7 Hari 24 Jam

7 hari 24 jam

7 hari 24 jam

Gak susah untuk mutusin nonton film ini dalam sekali lirik sesaat gue masuk ke lobi XXI Botani Square beberapa waktu lalu. Selain memang gue haus nonton film setelah sekian lama gak ada waktu nonton (gak ada temennya juga…zzz…zzz), sore itu kebetulan gue gak ada jadwal ngajar. Jadi sebubarnya jam kantor gue pulang ganti baju lalu minta salah satu temen untuk nganterin.

Film ini berjudul 7/24, beberapa dari kita pasti tau lah maksud 7/24 adalah 7 hari dalam seminggu full sebanyak 24 jam. Nama Dian Sastro yang terpampang di poster film bikin gue gak ragu menontonnya sore ini.

Setelah nonton, lepas dari berhasil atau enggaknya film ini di pasaran (gue gk ikutin perkembangannya) gue seneng Indonesia menelurkan film genre beginian. Sebagai penikmat serial2 komedi situasi ala amerika atau film2 romantis komedi, film ini ringan untuk dinikmati dan tetep menarik. Yak kecuali lu cuma ngerti ama humor2 frontal yang kadang justru jd kasar dan garing.

7/24 menceritakan sepasang suami istri yang sukses dan mumpuni dalam dunia kerja mereka masing2. Si Istri yang diperanin Dian Sastro adalah manager andalan bos-nya di kantor sebuah perusahaan keuangan. Si Suami yang diperanin Lukman Sardi adalah pengacara sukses yang menelurkan karya2 bagus.

Keduanya sibuk dengan kerjaan mereka dan jam kerja yang gak match sering bikin waktu mereka saling terbalik. Sulit ketemu, jarang bercengkrama tapi mereka sama2 berusaha dan saling ngerti profesi masing2 dan asik2 aja ama perkawinan macam gitu.

Sampe akhirnya Prasetyo (Lukman Sardi) kolaps di lokasi syuting akibat kelelahan dan kurang tidur. Tania (Dian Sastro) sibuk ngurus suaminya di RS malem hari dan tetep berjibaku dengan pekerjaannya siang hari.

Inti dari film ini dimulai ketika akhirnya Tania juga sakit dan akhirnya dirawat di ruangan yang sama dengan suaminya. Mereka dipaksa bersama-sama selama 24 jam dalam seminggu dibawah perawatan dokter yang sama di suatu rumah sakit.

Banyak hal yang terjadi dalam kebersamaan yang ironis ini. Banyak percakapan2 lucu, pertengkaran, terkuaknya gaya mereka ngurus kerjaannya masing2 saat temen2nya satu per satu gantian nengok.

Seminggu bersama-sama kembali mengukuhkan perasaan cinta kedua suami istri ini dan mereka teguh dalam kesepakatan bahwa pernikahan tidak untuk saling mengekang pasangannya untuk mengejar mimpi dan ambisi mereka dalam karir masing – masing.

Keluarga dan kesehatan tentu hal yang penting, namun membiarkan pasangan hidup kita menjadi dirinya sendiri dan berkembang menjadi terbaik versi mimpinya juga cara mencintai itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s