BELAJAR BERPUASA (#NulisRandom2015 – 27)

Berada di bulan puasa seperti saat ini bikin saya harus siap kalo2 telinga panas dan seperti gak ada bosan cerita saya belajar puasa waktu kecil diulang-ulang udah kayak kaset kusut. Kelakuan saya waktu belajar puasa saat kecil sering diungkit ibu saya jika sedang bernostalgia saat berbincang santai. Walau waktu berlalu sangat lama, aura gemes dan jengkel ibu saya masih aja tersisa.

Saya sih gak masalah jadi bahan cerita karena selain itu kebenaran, cerita berpuasa masa kecil saya adalah kenangan hidup yang akan selalu saya kenang sebagai masa kanak2 yang menyenangkan. Gak enaknya cuma itu satu, cerita saya suka jadi bahan percontohan (contoh jelek) yang diperdengarkan ke adik2 sepupu saya. Dan seakan mendapatkan senjata dan kesempatan, mereka suka jadiin itu bahan ejekan. Fiuh.

Saya tiga bersaudara dan saya anak bungsu dengan badan berisi dari kecil. Ibu saya selalu cerita betapa merepotkannya mengajari saya berpuasa. Sahur sih sahur, lalu bermain lincah dengan teman lain. Tapi mendekati jam 10 saya mulai kacau. Rewel karena haus dan lapar. Saya akan uring2an di rumah, bingung antara ingin buka atau enggak. Di saat yang bersamaan ibu saya merasa beruntung punya dua anak lain yang patuh, tabah dan anteng jalanin puasa.

Lah saya? Hahaha

Jam2 dzuhur rumah mulai gak tenang karena saya rewel. Ibu saya akan berusaha membujuk agar saya sabar menunggu magrib tiba, sementara nenek yang gak tega seringkali langsung ambil nasi dan lauk pauk agar saya berbuka. Tapi sekalipun ingin saya gak akan berani kalo bapak dan ibu saya belum mengangguk tanda menyetujui saya buka tengah hari.

Saat kanak2 saya menghabiskan waktu berpuasa dengan bermain rumah2an, masak2an, bahkan menggelar komik2 dan menyewakan untuk dibaca teman lain. Kadang saya berhasil melewati puasa seharian, kadang goyah saat ada tukang kue lewat namun bertahan setelah ditenangkan ibu dan dibelikan kue namun dia yang akan menyimpannya sampai magrib.

Hari lainnya saya kalah dan seakan menjadi sekutu, nenek saya membela saya dan akhirnya saya berbuka tengah hari. Saya masih ingat posisi saya duduk di lantai makan di balik pintu kamar agar makanan saya gak bikin kakak saya ngiler (sebenernya biar mereka gak liat trus ngejek). Drama sejenis berulang terus sampai saya melewati masa anak2 dan beranjak remaja.

Pernah suatu sore saya berjalan – jalan dengan 3 orang teman menanti magrib. Di jalan kaki istirahat di bawah pohon melinjo. Saya memetik beberapa buahnya dan tiba2 saya merasa sangat lemas. Saya pun pulang dan tiba di rumah jam 5 sore kemudian uring2an. Seisi rumah membujuk saya kalo jam berbuka tanggal 1 jam lagi. Uwa saya bahkan mengusap – usap saya yang tergolek di kursi seakan sesaat lagi akan pingsan. Sore itu hari kegagalan saya. Jam 5 sore lewat dikit akhirnya semua menyerah dan membiarkan saya minum dan berbuka. Hoho.

Cerita kerewelan dan kisah2 saya makan di balik pintu sampe saat ini udah seperti kaset kusut yang terus diputar kalo ada kesempatan. Saya yang sudah dewasa kadang merasa geli dan konyol dengerin kisah masa kecil kayak gitu. Tetapi kan setiap anak tidak mesti sama. Tidak mudah saat diajari berpuasa, tapi pasti saya punya kelebihan di sisi lain. (apa misalnya, Berat badan? Hush jangan ngejek diri sendiri. LOL)

One thought on “BELAJAR BERPUASA (#NulisRandom2015 – 27)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s