Sop Buntut Mang Endang (Incu Mak Emun)

image

Siang tadi dalam sejarah perjajanan gue, pertama kalinya gue pergi makan siang dengan menu sop buntut sendirian. Sop Buntut Mang Endang ini udah terkenal dan kalo gak salah pernah disambangi oleh Pak Bondan mr kuliner di TV itu.

Sop buntut Mak Emun emang terkenal di Bogor ini. Kalo gak salah ada beberapa gerai di tempat berlainan. Nah kayaknya Mang Endang ini merupakan keluarga juga dari Mak Emun, dan sama terkenalnya.
Continue reading

Advertisements

Mie Kocok Mawar

image

Mie kocok sebetulnya bukan makanan baru untuk lidah saya. Selain karena setiap berkunjung ke Bandung menemani bapak saya pulang kampung kami sering menyantap mie kocok, dahulu saat bapak saya masih hidup di rumah kami sering membuatnya sendiri.

Mie kocok sebenarnya tidak memiliki penampakan jauh beda dengan mie ayam dan soto mie lainnya. Ya ya mie kocok memang tampil beda dengan taburan kikil yang menjadi ciri khas. Sisanya barangkali standar, mie, baso, sayuran, dan kuah.

Selepas bapak saya meninggal, beberapa kali saya kangen makan mie kocok. Kakangenan itu terbayar ketika akhir Mei lalu saya mendadak ke Bandung menghadiri pemakaman uwa (kakak perempuan alm bapak). Saya sempat memakan mie kocok di sekitar cihampelas dengan dua orang kawan pria.

Minggu lalu saya mendadak ingin makan mie kocok lagi. Lalu teringat kalo di Kota Bogor ada mie kocok terkenal di daerah Mawar (merdeka). Pulang bekerja pun saya mampir dan membeli mie kocok di sana.

1 porsi cukup Rp 20.000 saja. Saya minta ditambahkan kikil setengah porsi ke dalamnya. Sehingga saya membayar Rp 34.000 untuk sebungkus mie kocok dengan taburan kikil yang hura-hura banyaknya 🙂

Mie kocok super berisi mie, tauge, sayuran, baso dan kikil sedemikian banyak sukses saya makan bersama 2 anggota keluarga lain di rumah. Enak. Saya beri nilai 9,25 untuk mie kocok mawar.

Malam ini saya kembali mampir untuk membeli mie kocok pesanan kakak saya. Suasana warung mie kocok agak berbeda dengan minggu lalu. Malam ini begitu ramai (barangkali karena minggu lalu baru selesai hujan). Saya antri nyaris 35 menit sambil sesekali meringis melihat banyaknya pelanggan makan di tempat dan kerumunan pembeli untuk dibawa pulang yang belum dilayani.

Tapi untuk pembeli yang begitu banyak, dan peracik mie kocok yang hanya sendiri (pegawai lain berbagi tugas yang lain seperti melayani minum, merecah kikil dan membungkus) saya nilai cara kerja mereka cukup efektif.

image

Awalnya saya bingung, itu cantingan untuk merebus mie dan sayurnya kok gede banget. Apa gak kebanyakan gitu ya? Saya juga bingung kok ngisi cantingan tadi ampe berkali-kali. Selang seling. Mie – toge – sayur lalu ditumpuk lagi mie – toge – sayur. Banyak amat ya porsinya, pikir saya.

Belum lagi cantingan yang gede itu sekali rebus bisa sampai 4 cantingan. Oleh mamangnya ditumpuk sekaligus kemudian direndam di wajan. Saya sibuk memperhatikan dengan seksama (ya daripada melamun yang enggak2 hoho).

Saya lebih terkesima lagi waktu liat mie dan sayur itu dituangkan ke deretan mangkuk. 1 cantingan ternyata untuk mengisi 2 mangkuk. Cukup ditunggingkan sedikit tumpukan mie – tauge – sayur bagian atas berpindah ke mangkuk. Tunggingkan lagi lalu mie – tauge – sayur bagian bawah masuk ke mangkuk lain. Tanpa harus dipilah dan dibagi-bagi. Keren.

Jadi sekali rebus, akan ada 8 mangkuk siap disajikan. Teknis merebus dengan susun menyusun gitu baru loh saya liat. Keren. Cerdas. Tukang mie ayam taman kencana perlu studi banding neh ke Mie kocok mawar karena mereka masih suka keteter kalo pembeli banyak.

Ow ow..air liur saya pun nyaris menetes. Haha sudah malam, makin lapar, dan liat mie kocok orang lain di mangkuk sungguh menggoda. Saya pun kembali membayar sebesar Rp 34.000 untuk mie kocok pesanan versi saya. Kemudian membawanya pulang untuk disantap bersama.

Lokasi mie kocok ini cukup mudah dijangkau. Bisa menggunakan angkutan 07 Merdeka – warung jambu dari stasiun Bogor. Turun di pasar mawar, warung mie kocok ini ada di pojok toko sebelah kiri. Konon sih bukanya katanya sore.

Gak mesti nunggu ke Bandung untuk berburu mie kocok enak. Di Kota Bogor sendiri pun bisa dapat dengan rasa yang tak kalah mumpuni. Kamu yang ingin mencobanya, segera sambangi saja pasar mawar sore hingga malam hari. Dan rasakan nikmatnya lidah kita menari-nari.

