanya jadi moment yang pas karena Desember adalah bulannya hujan, dan hujan selalu mampu menyemarakan sore hari dan menentramkan petang (cat : hujannya bukan hujan dar der dor yak…). Duduk di suatu resto dengan kaca jendela yang menjulang dan basah, ngobrol di meja kayu di pojokan sambil liat suasana hujan di luar. Saling bercerita panjang lebar,bertukar rahasia atau duduk berduaan sama – sama diam dan sibuk membaca buku masing – masing. Suasananya disempurnakan oleh lagu – lagu yang nyaman di telinga. lagu – lagu easy listening yang bikin ritme waktu tidak tergesa dan waktu dibuat berputar lambat.

Continue reading

Sholat Tarawih Bersama Anak Autis

Di deket kawasan rumah gue, ada satu keluarga yang anaknya berkebutuhan khusus. Secara raga ia sehat, cantik malah. Gadis cilik autis itu terus beranjak dewasa. Sesekali melihatnya bermain di jalanan sepi gue suka berharap keluarganya gak kelupaan untuk mengawasinya atau setidaknya anak itu bisa menjaga dirinya jika ada tangan2 jahil.

Sholat tarawih malam ini anak gadis autis itu baris di barisan shaf sama ama gue. Bersebelahan. Ketika baru aja mulai berdiri untuk sholat Isya, anak itu menengok ke arah gue dan memiringkan kepalanya lalu tiba2 bertanya :

“Ini lebarannya kapan?, kita sholat terus”

Nyaris mengucap niat sholat Isya tapi gue gak tahan menyembunyikaan senyum gue. Akhirnya gue pun sholat terlambat sedikit karena kembali harus menjawab pertanyaannya.

“Lebarannya masih jauh…” jawab gue sedikit berbisik.

Dia tanya lagi : “memang tukang ketupatnya udah nyampe mana?”

Gue senyum makin lebar tapi kemudian teringat gue bisa terlambat memulai sholat. Sambil memberikan isyarat untuk dia juga diam, gue memulai sholat gue. Begitu pun dia. Sampai selesai.

Continue reading