LEMANG – DARI GAMBAR KALENDER AKHIRNYA KE MULUT

image

Zaman saya sekolah, lupa tepatnya tahun berapa tapi pastinya sebelum saya SMP di rumah nenek saya terpasang sebuah kalender dengan tiap lembar kalendernya bergambar kegiatan-kegiatan masyarakat daerah lain. Satu diantaranya adalah gambar seorang perempuan sedang menunggui dagangannya. Diantara dagangannya ada bambu2 berwarna hijau di satu tumpukan untuk di jual.

Apa itu? Entah bagaimana akhirnya saya tau kalo itu lemang. Rasa penasaran saya seperti apa lemang, kayak apa rasanya gak pernah kesampean untuk tau sampai berpuluh-puluh tahun setelahnya. Toh emang saya gak nyari dan gak pernah liat juga ada di sekitar wilayah saya tumbuh.

image

Nah malam ini secara gak sengaja saat saya membeli doclang (makanan khas Bogor berupa lontong berbumbu kacang) untuk mamah saya, saya melihat seorang bapak tua menjualnya duduk di trotoar.

Waduuuh, itu apa? Saya pun mendatangi si aki tua penjual lemang sambil bertanya apa yang dijualnya.

“apa neh ki?” (Dalam bahasa sunda halus). “Lemeng ketan”
“Lemeng apa lemang ki?”
“Lemeng neng”

Yah apapun lah namanya, yang jelas penampakannya seperti lemang yang ingin saya cicip. Kata si aki penjualnya ini lemeng beliau bikin dengan bambu. beras ketan dan santan di masukan ke bambu lalu dibakar sekitar 2 jam.
image

“kok warnanya putih ki?”
“Ku aki dipesek ngarah bersih” (ama kakek dikupas biar bersih

Jadi lemang yang dijual udah bersih, gak ada tanda2 sisa dibakar kecuali aroma ketannya saat dimakan. Kata si aki kalau gak dikupas khawatir nanti jadi kotor.

Saya pun tak pikir panjang dan segera membelinya. Beberapa irisan kecil saja karena khawatir uang saya gak cukup untuk membayar makanan lain dan malas pergi ke ATM. Saya beli 3 potong kecil dan dihargai 10.000 rupiah, sementara pasangan suami istri di sebelah saya membeli 2 lemang panjang. Masing-masing seharga 20.000 rupiah.

Selain memberikan lemang, si aki penjual memberikan juga bungkusan kecil dari daun pisang. Saya sok pede aja isinya parutan kelapa. Iya kan, ketan ya topingnya kelapa putih parut bukan? Sayang saya meleset. Isinya serundeng, kelapanya sudah disangrai, diberi gula.

Saya pun pulang dan memamerkan apa yang saya beli di jalan. Buat saya jajan lemang lumayan langka karena liat aja langsung baru kali ini. Sayang cuma beli potongan-potongan kecil.

Di rumah saya mencicipnya dengan mamah saya sambil menonton televisi. Lemang saya iris melintang, lalu serundeng saya taburkan di atasnya. Makan sedikit juga kenyang. Ketan seperti rasa ketan, tapi ada aroma bakar saat memakannya.

Wah seneng banget malem ini. Rasanya saya mewujudkan apa yang pernah saya idamkan saat menatap sebuah gambar di kalender rumah nenek saat saya kanak-kanak. Andai lemang yang dijual masih utuh bambu hijau kehitaman sehabis dibakar, barangkali bayangan saya memakan lemang yang saya lihat di kalender jauh lebih otentik.

Ah mari nikmati aja dulu kuliner kejutan malam ini. Enak juga loh. Saya kasih nilai 8,25 deh. Sayang serundengnya sedikiiiiit. Obrolan saya dengan si aki saat beli lemang tadi pun saya tutup : “

moga laku dan cepet habis dagangannya ya ki

2 thoughts on “LEMANG – DARI GAMBAR KALENDER AKHIRNYA KE MULUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s