Rumah Tanpa Atap

image

Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara – pasal 34 ayat 1 UUD 45

Sore kemarin saat baru saja selesai hujan, langit gelap sisa air tumpah bercampur matahari yang bersembunyi dibalik senja yang basah. Dua makhluk kecil ini tidur dengan nyenyaknya di emperan ruko. Di tengah lalu lalang orang-orang yang bergegas entah untuk urusan apa.

Saya berdiri lama disana, karena menanti keluarga saya selesai menemani nenek saya ke dokter. Ini bukan foto pertama saya, kelompok anak jalanan di daerah ini pernah juga saya foto saat mereka tidur di kawasan ini. Entah anak yang sama atau berbeda.

Setiap menit orang lewat,mereka pasti menoleh,menunduk ataupun menatap bocah yang gak mengenal dingin ini. Bisa saya simpulkan sebagian besar dari kita menatap ini bukan pemandangan yang wajar.
Tidur berdempetan, mungkin mereka takut menghalangi jalan atau karena kedinginan. Sesekali anak yang lebih besar merapatkan lipatan tangannya pertanda dia kedinginan. Bajunya kadang tersingkap, dia garuk. Tubuh mereka tak bersih apalagi bajunya. Anak yang lebih kecil terpejam meringkuk lebih pojok.

Mereka anak2 yang bisa berdamai dengan angin, hujan, dingin dan kebisingan jalanan. Atau bahkan mereka tak tahu bagaimana cara memeranginya. Gak ada pilihan lain. Jangan2 mengkhayalkan kenyamanan pun mereka tak sempat.

Kadang saya berpikir, kemana orang tua mereka. orang seperti apa yang melahirkan mereka dan membiarkannya ada di luar rumah. Tumbuh kembang di jalanan dan terdidik oleh lingkungan diluar rumah. Cuma mampu saling menemani dengan sesama kawan, karena tak ada orang tua tempat mereka berlindung.

Kita mungkin sering lupa bersyukur. Bersyukur karena kita berkesempatan menikmati kenyamanan yang bisa jadi bagi mereka itu kemewahan yang mahal. Pemandangan ini tentu mengajak kita untuk berfikir lalu ingat kembali untuk bersyukur.

Saya cuma orang yang bisa prihatin, cuma bisa bicara, berharap ada pihak yang memperhatikan kebutuhan anak-anak macam ini dan menjadikan negara sebagai pengganti orang tua mereka. Merawat,menjaga, mendidik dan membesarkan. Seperti yang tertuang dalam untaian kata undang-undang di atas. Negara harusnya peduli dan tak kenal lelah merangkul sekalipun kehadiran mereka selalu ada dan lagi ada tiada habisnya.

2 thoughts on “Rumah Tanpa Atap

  1. Ada satu nikmat mereka yang belum tentu dinikmati oleh orang kaya berduit, yakni nikmat tidur. Tidak sedikit orang kaya yang memiliki rumah mewah mesti mengeluarkan uang sangat banyak hanya untuk sekedar bisa tidur.

  2. prihatin…bisa saya katakan iya…karena negara kita yang berbicara “fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh negara” adalah sebuah F**KIN BULLSHIT, karena saya yakin semua orang yang keluar di jakarta pasti setiap hari melihat hal seperti ini tapi apa yang pemerintah lakukan…NOTHING SIGNIFICANT…karena memang tidak ada niat pemerintah unutk menghilangkannya.
    BTW kalo mau tahu berita seputar jakarta silahkan kunjungi
    http://108jakarta.com/
    ada artikel mengenai jakarta tempo dulu, olahraga dan kulliner..
    salam kenal dan keep posting yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s