Pagi Pak!

Pagi pak, apakabar?
Seharian kemarin saya ingat bapak dan hati saya terasa nelangsa jika ingat lebih dari 8 bulan kita tidak bertemu dan entah berapa puluh tahun lagi ke depan yang akan saya habiskan dengan perasaan yang sama.

Ah saya nulis separagraf aja udah berkaca-kaca, gimana neh pak? Di kamar mandi pun sama tadi. Kemarin siang saya sedang mengajar pun mendadak mata berkaca-kaca ingat bapak. Bapak kah yang sedang ingat saya?

Wah saya PMS neh pak….😦

Barusan bangun pagi, saya terbangun oleh suara di mesjid bapak-bapak yang sedang sholat subuh berjamaah. Mata saya lengket tapi ditelinga saya ada yang berbisik : “ayo bangun nanti kesiangan sholat subuh. Bapak tunggu doa kamu”. Nah loh, siapa itu yang bisikin? Mungkin suara hati kecil saya barangkali.

Doa tidak pernah berubah, yang dipintakan kepada Allah SWT selalu sama. Apalagi yang saya minta sebagai anak selain diberikannya tempat terbaik untukmu disana? Berharap bapak tenang, jauh dari kesulitan dan Allah mengampuni kesalahan dan dosa selama hidup dan memberikan kebaikan atas amal perbuatan baikmu selama hidup.

Minggu lalu ada sms pak, dari Chandra penulis skenario. Dia sms HP bapak mengabari saya kalau proyek yang sebelum bapak sakit itu sekarang goal akan diproduksi. Dia bilang masih terpukul bapak gak ada, ingat katanya dulu bapak sering ajak dia jika ada pekerjaan. Nawarin saya pula jika ingin gabung gantiin bapak katanya. Saya cuma bisa balas bahwa saya doakan proyeknya lancar, bapak pasti senang kan proyek terakhir yang dipersiapkan beberapa waktu sebelum bapak tiada sekarang jalan? Saya juga bilang terimakasih dia masih menyempatkan mengabari sekalipun tau yang menerima bukan bapak langsung.

Bapak inget pak Isman yang sering telp curhat sama bapak? Kemaren telp belasan kali, saya tanya siapa via sms. Ternyata pak isman pak, beliau ganti nomor. Mungkin itu alasan dulu kabar duka yang saya sebar tidak sampai karena yang bersangkutan ganti nomor.

Pak Isman tukang curhat perihal sakitnya, bapak sering menenangkannya dari telepon. Dia sms katanya terkena stroke dan dari Padang saat ini sedang berobat kesini. Saya gimana ngasih taunya coba pak? Langsung bilang bapak udah meninggal bisa2 kolaps nanti saya salah. Jadi aja telp-nya yang bertubi-tubi penasaran hanya saya balas dengan sms : “sama siapa pak isman? Ditemani keluarga?”. Akhirnya mamah yang nelepon mereka dan minta bicara sama istrinya menjelaskan bapak sudah tak ada. Mereka kaget, saya gak tau bagaimana pak Isman diberi tau. Keluarganya pasti hafal kondisinya.

Duh susah2 gampang pak. Mengulang-ulang kabar yang untuk saya sendiri sedih setiap menyampaikannya, dan selama 8 bulan ini bukan hanya satu dua yang masih belum tau. Makanya HP bapak masih saya aktifkan.

Lebaran kemarin saya juga sms kawan2 bapak yang namanya familiar di telinga saya. Masih aja ada yang kaget pak. Saya sms karena sebagai anak saya ingin tetap menjaga silaturahim dengan kawan2 baik bapak, selain itu saya berharap mereka gak lupain bapak saya dari ingatannya. Fufufufu

Saya rindu, ini tidak mudah dan bapak adalah kehilangan terbesar pertama saya. Semoga doa2 saya sampai dan dijabah oleh Allah SWT. Semoga kita ketemu lagi dan sama2 masuk ke dalam barisan orang2 yang berbahagia. Amin…amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s