Makin Menjamur (Resah Liat Sekelompok Anak Muda di Angkutan Umum)

MAKIN MENJAMUR

Mereka bertatto, bajunya ketat warna hitam tanpa lengan. Celana mereka biasanya ketat, bersepatu semacam boot. Rambutnya seringkali kemerahan, telinganya ditindik bahkan ada yang bolong saking antingnya besar.

Awalnya mereka sedikit, hanya beberapa orang saja di sekitar tugu kujang. Makin hari rasanya makin banyak. Di Tugu kujang aja mulai banyak, di kawasan taman topi juga ada. Penumpang angkot lain bercerita mereka juga melihat di kawasan pasar anyar.

Orang lain mau bergaya dan menciptakan identitas diri masing-masing dan berkelompok dengan ciri khas tertentu tentu saja tidak dilarang. Namun lain ceritanya, harus lain ceritanya jika aktivitas mereka mengusik kenyamanan orang lain.

Anak2 muda berdandanan kayak gitu marak masuk angkot2 dan mermodalkan tepuk tangan dan berceloteh ini dan itu bukan bernyanyi berharap penumpang memberikan uang. “Daripada kami mencopet…bla bla..” dengan pandangan yang tidak hangat, terkesan memaksa dan membuat penumpang takut.

Ibu2 penumpang bercerita betapa dia takut ama mereka karena kemarin dia dimaki-maki oleh pemuda serupa mereka di angkot pasar anyar karena tidak memberi uang. Dua anak siswi SMPN 1 di pojok angkot bisik2 mereka pun kena maki ama perempuan yang dandanannya sama karena seangkot gak ada yang memberi.

Tampak udah meresahkan bukan? Bayangin kalo keponakan dan adik kita yang masih kecil naik angkot bertatapan dengan mereka. Terpantau tidak ya oleh pemerintah kota? Konon ketika gue infokan tentang hal ini lewat akun twitter polres Bogor katanya ini wilayah Dinas Sosial dan Satpol PP karena dikategorikan sebagai anak jalanan. Padahal kalo udah terkesan minta uang dengan paksa masuk ke cakupan kerja polisi ya karena meresahkan.

Mau sampe kapan ya? Nunggu makin banyak dulu dan terjadi sesuatu atau gimana? Ada insiden kurang enak baru bertindak atau gimana? Ibu2 yang pernah kena maki tadi berkomentar “ini Bogor gak bisa ngatasin ini ya? Di Tangerang mah gak ada tuh yang begini?”.

Mbok ya diawasi, minimal mereka di dampingi kalo lagi masuk2 ke angkot. Jadi kalo ngamen bener ngamen. Mau minta sedekah juga pengemis memanfaatkan rasa iba, bukan dengan rasa takut.

Dari dikit jadi banyak. Makin banyak makin berani. Makin menjamur makin bebas. Kota ini terasa seperti kota yang kurang diawasi. Atau pada gak tau jadi gak berpikir yang meresahkan.

Andai aja Dinsos atau Pemkot punya akun twitter-nya. Jadi sharing gini bisa mudah. Kalo Polisi udah jelas2 kasih penjelasan katanya itu bukan wilayah kerja mereka tapi bagian dinsos.  —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s