Penyambung Rindu

Barangkali rindu yang tak akan pernah sirna adalah rindu kepada orang tua kita yang telah tiada. Itu karena semakin lama waktu berjalan, perasaan seseorang kepada orang tuanya (umumnya) tak pernah sirna, tak pernah terlupakan, tak pernah surut. Tidak seperti cinta kepada lawan jenis yang barangkali bisa saja surut tergerus waktu, kepada orang tua perasaan seorang anak memiliki siklusnya sendiri.

Saya adalah satu dari sekian milyar anak manusia yang sudah merasakan kehilangan orang tua (bapak). Dalam kasus saya kehilangan ini terjadi akibat datangnya maut, hadirnya kematian yang memisahkan.


Bapak saya wafat di usianya yang ke 56 di penghujung tahun 2011 lalu. Saya menceritakan proses belajar menerimanya di tulisan saya yang lain di blog ini. Saat ini, kematian bapak saya menjelang tahun kedua. Bapak yang tiba-tiba menghilang, lenyap dari permukaan bumi bersamaan dengan butiran-butiran tanah yang kami pakai untuk menguburkan jasadnya. Hilang, tak pernah muncul kembali.

Sebagai seseorang yang memiliki agama saya meyakini beberapa ketentuan tentang manusia akan mati, kehidupan-kehidupan setelah mati, dan kisah-kisah mengenai hari akhir dan hari perhitungan. Seringkali berpikir sendiri, andai saja saya tak meyakini agama tertentu barangkali saya bisa gila karena akal saya tak sampai ketika memikirkan “orang mati itu kenapa dan kemana”.

Dalam keyakinan saya, dipercaya bahwa doa dua orang tua dan doa anak untuk orang tuanya adalah satu dua jenis doa yang banyak dikabulkan Allah SWT. Bahkan ketika seseorang wafat, hal yang tak terputus baginya selain amal baik semasa hidup, ilmu yang bermanfaat, termasuk di dalamnya doa anak yang soleh.

Poin ketiga itu semacam acuan terkuat saya sebagai anak yang masih hidup untuk mendoakan alm bapak saya. Ada seperbagian dari doa yang saya panjatkan terutama selepas sholat yang saya plot-kan untuk mendoakan almarhum bapak. Duduk dan tertunduk menengadah tangan. Meminta dan meminta hal-hal baik baginya.

Ampuni dosa-dosa bapak saya yang belum terampuni Ya Allah…
Maafkan kesalahan-kesalahan almarhum bapak saya semasa hidupnya ya Allah..

Ya Allah, lapangkan kuburnya..terangkan kuburnya..
Jauhkan bapak saya dari siksa kubur dan siksa api neraka.

Ya Allah, balaslah kebaikan dan amalan soleh bapak saya dengan kebaikan.

Ya Allah, angkatlah derajatnya dan tempatkanlah alm bapak saya di surgaMu.

Ya Allah, bahagiakan dan tenangkanlah alm bapak saya di alam kubur. Hingga datang hari akhir nanti

Ya Allah, mudahkanlah hisabnya di hari perhitungan nanti.

Ya Allah, lindungilah bapak saya di hari kiamat dan bariskanlah alm bapak saya di padang mahsyar bersama golongan orang-orang mukmin yang kau jaga.

Ya Allah, mudahkanlah bapak saya nanti di shirotolmustaqim.

Jagalah kami yang hidup ya Robi, jagalah keluarga kami yang telah mati. Amin.

Saya mendoakannya berulang-ulang. Sesempit apapun waktu dimana saya tak berlama-lama duduk berdoa, doa untuk bapak saya dipastikan selalu ada.

Di atas sajadah selepas sholat, ketika saya meminta di hadapan-NYA untuk kebaikan-kebaikan alm bapak saya, saya membayangkan sedang duduk bersimpuh dan doa-doa saya sedang di dengarkan oleh Allah SWT. Sementara di sebelah saya terhalang tembok/tabir dimana saya yakin bapak saya duduk disana mendengar setiap doa yang saya kirim. Tersenyum, penuh hatiny, baik-baik saja dan dikelilingi kebaikan.

Berdoa barangkali satu2nya penyambung rindu jika memang berjumpa lagi saat sudah terpisah begini itu sulit. Berdoa menentramkan si pendoa dengan keyakinan-keyakinan baik terhadap Allah. Pun menentramkan si pendoa dengan keyakinan bahwa doa yang diucap anak selalu akan berbuah kebaikan kepada alm bapaknya.

Jika doa anak adalah kebaikan,tak terbayang betapa banyaknya kebaikan yang ingin anak kirim untuk menjadi kebaikan alm bapaknya.

Rindu anak kepada alm bapaknya tak akan pernah hilang. Rindu adalah pemandu anak-anak seperti saya untuk duduk bersimpuh mengirimkan doa.

Seperti malam ini, malam dengan rindu yang banyak sekali. Semoga doa-doa yang selalu terucap sampai dan dijadikannya kebaikan atas bapak saya. Amin, amin ya Robbalalamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s