Berdisiplin Terhadap Uang

Hari ini entah gimana mulainya gue terlibat perbincangan mengenai uang dengan seorang kawan. ya kawan baru yang kebetulan jadi rekan kerja di kantor yang sekarang. Kawan ini sebaya ama gue tapi udah berumah tangga dan punya anak. Ada statementnya yang simple tapi jadi pernyataan yang paling jleb dari semua kata – katanya sepanjang obrolan.

buat saya, uang 50 ribu, 20 ribu, bahkan 10 ribu itu sangat berharga

Bukan berarti uang sebesar itu jadi kertas langka yang dia punya. Kalo tau pola fikir yang bersangkutan mengenai penggunaan uang untuk kebutuhan hidup pernyataannya di atas bisa kita mengerti bahkan cenderung memecut diri *_*

ah, siapa sih yang gak sepakat kalo uang itu memang berharga? pecahan manapun tentu berharga. Rasanya kita akan selalu sepakat akan hal ini. Yang membedakan adalah gak semua orang tau alasan tepat khususnya alasan bagi dirinya sendiri mengapa uang bagi kita bergitu berharga.

Obrolan semula berawal dari ngomongin gimana gue atau dia mencatat pemakaian uang sehari – hari. ah…gue juga sesekali mencatatnya kok biar tau uang kemana aja larinya tapi ya gitu gak pernah berlanjut lama, alias gerakan yang muncul di resolusi2 awal tahun kayak nyatet keuangan, hemat, dll biasanya cuma anget – anget tai  ayam. hohoho

Kawan gue ini cowok dan kepala rumah tangga. cowok yang jadi kepala rumah tangga pastinya kebayang lah apa aja post keuangan yang umumnya jadi tanggungan yang bersangkutan. Sandang, pangan, bahkan papan dan kebutuhan dasar minimum anak dan istri tentu jadi perhatiannya. aneh? kagak….keren? biasa aja..lumrah bukan?

Tapi yang menjadi titik perhatian gue adalah besarnya komitment orang satu ini untuk mendahulukan kebutuhan keluarga dan biaya – biaya yang mengiringinya (seenggaknya gue tau dari cerita dia). Kadang kita emang perlu keras ama diri sendiri saat akan mutusin keluarin uang untuk sesuatu. Gak mudah juga sih nge-pause diri untuk kemudian bertanya tentang sesuatu yang akan kita tuker ama uang kita. “ini penting gak ya?” – “ini gue beneran butuh atau pengen semata ya?? – dan seandainya sama – sama butuh pertanyaan selanjutnya adalah “hmm …kira – kira mana yang paling urgent? duluin mana neh??”

Dari ceritanya sepertinya kawan gue ini bisa komit dengan visinya saat nentuin mana pengeluaran yang perlu, gak perlu atau bisa ditunda. Ya gak tau juga sekeras apa dia sama dirinya sendiri saat mengesampingkan keinginan – keinginan dirinya sendiri terutama yang tersier – tersier. gue berpikir setiap dari kita memiliki pola pikir masing – masing dan punya gaya masing – masing untuk survive. seenggaknya hasilnya adalah kebutuhan sandang, pangan, papan keluarganya terpenuhi dengan layak dan bahkan kebutuhan jangka panjang tentang pendidikan udah nempel di kepala dia. menurutnya terpenuhinya semua kebutuhan dasar minimum keluarganya adalah kebahagian dia sendiri. meskipun untuk itu dia menjadi “keras” pada dirinya sendiri. Disiplin membayar cicilan, menahan diri membelanjakan sesuatu untuk dirinya, fokus menyediakan rumah, kebutuhan pangan keluarga, membayar iuran, dll. Mungkin ini yang dinamakan tanggung jawab.

Sekarang mari ngomongin gue yang diem – diem ter-jleb oleh cerita dan kata – katanya. gue dan uang? hmmmmm…….

baiklah, gimana cara gue mengakui dosa? tepatnya harus mulai dari mana? hohohoho

sebenernya gak bisa gitu aja membandingkan gue ama dia dalam memutuskan hal – hal yang terkait dengan keuangan pribadi. dia cowok berkeluarga dan kepala rumah tangga yang udah memiliki tanggungan di bahunya. sementara gue cewek masih lajang dan resminya belum ada tanggungan.

Tapi dalam masalah cermat mengatur keuangan harusnya sih sama sekalipun peruntukannya berbeda. Barangkali benar karena gue belum berumah tangga jadi visi misi gue akan keuangan diri gue belum jelas. mau mengejar apa, menyediakan apa dalam hidup, merencanakan apa di masa depan dalam beberapa hal masih kabur dan kesulitan merincinya. yah kalo bilang belum ada rel hidupnya bisa aja gue ditimpuk lajang – lajang lain yang udah aware duluan ama keuangan mereka.

Apapunlah yang terjadi di masa lalu dan gimana cara gue belanjain uang gue, seenggaknya sehabis obrolan tadi hati gue terkitik – kitik (sumpah ini gak jelas bahasa apaan hahaha) untuk kemudian berpikir untuk juga berdisiplin urusan keuangan gue. dan pelajaran lainnya adalah gak salah juga sepertinya kalo kita pengen nekat untuk beli atau cicil sesuatu yang penting dalam hidup sekalipun untuk membayarnya kita harus mengesampingkan kebutuhan lain yang pastinya bisa ditunda.

jadi apa yang perlu dikoreksi? hmm biaya kuliner? biaya jalan-jalan dan berkumpul dengan temen2?, biaya jajan? biaya beli pernak pernik gak jelas? bisa – bisa kecoret semua dah. ah baiklah, mari kita pikirkan secara rinci nanti. seenggaknya obrolan hari ini menginspirasi dan sekaligus menegur diri gue sekalipun gue yakin kawan bicara gue gak bermaksud demikian.

mari berencana dan mengatur keuangan lebih baik. InsyaAllah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s