Banyak Kawasan Tak Ramah untuk Non Perokok

Saya bukan aktivis anti rokok atau juga bukan orang yang anti dengan para perokok. Sebagai seorang non perokok seringkali saya berharap di lokasi-lokasi tertentu yang notabene adalah kawasan bagi umum yang siapa saja berhak datang, areal untuk perokok dan perokok setidaknya dipartisi dan dipisahkan. Walaupun sebenarnya perkara merokok di kawasan umum sudah memiliki ketentuannya sendiri tapi pelaksanaanya sering kali jendol, nol!

Posisi sebagai non perokok ini seringkali dirasakan lemah (oleh diri saya sendiri contohnya). Ambil saja kejadian siang tadi ketika saya duduk sendiri makan siang di suatu rumah makan bermenu bebek goreng. Saya terpaksa berpindah 2 kali meja untuk menghindari asap rokok.

Saya aneh dengan rumah makan itu.  Dari lokasi lama rumah makan itu berdiri keluhan saya selalu asap rokok. 2x sudah saya memberikan saran lewat No HP yang tertera di tembok tempat makan tersebut. Berharap mereka memisahkan ruangan untuk perokok dan non perokok. Setidaknya jika sudah dipisahkan pelanggan bisa memilih.Tapi sayang bahkan sampai kini rumah makan itu pindah lokasi keluhan saya dan mungkin pelanggan lain kurang diperhatikan.

Jam makan siang umumnya tempat makan penuh dan ramai. Meja dan kursi tempat makan bebek itu berdekatan satu sama lain. Jika meja di belakangan atau meja di sebelah kita diduduki orang lain dan mereka merokok, berarti kita makan sambil menghirup rokok. Jam makan siang tadi pun begitu. Padahal 2 meja diantaranya ada 2 orang balita.

Saya larang kah mereka merokok? Ya enggak juga sih, kan hak mereka. Tapi saya memilih berpindah meja saat meja sebelah mengirimkan asapnya ke meja saya. Selesai? Tidak. Ternyata meja yang baru saya duduki di belakangnya wanita rambut panjang yang lagi2 merokok. Saya pun pindah ketiga kalinya.

Ketika pelayan mengantarkan makanan saya iseng bertanya : “mas, gak ada ruangan yang no smoking-nya disini?” – dia celingukan lalu menjawab : “duh susah disini mah”.

Sedih sekali deh, rasanya kok posisi non perokok lemah sekali ya. Apa memang non perokok itu minoritas? Selain pelanggan lain yang kurang peka dengan sekeliling dan merokok di tempat makan umum, penyedia rumah makan pun tak kalah kurang peka untuk mengakomodir dua jenis pelanggan mereka. Perokok dan non perokok.

Mungkinkah mereka khawatir harus mengeluarkan cost lebih jika harus mempartisi ruangan? Apakah mereka takut kehilangan pelanggan2 mereka yang tak jadi datang karena malas karena gak bisa merokok? Entahlah.. yang jelas rumah makan ini sudah 2x saya kirimi sms kritik dan saran namun tak digubris.

Selain angkot yang paling banyak melanggar peraturan pemda untuk tidak merokok, apakah rumah makan termasuk kawasan kategori pelanggar juga? Kalo iya, kemana para pengawas peraturan dan para penegak tata tertib? Kenapa seperti melemparkan peraturan tapi pengawasannya tak nampak hasilnya?.

Saya kan jadi bingung, berpikir jangan2 non perokok minoritas. Atau non perokok tapi permisif dan membiarkan dirinya menjadi perokok pasif lebih banyak dari yang kritis?

Ah, andai banyak yang riwil. Misal aja penumpang angkot say No saat mau naik angkutan umum yang ada perokok di dalamnya, atau say No saat liat di warung makan ada perokoknya..mungkin jika jumlahnya banyak,kebutuhan bebas dari asap rokok saat berada di wilayah dan fasilitas publik bisa terwujud dan diperhatikan.

2 thoughts on “Banyak Kawasan Tak Ramah untuk Non Perokok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s