MENGENANG BAPAK DI IDUL ADHA

Embeeeeee….. Embeeeeee……. Terdengar suara domba di sisi jalanan malam dimana saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis mengajar. Kalo aja gak denger suara takbir saya mungkin lupa sesaat kalo malem ini adalah malam takbiran jelang Idul Adha besok. Mata saya menatap kambing / domba sepanjang jalan. Ya tahun ini saya tidak berkurban seperti tahun sebelumnya karena di saat yang bersamaan ada pengeluaran yang amat besar yang tidak kalah penting.

Idul adha mengingatkan saya kepada almarhum bapak. Sepanjang perjalanan pulang saya terdiam dan rekaman idul adha bapak yang terakhir berputar terus di pikiran saya. Idul Adha tahun 2011, saya gemas dan jengkel kepada bapak karena keras kepalanya. Dia adalah pasien yang baru seminggu keluar dari rumah sakit dan 9 hari dirawat dengan 3 hari pertama mesti di ICU karena terkena serangan jantung medium.

Saya memintanya untuk tidak ikut campur di kegiatan pemotongan kambing, untuk kali ini saja. Beristirahat. Serahkan ke pengurus lain. Tapi bapak tak bergeming mendapat permintaan seperti itu. Tahun itu dia tetap memimpin dan memandu proses pemotongan hewan kurban di mesjid karena uwa saya sebagai ketua DKM sedang di tanah suci. Para pekerja dan warga mesti dipandu dan diarahkan tapi saya berharap bapak mendelegasikan kepada orang lain. Bukan itu saja, seorang kawannya yang melakukan pemotongan beberapa ekor sapi pun dia bantu proses sampai selesai pendistribusian ke warga. Jadilah di saat yang bersamaan bapak hilir mudik ke dua tempat meski jaraknya hanya ratusan meter saja.

Saya kehabisan kata2… Ingin melarang dia pergi malam itu untuk mengecek kesiapan pemotongan hewan kurban. Dipakainya sweater abu tebal nya. Dia berjalan perlahan ke ojek yang saya telp untuk mengantarnya ke tempat pemotongan hewan. Dia akan letih jika jalan kaki.

Bapak saya bener2 deh. Kemana itu bapak yang baru aja saya jagain di rumah sakit? Yang saya jaga di ICU beberapa hari? Seperti orang sehat aja. Tapi seperti itulah bapak saya, kemauannya keras dan tanggung jawabnya besar. Tapi…. Ah..

Hari idul adha tiba dan saya memasukan obat2an bapak saya ke kantung. Saya memperhatikannya dari jauh, dia memang jadi tak terlihat sakit. Gesit mengatur para pekerja dan warga yang bantu membantu mengurus hewan kurban. Celananya selutut berwarna krem, kausnya putih tipis dan dia menyangkutkan handuk kecilnya di leher dan memakai topi coklat menutupinya dari terik matahari.

Saya menyodorinya makanan lalu memintanya meminum obat yang udah saya bawa. Semakin siang dia tampak mulai kelelahan tapi saya cuma diam karena dia akan marah kalo saya interupsi kalo dia lagi repot. Hari itu bahkan bapak harus menyelesaikan kesalahpahaman warga yang yah ada aja yang merasa tidak puas kalo ada pemotongan hewan. Saya mengejarnya sambil minta dia untuk tenang menyelesaikannya, gimana kalo tensinya naik? Konon siang itu bapak saya bereaksi cukup keras sehingga masalah siang itu tidak sampai berlanjut dan selesai. Mungkin karena itu bapak gak bisa merem mata dan melepas urusan hewan kurban hari itu. Belum rasa tanggung jawabnya karena mewakili uwa yang tidak ada di tempat.

Sore hari di rumah dia tidur terungkap. Lelah.. Tapi semua warga dan pekerja selesai mendistribusikan daging kurban. Bapak minta dipijat dan dikerok tukang pijit. Ah…. Pak. Bener2 deh. Pasien satu ini kelelahan dan masuk angin. Tinggal saya yang merengut dan menggerutu karena hari ini bapak terlalu atraktif. Dia gak mendengar gerutu saya…

Fisiknya tidak prima saya masih mengobati nya rutin ke dokter pasca hari itu dan betul aja hanya 1 bulan dari itu bapak kembali drop dan masuk RS untuk kedua kali dan benar2 meninggalkan saya dan keluarga di penghujung tahun ke sisi Allah SWT.

Ah suara takbir ini memicu rindu yang dalam. Idul adha dan melihat banyak pekerja mengurus daging kurban jadi moment saya sadar bahwa bapak saya sudah tiada. Itulah idul adha nya yang terakhir dan bapak telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya yang terakhir setelah berpuluh tahun membantu sebagai pengurus.

Waktu terus berjalan tanpanya Idul Adha tetap berjalan seperti biasanya. Hanya ada seorang anak di sini yang merindukan bapaknya. Anak yang cerewet dan berselisih pendapat minta bapaknya lebih banyak istirahat agar pulih benar kesehatannya. Apa kabar mu pak? Semoga Allah jadikan bapak hamba yang beruntung untuk mencecap surga atas semua kebaikan bapak selama di dunia. Kebaikan bapak kepada kami sekeluarga.

Semoga Allah menjabah doa2 anak yang rindu kepada almarhum orang tuanya.

Bogor, 24 september 2015

Selamat hari ini Raya Idul Adha

One thought on “MENGENANG BAPAK DI IDUL ADHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s