Kesederhanaan Makan Di Warung Nasi Khas Sunda

image

Entah kapan mulainya mereka berada disana, namun tengoklah di sekitaran jalan Bina Marga Kota Bogor dan beberapa tempat lainnya. Banyak bertebaran warung tenda dari gerobak dan kursi kayu ditutupi tenda sederhana. Ya warung nasi khas Sunda. Di atasnya terpajang beragam jenis masakan, gorengan, sambal hingga lalapan. Sederhana namun meriah.

Beberapa waktu lalu tenda2 ini bertebaran di sepanjang jalan pajajarann sisi terminal. Namun sepertinya keberadaannya dianggap mengganggu lalu lintas sehingga dipindahkan. Saya belum pernah terpikir untuk makan disana karena makan di sisi jalan besar dan sisi terminal kok ya saya bayangin polusi udara kendaraan yang lewat ya.

Continue reading

Nasi Kuning dan Ketupat Sayur Jalan Heulang

image

Selamat pagi dari Kota Bogor….

Saya mau share sarapan saya pagi ini ah. Pagi ini saya sarapan di satu jalan yang bernama Jalan Heulang. Teman2 saya sesama alumni SMPN 5 Bogor mungkin agak familiar dengan jalan ini.

Yup, Jalan heulang adalah jalan di sisi Lapangan SMKN 1 Bogor (dulu kita mengenalnya dengan SMEA Negeri). Jalan ini dilalui oleh angkot 16 Salabenda – pasar anyar atau pun 07 biru Bojong Gede – Pasar anyar. Lokasi gerobak dagangnya tepat di sebrang SMKN atau pas di depan pagar rumah dinas polisi.

Kamu yang terbiasa bolak – balik kantor imigrasi Kota Bogor, jalan heulang persis jalan sebelah kanannya kantor Imigrasi.

Continue reading

ES Krim Mas Doto (Sukasari Bogor)

es krim Mas Doto

Awal minggu ini saya nonton ceriwis di rumah ketika saya iseng-iseng di depan TV. Ceriwis hari itu menceritakan si Papam dan si Panda menjemput Ruben Onsu ke rumahnya yang ternyata berada di Bogor (jiah baru tau rumahnya Ruben itu di Bogor… ). Nah acara ceriwis itu akhirnya jadi acara kuliner mereka bertiga. Mereka makan soto santen di warung tenda depan Mesjid Raya, makan surabi yang di jalan sukasari, dan makan es krim jalanan yang entah dimana itu lokasinya, saya belum pernah makan.

Nah es krim yang di makan tim ceriwis itulah yang menggugah air liur mengalir sampe dagu *hiyaks :). Saya lihat es krim di sajikan dalam balutan roti (suka banget emang ama es krim pake roti). trus dibalut oleh kertas coklat yang biasa dipake nyampul buku. kertas sampul coklat itu bikin es krim disajikan tampak klasik. berasa di zaman dulu.

Continue reading

Sayur Genjer – Katanya sayur orang miskin

Nasi liwet Taman Koleksi

Tepat di sebelah mall Botani Square Kota Bogor ada tempat makan yang lumayan sering saya kunjungi. Cafe taman koleksi namanya. Cafe ini ada di pelataran taman koleksi kampus Institut Pertanian Bogor. Letaknya tepat di ujung bersebalahan dengan pintu masuk mall.

Pertama kemari saya makan menu Nasi Liwet Taman Koleksi ini. Menu rekomendasi kawan SMA saya yang bernama Ara. Nasi liwet ini seperti tampak pada gambar terdiri dari nasi liwet yang dibungkus oleh daun pisang, goreng ayam (ada pilihan empal juga),ikan asin, sambel, lalapan dan tumis genjer.

Dalam postingan ini yang mau saya ceritakan adalah sayur genjer tadi. Di cafe tersebutlah dan pada menu itulah saya pertama kali mencicipi yang namanya sayur genjer 🙂 Sungguh, nama yang amat familiar di telinga karena banyak di sekitar saya sesekali menyebutkan salah satu jenis sayuran ini namun saya tidak pernah benar – benar memperhatikan bentuk, rasa apalagi memakannya. Semua karena di rumah saya, mamah saya belum pernah menyajikan sayuran ini di atas meja makan.

Continue reading

Bubur Ayam – sisi Matahari dept store Bogor

bubur ayam

Saya bukan seorang ahli kuliner, maka jangan tanya sama saya apa makanan ini enak atau enggak. selama rasanya rata2 normal saya tidak terlalu peka untuk merasakan perbedaan satu dan lainnya. oke, begitulah adanya. kekurangan apa kelebihan ya? 🙂

Foto makanan di samping adalah foto bubur ayam yang saya makan beberapa waktu lalu. Tepatnya saya lupa sedang janjian dengan siapa hingga saya ke tempat itu lagi.

Bubur ayam ini dulu hampir setiap hari menjadi menu sarapan saya. Letaknya tepat di sisi Matahari Departemen store Jl. Kapten Muslihat yang gk terlalu jauh dari stasiun Bogor. Rata – rata yang makan adalah para pekerja yang mungkin menuju stasiun yang memilih kereta sebagai transportasi bekerja. Bisa juga orang – orang yang menjadikan toko kecil tersebut sebagai tempat transit.

Ketika saya kuliah beberapa tahun yang lalu, saya salah satu yang menjadikannya tempat transit. Disanalah saya janjian dengan teman saya Revi, yang kemudian akan dilanjutkan dengan angkot lain menuju kampus IPB Darmaga.

Continue reading