AWAS TERTABRAK KERETA ….!

image

Hari kemarin, 9 Desember 2013 dan hari ini media cetak, televisi hingga sosial media diramaikan oleh berita kecelakaan kereta api yang bertabrakan dengan sebuah truk tangki minyak pertamina di sebuah pintu kereta api di kawasan Bintaro.

Kaget dan ngeri tentu saja, karena kereta bertabrakan dengan truk tangki minyak. “Beruntung” kecelakaan kereta tidak mengakibatkan jumlah korban yang lebih fantastis mengingat yang ditabraknya adalah sebuah tangki minyak yang mengakibatkan kebakaran dan ledakan. Barangkali karena bertabrakannya dengan sebuah tangki minyak berita ini menjadi sorotan seluruh pihak.

Berita seseorang atau pengendara tertabrak kereta api bukan sekali atau dua kali saja. Ada yang tertabrak entah sedang apa di sisi rel seperti suami tetangga saya, ada juga kendaraan roda dua dan empat yang tercium kereta.
Masalah kecelakaan berlalu lintas, selain takdir itu sendiri tentu berhubungan dengan perilaku tertib lalu lintas. Entah peraturan rincinya seperti apa, setau saya kereta api tentu jadi moda transportasi yang lebih diutamakan saat melintas di pintu kereta. Bahkan rombongan pejabat dengan beberapa pengawal polantas pun tak akan berani menerobos.

Sepanjang aspek – aspek keselamatan di setiap palang pintu kereta terpenuhi dan pengguna jalan sadar rambu tentu semua berkeyakinan kecelakaan tidak perlu terjadi. Ada palang pintu yang menutup jalan, ada petugas yang secara manual memperingatkan, ada lampu lalu lintas dan suara sirine, semua berasumsi tak akan ada yang perlu celaka.

Tapi faktanya perlu juga dilihat aspek jalan. Di Kota Bogor sendiri, ada 2 palang pintu kereta yang seringkali saya deg-deg-an melintasinya. Palang pintu kereta di Jl. RE martadinata, dan palang pintu Kebon Pedes Bogor. Keduanya jalur padat kendaraan terdiri dari 2 arah dan ada jalan cagak berdekatan dengan palang kereta.

Belum lagi kondiri aspal yang bergelombang di atas perlintasan rel. Di jalanan padat, sering macet, kondisi jalan yang tidak mulus bisa cukup mengganggu.

Yang lebih penting tentu kita si pengendara dan pejalan kaki. Tertib dan patuh rasanya satu-satunya jalan yang bisa kita pilih ketika berurusan dengan kereta api yang melintas. Jangan melewati palang pintu, tidak kemudian langsung melaju saat kereta pertama lewat, tidak berhenti sembarangan selepas lewat pintu kereta karena akan menghambat kendaraan di belakang (ini kebiasaan para angkot neh), dan jangan melintasi rel dulu jika melihat jalan di sebrang masih padat. Melajulah saat yakin badan jalan cukup menampung ukuran kendaraan kita di depan.

Foto yang saya pajang di atas adalah foto yang saya ambil dengan kamera HP saya di salah satu sore saat melintas palang pintu kereta jl R.E Martadinata Bogor. Pintu ssudah tertutup, petugas sudah meniup peluit, kereta sudah terdengar dari jauh walau tidak lewat2 juga, tapi dua pria muda ini tampak gusar seperti tidak sabar menunggu.

Jika direkam menggunakan video bisa dilihat si laki2 yang dibonceng agresif sekali mendesak temannya yang mengendarai motor untuk melintas dengan paksa. Temannya tak bergeming, lantas bahunya didorong-dorong oleh yang dibonceng. Katanya “ayooo gak apa2, belum ada keretanya”. Temannya terus mendesak, si petugas melihat gelagat dari kejauhan dan kembali meniup peluit. Saya pun ikut gelisah dan terpaksa ikut memberikan peringatan : “JANGAN NEKAT…TUNGGU!”

Berkali-kali didesak temannya yang mengemudi mulai bimbang antara maju dan diam. Beruntung pengemudi motor lain ikut menegur dan mereka pun urung maju. Dan kereta pun lewat dan saya mengabadikan foto mereka karena gemas.

Gemas tentu karena gak ingin mereka celaka, gemas karena kalo memang ingin celaka tolong jangan terlihat mata saya. Ini bukti yang saya liat sendiri, terkadang pengendara tidak cukup sabar menunggu kereta selesai melintas. Tak pengemudinya, yang diboncengnya yang kelojotan cari celaka.menurut saya, hati2 berteman dengan orang yang seperti dibonceng di foto ini. Dia bukan hanya tidak memikirkan keselamatan sendiri, tapi juga bisa mengajak celaka.

Dan tipikal tak tertib seperti ini tentu tidak hanya satu. Mari patuh dan tertib ketika melintasi palang pintu kereta. Mari tidak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, tapi juga keselamatan orang lain. Pengendara di depan kita, di belakang kita, masinis di atas kereta dan seluruh penumpang kereta api.

Semoga kita selalu diingatkan sehingga siapapun bisa terhindar dari celaka. Turut berduka cita untuk para korban tewas di peristiwa bintaro hari kemarin dan simpati saya untuk korban luka terutama korban luka bakar dan yang sampai perlu diamputasi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s