Selamat Jalan Pak Deni

image

Innalillahi wa innaillahi rojiun

Gak nyangka. Perasaan semacam itu seringkali muncul ketika kita mendapat kabar seseorang wafat, berpulang kepada Sang Khalik. Percaya gak percaya, kalo kabar itu datang maka mungkin memang itu yang terjadi.

Pagi hari ini kabar duka datang tentang Pak Dinarwan yang memang selama beberapa minggu belakangan ini sakit. Pak Dinarwan yang biasa kita panggil Pak Deni ini berpulang ke Rahmatullah di ICU RS karya bakti Bogor.

Saya syok, melamun lama ketika bangun pagi banyak sms dan missed call tak terangkat yang ternyata membawa kabar duka. Keresahan saya semalem kejadian. Saya kaget almarhum yang ketika saya tengok banyak jauh membaik kondisinya, makan pun duduk kok malah ke ICU. Saya sms Bu Sufi sebelum tidur berharap Pak Deni sembuh lagi.
image

Tapi harap tetaplah harap, takdir Allah lah si pemilik hak yang menentukan. Pak Deni berpulang di usianya yang belum juga genap 50 tahun. Pak Deni yang saya pikir sakit kecapekan biasa ternyata berlanjut hingga akhir titik hidupnya. Saya tak ingin percaya.

Tahun lalu saya kehilangan alm bapak saya dan tahun ini saya kehilangan bapak saya yang lain. Pak Deni lah yang banyak mendorong saya untuk berani mencoba sesuatu. Mendorong dan membuka jalan juga kesempatan saya mengajar di kampus. 8 tahun dibimbing dan dijaga hingga sebegini banyak pelajaran yang saya petik, bukanlah hal kecil.

Semester kemarin lah sepertinya terakhir kami bekerja dalam 1 tim. Saya akan kehilangan figur dan teman berbincang membicarakan tantangan2 mengajar, mendiskusikan nilai dan jadwal, bercerita aktivitas sehari-hari bahkan saling “ejek” kalo tiba waktunya gak enak badan saat sibuk dengan jadwal yang padat.

Siang tadi ketika menghadiri pemakaman almarhum, rasanya sebagian spirit saya sempat ikut terkubur. Pak Deni orang yang paling sering bilang “coba ini benk” – “coba itu benk” – “gak apa2, dicoba aja”. Bagai motor yang rajin menarik mesin perahu yang diam.

Sama seperti saat kehilangan bapak saya, kehilangan pak Deni hari ini pun membuat saya sedikit banyak tercekat. Terlalu cepat menyematkan almarhum di sisi namanya. Tapi itu bukan mimpi, saya emang berdiri di sana di depan pusaranya yaang ditaburi bunga.

Saya mungkin akan berduka sedikit lama. Sekalipun tidak akan seberat keluarga yang ditinggalkan, kehilangan sosok Pak Deni setelah delapan tahun ini selalu bersama dalam tim yang solid ini kehilangan yang mendalam dan membekas.

Terakhir bertemu minggu lalu kami saling bermaafan ketika saya pamit pulang selepas menjenguk dan melihatnya melahap makan siang di RS. Saya gak sempat mengucapkan terimakasih. Terimakasih untuk banyak jalan dan kesempatan yang pernah beliau berikan. Terimakasih untuk kepercayaan beliau bahwa saya mampu melakukan yang beliau bayangkan.

Begitu banyak…banyak…

Hidup mungkin masih akan panjang bagi saya, cerita akan masih banyak berganti. Walau Pak Deni pergi terlalu cepat, tapi saya hanya bisa menjanjikan bahwa cara berpikir optimis dan positif untuk mencoba dan berpikir bisa akan saya teruskan. Itu ajarannya yang terbesar.

Terimakasih Pak Deni, selamat jalan. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada alm pak Deni. Menempatkan Pak Deni di sebaik-baiknya tempat berpulang. Dibariskan di golongan2 orang mukmin yang beruntung. Menjadi ahli surga. Ilmu yang dijariyahkan insyaAllah akan jadi bekal terbaik tanpa henti. Amin amin amin ya Robbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s