Sepeda – Hadiah Seorang Ayah

sepeda

Siang tadi saya duduk di sebuah angkutan umum menuju ke suatu tempat. Tempat duduk favorit saya adalah duduk di pojok dan me-rileks-kan kaki saya terutama jika angkutan itu kosong. Lain halnya jika penuh, saya lebih suka duduk di dekat pintu.

Dari depan sebuah pasar tradisional tidak jauh letaknya dengan tugu kujang, naiklah sebuah keluarga ke dalam angkutan yang penumpangnya hanya saya itu. Sebuah keluarga kecil,seorang anak laki – laki berusia sekitar 4 tahun,  sang ibu wanita berkerudung yang sederhana memegang seplastik es alpuket dan sang ayah yang mengangkat sebuah sepedayang nampaknya masih baru.

Saya baca suasana hati si anak yang riang dan ceria. Kemungkinan dikarenakan sepeda yang sedang di pegang sang ayah adalah miliknya. Si ibu yang saya perkirakan hatinya sedang puas dan merasa senang karena sudah membelikan anak kesayangannya sebuah sepeda. Sang ayah tampak sedikit lebih kalem, tenang dan seperti sedang memikirikan sesuatu. Orang2 macam ini agak butuh konsentrasi tinggi untuk dapat membaca isi hatinya.

Continue reading

Advertisements