BEGAL BIKIN CIUT AJA

Belakangan ramai diucapkan kata begal dalam keseharian kita baik dalam perbincangan, berita di surat kabar maupun televisi dan media sosial. Istilah begal dari hasil penyimpulan pribadi gue yang gak sempet ngintip kamus ini sebagai cara seseorang atau kelompok kriminal merampas sesuatu dari tangan korbannya di jalanan. Ya… Mirip jambret ya.. Tapi jambret rasanya lebih spesifik ke perampasan tas atau perhiasan. Begal terasa lebih kasar dan beringas dan setidaknya yang mereka rampas minimal kendaraan bermotor yang digunakan korbannya.

Berbeda dengan maling yang mengambil barang incarannya dengan sembunyi-sembunyi, copet yang ambil barang incarannya diam-diam bahkan jambret yang merampas barang sambil melarikan diri, begal terkesan lebih sadis dari perampok yang dalam bayangan gue hobby menggasak apapun incarannya sampai habis dan melukai jika korban melawan. Begal terasa lebih kejam. Merampas paksa barang incarannya dan cenderung melukai dengan senjata tajam,tanpa pandang bulu.

Menjadi masalah adalah ketika media dan kita sebagai warga masyarakat sering melabeli suatu tindak kriminal sejenis sebagai peristiwa pembegalan. Setiap apa2 disebut begal, penjambretan pun ikut dibilang begal. Pokoke semua disebut begal. Saking masifnya penggunaan istilah begal bikin kita menyimpulkan ini begal bener2 lagi ngetrend dan “mewabah”.

Situasi ini cukup merugikan misalnya untuk orang2 seperti gue dan pekerja lain yang beraktifitas sampai malam hari. Jadi banyak cemasnya gitu loh.. Sekalipun diantar jemput pake motor oleh saudara, kadang gue meminta dia memilih jalan lain yang sedikit memutar agak jauh kalo sekiranya rute yang akan dilewati jalanan gelap sepi misalnya. Pernah juga saat menuju rumah saya minta yang bonceng menepi dulu di tempat ramai sesaat mau masuk kawasan sepi dan membiarkan motor di belakang kami melaju lebih dulu. Parno pan jadinya curiga ama orang padahal tu orang gak kenapa2..hoho.

Tapi tindakan preventif begitu tetep perlu diambil, sebutlah itu sebagai kewaspadaan bukan paranoid. Karena sampe sekarang pemberitaan begal masih aja sering muncul di media. Terakhir di kota Bogor sekitar 2 pekan lalu ada yang sampe tewas karena mencoba merebut kembali motor yang dirampas. Dan lokasi peristiwa penembakan oleh begal itu harus gue lewatin setiap Kamis malam sepulang ngajar. Dan minggu lalu lewat situ mana pas gak dijemput dan 30 menit nunggu angkot di jalanan sepi saat magrib campur gerimis. Hiks

Urusan begal ini jujur merampas rasa nyaman. Kesan begal yang tanpa ampun terhadap korbannya munculin kegelisahan tersendiri. Padahal kalo sekalinya mereka ketangkep dan babak belur oleh massa apalagi sampe dibakar, hati kecil manusia yang wajar pasti merasa kasihan juga.

Begal ini sungguh PR untuk pihak kepolisian untuk mengembalikan rasa aman masyarakat dan PR pemberitaan untuk menelaah fenomena kemunculan begal yang belakangan cukup marak dan merumuskan solusi penangkalan dan pencegahannya. Jika begal ditengarai merupakan komplotan dari daerah tertentu, mungkin bisa dibantu dikaji secara sosiologis mengapa fenomena begal ini muncul.

Begal ini berhasil bikin ciut dan mempersempit ruang gerak gue dan mungkin masyarakat lain terutama para wanita. Khususnya kami yang pulang setelah hari gelap. Semoga rasa aman itu kembali datang dan Allah senantiasa melindungi kita dari hal2 buruk. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s