Stop Tawuran Pelajar

Sepekan ini, di Kota Bogor sedang marak tawuran pelajar. Pekan-pekan lalu barangkali tawuran ada, namun tak semasif beberapa hari belakangan ini.

Bermula selasa pagi membaca berita di surat kabar lokal tentang ditangkapnya 150 pelajar yang melakukan tawuran. Saya berdecak saja sambil sarapan membaca berita peristiwa satu hari sebelumnya. Kawasan warung jambu kerap dijadikan tempat tawuran pelajar, hari Jumat misalnya. Saya pernah kebetulan melihat di lokasi soalnya. Beruntung saya sedang tak di angkot atau tengah jalan. Saya pun mundur masuk ke pertokoan sambil menunggu keadaan mulai tenang.
selasa sore saya pergi ke Bukit Cimanggu City, pulang sekitar pukul 20.00. Iseng membuka HP saya dan menelusuri timeline twitter sementara menunggu penjemput datang. Akun twitter pak polisi @polresbogorkota menginformasikan bahwa petugas sedang menangani tawuran pelajar di underpass. Walah, underpass adalah jalur kemana saya pulang.

Berhubung kata penjemput saya pelajar itu banyak sekali, dan tentu saja tak bertangan kosong, saya meminta dia mencari jalan lain. Jika saya berada di atas motor dan terjebak di tengah lalu lintas dimana tawuran berlangsung, apa gak bahaya?

Kami pun putar haluan mencari jalan melalui kawasan taman cimanggu. Saya baca lagi twitter ada masyarakat yang mention akun twitter polisi ada ratusan pelajar nongkrong meresahkan warga di sebuah warung di kawasan taman cimanggu. Yah ampun, saya bakal lewatin mereka di jalan alternatif.

Di perjalanan sekitar taman cimanggu pun saya berpapasan dengan beberapa puluh diantaranya. Seorang polisi tampak berjaket dan helm tampak mengikuti mereka dari belakang menggunakan sepeda motor.

Malam itu saya pulang berputar, taman cimanggu, RE.martadinata, sempur kemudian ceremai ujung. Selain berpapasan dengan gerombolan pelajar di taman cimanggu, saya gak berpapasan dengan yang lainnya.

Rabu sore saat saya akan ke taman cimanggu, saya beriringan lagi dengan 2 truk besar yang di stop pelajar SMK di Pajajaran. Mereka naik semuanya. Khawatir jika mereka tawuran di depan mata, saya pun meminta yang membonceng saya untuk menghindar jauh. Motor kami malah melaju kencang melewati kedua truk tadi. Berharap mendahului sampai warung jambu dan tak perlu melihat mereka ribut.

Sukses mendahului motor terhadang macet sedikit dan kedua truk isi pelajar itu pun keburu tiba di belakang. Hahaha. Stres deh. Langsung belokin motor ke arah pasar cari aman.

Koran lokal beberapa hari ini pun ramai memberitakannya. Tawuran di underpass malam sebelumnya konon mengakibatkan 2 pelajar pinggang dan tangannya tersabet pedang. 32 pelajar diamankan kepolisian. Hari selasa ada 3 tawuran dalam 1 hari. Ck ck ck.

Di koran keesokan harinya, dua truk yang ditumpangi pelajar tadi katanya diberhentikan oleh polisi. Mereka di razia dan didapati beberapa senjata tajam di tengah mereka. Ck ck ck

Maraknya tawuran belakangan ini memprihatinkan. Mengkhawatirkan karena kenakalan mereka gak cukup dengan berantem satu lawan satu dengan tangan kosong? Senjata tajam yang mereka bawa membuat tawuran menjadi bahaya. Bahaya ketika melukai pelajar lain, bahaya ketika membuahkan rasa gak aman kepada masyarakat yang lalu lalang di jalanan.

Perilaku pelajar anarkis ini PR untuk Kepolisian, pihak sekolah, dinas pendidikan, dan orang tua. Harus ada pihak yang tak mengenal lelah untuk membenahi kondisi begini. Masyarakat tentu saja ikut menjaga. Barangkali lama-lama gemas masyarakat sendiri yang akan bantu membubarkan jika mereka tawuran di suatu lingkungan.

Saya rasa pemicu tawuran adalah kurangnya kegiatan menarik lainnya untuk di pilih para pelajar itu. Akses ke kegiatan2 hobi dan minat barangkali terbatas. Entah memang prasarana tidak ada, entah ujung-ujungnya keterbatasan ekonomi yang dipersalahkan.

Barangkali dengan disediakan alat2 olah raga seperti voli, bulutangkis, tenis meja, lapangan sekolah yang menarik, alat masuk, dsb pelajar yang senggang waktunya memilih menghabiskan waktu di sekolah di temani guru pembimbing. gak perlu nongkrong di sisi jalan, bergerombol pulang atau membajak kendaraan dan menumpang.

Nongkrong dan bergerombol rasanya itu pemicu terdepan terjadinya gesekan dengan pelajar lain. Energi mereka harus dialihkan ke hal positif. Tapi semua menjadi angan-angan jika sarana dan prasarana untuk mereka tidak memadai di sekolahnya, atau tak terjangkau ketika segala sesuatu ada biayanya dan sebagian tak mampu membayar.

Moga-moga para pihak terkait tak jemu mencari solusi terbaik bagi “hobi” yang gak baik ini. Tawuran bikin jalanan gak nyaman untuk pelajar lain, untuk anak2 kecil maupun masyarakat umum. Was-was.

Saya menuliskan ini karena semalam saya bermimpi menyebrang jalan mau pulang, di trotoar jalan sebelah kanan saya liat segerombolan pelajar berseragam putih abu. Saat saya menoleh ke kiri, di sebrang ada juga segerombolan pelajar dengan seragam putih abu. Saya panik ingin menyebrang jalan, namun jalanan padat. Cemas mereka tawuran di depan saya.

Saya pun akhirnya berhasil menyebrangi jalan dan buru-buru menuruni tangga sebuah gang dan pulang ke rumah menghindari jalanan. Bahkan jika mereka kemudian tawuran dan lari berhamburan pun saya berharap posisi saya sudah jauh tak terkejar. Eh taunya mimpi.

Ampun kan sampai masuk mimpi. Tawuran pelajar ini sudah mengusik alam bawah sadar berarti, menyimpan kecemasan sampai-sampai saya bermimpi seperti ini.

Ah sudahlah, lupakan mimpi semalam. Selamat berhari Minggu, mari kita sarapan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s