Tentukan Saja Ingin Berdiri Dimana

Konon interaksi kita dengan orang lain mengikutsertakan hukum aksi reaksi di dalamnya. Itu mencakup bagaimana kita bersikap, berperilaku maupun memperlakukan orang lain acapkali didorong ataupun dipancing oleh sikap orang tersebut kepada kita. Begitu pun sebaliknya pada orang lain

Namun ada kondisi-kondisi dimana kita melakukan sesuatu tanpa syarat kepada orang-orang tertentu. Perilaku dan sikap kita kepada orang tersebut tidak terpengaruh dengan bagaimana yang bersangkutan memperlakukan kita.

Kondisi ini kayaknya berlaku umum antara orang tua terhadap anak, antar saudara, terhadap orang yang kita cintai, ataupun mungkin kawan yang kadung kita sayang. Tidak selalu sih, diantara hubungan2 tersebut pun banyak yang gak berkonflik.

Maksud saya jika terjadi perilaku dan sikap yang dari kedua belah pihak berbeda timbangannya. Bagaimana? Saat ibu  menyayangi anaknya namun anaknya membangkang terus menerus. Bisa juga kakak sayang adik namun adik selalu iri dan memicu konflik. Atau bagaimana dengan cinta bertepuk sebelah tangan atau sayang kawan yang kemudian berubah sikap?

Saya rasa manusiawi jika kita melakukan menyesuaian. Manusia gak bisa lepas juga dari aksi reaksi tadi. Ego itu fitrah. Namun rasanya ada bertahan di posisinya masing2. Tak peduli apapun lah, seakan perasaan kita tak ada berubah.

Saat menghadapi itu sekalipun di dalam terjadi pergolakan dengan ego diri sendiri, saya sesekali memilih untuk berada di posisi saya dengan perasaan yang sama. Menyayangi tidak selalu jamin orang yang kita sayangi memberikan dan merasakan yang sama. Itu pelajaran pertama.

Di sisi lain muncul dualisme dari diri kita. Ada kebutuhan menyayangi pun ada kebutuhan disayangi. Diperlakukan dengan baik dan begitu pula sebaliknya. Walau pribadinya adalah orang yang sama. Orang-orang tertentu belum tentu dapat keduanya sekaligus. Sedikit tidak beruntung memang.

Jadi pilih saja dimana kita ingin berdiri. Bereaksi sesuai aksi yang kita terima atau bersikukuh dengan perasaan  yang kita miliki sekalipun tidak mendapatkan yang sama. Saya lebih memilih menjadi diri saya sendiri. Karena bertindak lain daripada sikap yang sebenarnya takut saya sesali di kemudian hari. Jujur pada orang lain tentu baik, namun jujur pada diri sendiri tentu tak kalah baik.

Ah ini hanya racauan. Yang jelas saya sedang sedikit tidak beruntung, itu saja. Sekian dan wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s