Mari Kita Ke Nanggung

Hari Jumat ini, saya diajak rekan kantor saya mengunjungi salah satu gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) di Desa Malasari dalam suatu kegiatan pembinaan. Malasari secara administratif masuk ke wilayah Kabupaten Bogor tepatnya Kecamatan Nanggung yang berbatasa dengan Lebak dan Sukabumi dan berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.

Berangkat dari kantor sekitar pukul 8 pagi dan berkumpul dengan rekan lain di Leuwiliang saya sudah mendapatkan peringatan dari beberapa orang bahwa lokasi yang akan saya kunjungi cukup jauh dan medannya cukup berat untuk motor yang boncengan. Mata saya pun melirik anggota rombongan lain dan menatap motor mereka satu per satu. Cuma saya yang boncengan karena saya kan gak bisa pake motor huhuhu.

Nyaris ciut sebelum melaju saya bertanya lagi sekedar meyakinkan kawan saya Roby bahwa dia akan sanggup membonceng saya sampe ke atas gunung sana. Entah merasa gak tega menyuruh saya pulang lagi atau memang ingin mengajak saya, saya pun pasrah dan berjanji dengan diri saya sendiri gak akan rewel di jalan seberat apapun nanti perjalanannya.

Dari Leuwiliang saya dengan enam orang lainnya meluncur ke arah nanggung. Karena ini hari Jumat, kami pun istirahat di tengah jalan dan memberi kesempatan kepada rekan – rekan yang pria untuk menunaikan sholat Jumat. Perjalanan berlanjut dan saya dengan Roby memilih arah yang keliru. Semakin melaju kok semakin sepi dan gak liat temen lain. Jalan yang dilewati pun mulai gak bersahabat, menukik turun lalu menanjak terjal.

Selain mulai pegangan lebih erat, saya mengingatkan kawan saya untuk menurunkan saya kalo jalanan terlalu terjal karena selain saya sendiri ngeri, kan kasian dia juga (berusaha sadar diri hoho). Tiba – tiba jalanan menanjak dan saya tidak juga diturunkan. Cuma bisa pegangan dan merem berharap motor kami sukses nanjak. Dan berhasil.

Tanjakan lainnya saya memilih turun dan jalan kaki. Capek sih memang, tapi saya janji untuk gak rewel dan ngerepotin kawan saya sendiri di perjalanan. Mari tabah aja gamblok tas yang berat ngesot di jalanan nanjak.

Di tanjakan lainnya keberuntungan kami gak berlangsung lama. Roby yang bonceng saya maksa naik jalanan menanjak tanpa terlebih dahulu menurunkan saya (Mungkin dia gak tega liat saya jalan kaki). Di jalan bebatuan ini motor kami pun gagal naik. Mundur yang ada. Huhu. Tapi anehnya saya bisa turun darurat dan kemudian menahan motor dan kami pun terhindar dari jatuh bersama. Dua kali ngalamin motor mundur dan dua kali pula selamat.

Ternyata kami salah arah dan malah terpencar dengan rombongan. Beruntung ada kawan lain yang menyusul mengikuti kami dan perjalanan pun dilanjutkan ke arah yang tepat. Jauuuuuh… selain jalan bagus tapi saya harus lewatin hutan dan hutan. Malasari semacam desa dibalik gunung. Setelah naik lalu turuuuuuun…dari hutan berganti lagi ke pemandangan sawah, itu tanda kami nyaris tiba.

Saya takjub menyusuri jalanan menuju Malasari ini. Takjub bukan saja karena berpikir Indonesia itu begitu luas, tapi takjub karena Kabupaten Bogor sebegini luasnya. Ini baru Nanggung, belum rumpin dan parung panjang sana. Ini Bupati kelilingnya gimana ya…?

Tiba di Malasari pemandangan alamnya enak dipandang mata. Hamparan sawah, tanah bebukitan dan padi2 yang menguning. Naik turun? Yak teuteup🙂 beruntung perjalanan ini berujung dengan sambutan tuan rumah yang ramah, ayam goreng kampung yang yummy dan kejutan bahwa saya bertemu kawan seangkatan saya yang bertugas jadi guru di desa yang nyempil jauh di balik gunung ini.

Sebelum gelap setelah sholat ashar kami pulang menuju kota. Mengingatkan kawan saya bahwa beresiko melewati hutan kalo sudah gelap. kali ini saya dibonceng kawan lain yang terbiasa dengan medan perjalanan kecamatan Nanggung dan baru berpindah ke motor kawan kantor saya setelah jalannya sedikit bersahabat.

Kami tiba di Leuwiliang saat adzan magrib dan sempet kehujanan lalu berteduh cukup lama di sisi jalan sebelum akhirnya tiba di kantor. Malem itu saya tiba di rumah nyaris pukul 22.30. Jangan tanya saya mana foto2 perjalanan kali ini. Karena fokus ke keselamatan diri dan denger suka ada begal di jalan bikin saya gak berani keluarin HP dan narsis di perjalanan.

Boro mau narsis, sepanjang perjalanan selain berdoa juga saya merasa membebani yang bonceng. Jadi gak neko2 dan gak rewel mudah2an cukup membantunya untuk tetap ikhlas sepanjang perjalanan.

Walau capek dan gempor lalui perjalanan jauh, tapi perjalanan kali ini untuk saya cukup menantang dan menyenangkan. Saya antusias untuk mengunjungi daerah kabupaten lainnya di lain kesempatan. Tapi… saya merepotkan orang lain gak ya nanti…? *_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s