Kemana Bapak?

Coba tanya saya sampai saat ini apa hal paling menyedihkan yang pernah saya alami. Saya akan jawab pertanyaan itu dengan “kehilangan alm bapak di dunia ini dan berpisah alam tanpa pernah melihatnya lagi”.

Semakin lama waktu berlalu,semakin banyak tanya yang memenuhi kepala. KEMANA? DIMANA? BAGAIMANA BISA? KENAPA? BAGAIMANA CARANYA BERTEMU? :((

Belakangan bayangan bapak selalu memenuhi kepala saya. Semakin terbayang sosoknya saat masih ada, semakin sakit dada saya karena gak bisa melihatnya kemana pun mata saya memandang.

Rasanya seperti ribuan patah hati disatukan. Gak banyak kalimat pas untuk menggambarkan rindunya. Hanya ingin ia kembali dan ada.

Saya mencintaimu, bapak. Dengan segenap rindu yang nyaris membunuh ini.

Hujan Setahun Lalu

Semalam ini tenggorokan saya tercekat, hidung saya perih dan bulir-bulir air mata ini menetes dengan derasnya. Saya ingat sedang apa dan dimana saya malam jumat satu tahun lalu. Malam yang jauh berbeda.

Saya ada di Rumah Sakit dan gemeteran dan menangis seraya berdoa agar sakit alm bapak saya diredakan. Malam Jumat dengan hujan amat deras, alm bapak saya merintih-rintih kesakitan. Malam itu saya cuma mampu mundur beberapa langkah dan balik badan mencari tempat untuk berlari.

Hujan yang suaranya masih terbayang itu di mesjid rumah sakit lantai 2, saya duduk bersimpuh memohon dengan hati yang amat kecil berharap Allah meringankan sakit bapak saya yang dari magrib kesakitan.
Continue reading

19 Oktober Tahun Lalu

Tahun 2012 ini sudah tiba kembali di tanggal 19 Oktober. Kenangan saya kembali ke 19 oktober tahun lalu, hari dimana saya masih mengingat kejadian-kejadian pada hari itu.

Siang hari Rabu itu saya janji jumpa dengan Mira kawan baik saya. Banyak hal yang berkecamuk di kepala dan menghimpit dada, banyak hal yang bertumpuk di bahu. Saya sedih,cemas sekaligus letih secara psikis.

Siang itu saya duduk di satu tempat makan bersama Mira, bicara apapun yang ingin saya katakan. Mengutarakan semua hal yang membuat saya sedih dan kesal. Saya mengurai satu per satu keresahan saya dan merasa lega setelahnya. Lalu mulai berbicara sendiri kemudian harus apa, akan apa, biarlah nanti bagaimana.
Continue reading

Cukupkah Bagimu, Pak?

Dear bapak,
Bagaimana kabarmu disana, sebaik apa yang saya bayangkan kah?

Senja ini dada saya sesak, mata saya perih dan segala yang ingin saya ucapkan dalam doa rasanya tercekat di ujung tenggorokan.

Cukupkah apa yang saya lakukan belakangan ini pak? Cukupkah apa yang selalu saya mohonkan kepada Allah atas dirimu? Cukupkah segala harapan dan doa yang saya panjatkan baik saat gelap maupun terang, saat hujan maupun terik? Hanya untukmu.

Saya pernah lalai tak banyak mendoakanmu ketika bapak masih hidup. Saya menangis memohon kesembuhanmu kepada Allah di malam-malam hujan. Saya terbata meminta Allah mengurangi sakitmu dalam setiap rintihan.

Mungkin saya terlambat, waktu yang tersisa untuk meminta kebaikan bagi hidupmu tak terlalu banyak. Saya pernah lalai dalam masa yang panjang.

Sekarang saya mengucap namamu dalam setiap doa, berharap dengan segenap hati Allah mengabulkan setiap harapan yang saya ucap. Cukupkah semua yang saya minta pak, cukupkah?

Saya akan selalu meminta kebaikan Allah bagimu Pak, berharap Allah memberimu tempat kembali yang terbaik. Berharap Allah mempertemukan kembali kita sekeluarga di tempat yang terbaik.

Semoga Allah mengabulkan setiap doa saya untuk bapak, amin. Amin yaa robbalalamin.