19 Oktober Tahun Lalu

Tahun 2012 ini sudah tiba kembali di tanggal 19 Oktober. Kenangan saya kembali ke 19 oktober tahun lalu, hari dimana saya masih mengingat kejadian-kejadian pada hari itu.

Siang hari Rabu itu saya janji jumpa dengan Mira kawan baik saya. Banyak hal yang berkecamuk di kepala dan menghimpit dada, banyak hal yang bertumpuk di bahu. Saya sedih,cemas sekaligus letih secara psikis.

Siang itu saya duduk di satu tempat makan bersama Mira, bicara apapun yang ingin saya katakan. Mengutarakan semua hal yang membuat saya sedih dan kesal. Saya mengurai satu per satu keresahan saya dan merasa lega setelahnya. Lalu mulai berbicara sendiri kemudian harus apa, akan apa, biarlah nanti bagaimana.
Saya minta maaf untuk satu kalimat tajam yang saya utarakan hari itu di belakang bapak saya. Dibalik kata2 tajam tadi, sungguh yang melatarbelakanginya hanya rasa sayang yang bercampur cemas.

saya berjalan bersama Mira keluar dari Mall tempat kami bertemu. Berjalan menyusuri kampus masa lalu. Saya ada jadwal mengajar sore itu. Tak lama mengajar, saya di telepon rumah diminta pulang. Bapak saya sakit.

Saya pun pulang mendadak dan mendapati rumah sudah dipenuhi tetangga dan saudara. Kenapa bapak saya? Dia duduk bersandar tak bicara. Kemudian saya segera membawanya ke rumah sakit. Saya masih ingat perasaan saya sore itu selama perjalanan. “Saya harus bersiap jika nanti pulang dari RS saya gak punya bapak”. Saya pun menahan diri untuk berpikir yang tidak-tidak.

Kami masuk, bapak ditangani oleh dokter di IGD. Saya mengantar sampel darah beliau ke lab untuk memastikan pemeriksaan dokter IGD. Cukup lama saya di IGD. Dan akhirnya bapak dinyatakan terkena serangan jantung medium. Kondisinya relatif bagus untuk serangan sebesar itu. Beliau sadar dan berbicara normal.

Malam itu pula bapak masuk ICU. Saya ingat di samping tempat tidurnya di IGD saya bilang saat bapak menatap saya dengan cemas. “Gak apa2 pak, ini gak serius. ICU hanya memastikan bapak terpantau intensif sampai kondisi stabil. Gak apa2 pak, ada saya. Jangan pikirin hal lain”😦

Saya duduk disana, di depan loket apotek RS untuk kedua kalinya. Ada paket obat yang harus diberikan untuk bapak saya di IGD. Saya tenang dan berani. Beruntung semua hal yang melelahkan saya sudah saya “lepaskan” siang tadi. Sekalipun siang tadi saya begitu emosional, tapi kondisi saya jadi lebih siap menghadapi sore itu.

Satu tahun telah berlalu dari malam dimana saya mengantar alm bapak saya ke ICU. Bulan ini, bulan esok, hari ini dan hari esok, mulai tanggal ini saya harus bersiap akan banyak kenangan tahun lalu berulang dan berputar kembali dalam ingatan.

Saya mengingatnya dengan baik, saya menyimpannya dengan rapih. Manusia tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Tahun lalu kita berjuang bertahan hidup, tahun ini kita harus menerima bahwa perpisahan adalah salah satu ketentuan bagi kita yang hidup.

Rindu bapak, semoga doa2 saya cukup.amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s