NELEN OBAT

Di suatu obrolan santai dengan beberapa sahabat baik saya dari SMA di suatu petang, kami menertawakan diri kami sendiri karena 3 dari 4 orang yang duduk makan di resto sore itu punya masalah dengan menelan obat2an. Menelan obat yang untuk sebagian orang adalah hal biasa tapi tidak bagi kami.

Saya sering bermasalah menenggak obat. Pernah suatu kali saya flu lalu memutuskan untuk meminum obat yang saya beli dari warung. Dengan konsentrasi tinggi saya simpan obat tadi di ujung pangkal lidah lalu menelan air. Tapi keamatiran saya justru membuat obat itu terkunyah aja di geraham sementara air minumnya tertelan. Lain waktu saya sakit dan dokter memberikan saya obat berbentuk kapsul tapi bukannya licin tertelan itu obat, saya malah menyebabkan obat kapsul tadi menempel lengket di langit2 mulut hahaha.

Berulangkali gagal membuat saya sering memutuskan menggerus obat menjadi bubuk halus sebelum meminumnya. Pahit? Tentu saja. Tapi rasa pahit jauh lebih pasti daripada mencemaskan apa obat itu berhasil tertelan atau saya tersedak karenanya. Namun menggerus bukan kemudian tidak ada resiko. Pernah saya menggerus antibiotik yang ukurannya besar dan rasa pahitnya sulit hilang dari sepenjuru mulut. Dua buah jeruk dan menggosok gigi tak membuatnya lebih baik.

Sore itu kami menertawakan diri kami sendiri. Salah satu dari kami sore itu adalah seorang dokter dan sepertinya dia cuma bisa geleng2 aja denger kekonyolan kami gak bisa nelen obat. Bahkan setelahnya kami takjub tatkala dia bilang 10 obat butiran kecil mestinya juga bisa masuk tertelan bersamaan.

Tak bisa menelan obat bukan berarti kami tak berusaha. Selain menggerus saya sesekali mencobanya menelan biasa jika obat itu berapa kapsul kecil. Itu pun harus dengan konsentrasi dan tenang tanpa gangguan. Teni kawan saya satunya bahkan mendemokan bahwa dia selalu berhasil jika menelan obat dia bantu dengan menelan pisang atau nasi. Kemudian dia memotek sedikit egg toast dari piring saya lalu memasukan sebuah kaplet lalu menelannya. Pamer kemampuan sekaligus membuktikan ceritanya.

Ketidakmampuan kami menelan obat sama sekali tidak membanggakan. Menggelikan bisa jadi. Hal ini bisa merepotkan kalo saat sakit datang dan kami harus menelan obat yang tidak sedikit. Tapi moga kekonyolan ini bisa jadi pertimbangan Yang Maha Kuasa untuk menjaga kesehatan kami dan meminimalisir kemungkinan kami diharuskan menelan butiran2 pahit itu. Dan semoga dokter saya khususnya selalu sabar kalo saya nego ukuran2 obat saat dia menuliskan resep saat saya berobat.🙂

One thought on “NELEN OBAT

  1. Obat berbentuk sirup berarti tidak terbatas hanya untuk bocah-bocah saja ya, tante-nya bocah juga harus selalu mempertimbangkan bentuk sirup kalo mesti minum obat XDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s