Perjalanan ke Desa Cidugaleun Tasikmalaya (1)

image

Sabtu Minggu kemarin saya dan keluarga besar melakukan perjalanan ke sebuah desa di kawasan Singaparna Tasikmalaya. Lokasi desa yang kami sambangi lumayan berada di dataran tinggi kawasan gunung Galunggung. Niat kedatangan kami adalah mengantar sepupu laki2 saya menikah dengan seorang perempuan yang kampung halamannya di desa tersebut.

Sabtu siang kami meluncur dari kota Bogor sebanyak kurang lebih 30 orang. Melewati tol cipularang, kemudian melewati cileunyi Bandung dan kami pun meluncur ke Tasikmalaya melewati Kota Garut.

Perjalanan cukup lancar. Sesekali keluarga kami yang terbagi ke 4 kendaraan ini berkumpul di rest area untuk sekedar istirahat, sholat dan koordinasi dan jajan tentunya🙂. Keluar tol cipularang, kami melewati cileunyi, melalui kawasan Rancaekek dan menikmati jalur arah Garut.

Saya suka suasana Kota Garut sore itu yang kebetulan hujan. Jalanan aspal yang kiri kanan pepohonan, masih banyak sawah dan lahan perkebunan tak lupa juga gunung yang bisa kami lihat dengan jelas sepanjang jalan. Di Garut kami pun menyempatkan diri beristirahat dan sholat magrib.

Hari sudah gelap ketika rombongan tiba di Singaparna Tasikmalaya. Dari situ kami mulai dipandu oleh beberapa wakil keluarga mempelai wanita menuju ke arah gunung. Hoho saya mulai parno, tegang deh ah. Itu karena jadwal seharusnya kami melintasi jalanan ke desa waktu ashar. Menghindari hujan dan air sungai meluap, dan tentu saja menghindari gelap.

Saya cemas karena menurut bibi saya yang sudah duluan ke Desa ini saat lamaran sebelumnya, jalanan yang akan dilewati cukup naik turun. Curam! Dan ada satu sungai yang harus kami lalui tanpa jembatan. Tapi di beton dam sungai tersebut. Huhuhu.

Jalanan dari arah Singaparna sudah gelap. Saya nyaris gak bisa memastikan lahan apa yang kami lewati malam itu. Yang jelas Tasikmalaya adalah kawasan yang banyak masjidnya. Makin melaju kendaraan, makin gelap jalanan. Makin jarang rumah-rumah yang kami lewati. Mulai memasuki kawasan gunung kah? Saya gak tau.

Mobil mulai bergerak turun, lalu naik, berbelok lalu naik lagi. Gelap. Mamah saya sibuk membaca doa, sepupu saya disebelah kanan tampak tegang. Saya kan jadi ikut tegang. Huhuhu. Kami melaju bermodalkan lampu mobil. Rombongan saling menunggu dan memastikan semua aman.

Mulailah mobil turun curam, gelap dan saya tegang seraya berdoa. Belok ke kiri masih turunan curam, kemudian kakak ipar saya yang mengemudi di jalanan berbatu itu menghentikan sejenak kendaraan dan berkata : “assalamualaikum, abdi ngiring ngalangkung” (assalamualaikum, saya ikut lewat)*. Entah sama siapa. Lah saya makin parno aja hahaha.

Benar saja, setelah belokan tadi kami masih harus melaju turun dan jreng! Jreng! Lampu mobil menyorot jalanan beton yang membelah sungai. Batu2 besar dan air kecoklatan samar2 kami lihat. Jadi mobil harus melintas di atas dam tersebut? Gak ada jembatan. Konon puluhan tahun lalu jembatannya rusak saat Gunung Galunggung meletus dan tidak ada jembatan baru setelahnya.

Saya rasa kami baik2 saja melintas disana. Tak hujan dan air sungai tak meluap jadi Dam air bisa dilalui kendaraan. Lega? Tidak!! Karena dari tengah dam tadi kami melihat jalan curam menanjak setelahnya. Jangan bayangkan muka tegang saya. Saya cuma berharap mobil bisa menanjak dengan lancar. Kalo tidak…kalo tidak…..ah… *lirik sungai*

Saya memejamkan mata sambil bismillah, kami yang kedua menanjak disana.saat saya membuka mata ternyata mobil baru setengah jalan menanjak. Fufufu. 2 mobil lain belum turun dan menanti agak jauh sesuai arahan mengantisipasi kemungkinan mobil depan mundur lagi saat melintas. Zzz…zzz

Alhamdulillah, semua bisa lewat. Dan di depan masih ada beberapa jalanan naik agak curam tapi tak semenakutkan dekat sungai. Saya udah komat kamit berpikir besok saat pulang saya akan turun dan jalan kaki. Huuuft.

Akhirnya kami tiba di Desa Cidugaleun Kecamatan Cigalontang Tasikmalaya. Kami disambut keluarga mempelai wanita dan malam itu kami menginap disana. Semua rombongan senyum penuh makna sambil berujar : “mantap!” Haha. Ada yang masih menghela nafas, misah misuh karena jalanan tadi. Malam itu kami tertidur ditemani hujan di Desa kawasan gunung Galunggung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s