Melamun Tengah Malam

Tebak apa yang sedang saya tatap. Saat ini saya sedang menatap sebuah jendela dan sebuah kursi panjang. Ya, saya sedang di rumah sakit. Betul, semalam ini masih di RS. Kali ini menemani kakak ipar yang opname karena hamil muda yang ringkih.

Kita kembali ke tatapan saya. Ini rumah sakit yang sama dengan rumah sakit dulu ketika almarhum bapak saya di rawat. Saya menatap jendela kamarnya, nampak jelas dari sini walau berbeda bagian dan ruangan. Saya melihat kursi kayu panjang. Ada bapak2 gemuk yang sebenarnya belum terlalu tua dengan wajah gembira karena dokter mengatakan dia boleh pulang, duduk ditemani tiang gantungan infusan. Dia bapak saya.

Saya juga memandang tiang bangunan dimana bapak saya pernah duduk di kursi menyinari tubuhnya dengan matahari pagi. Ya kala itu dia masih bisa mencandai pasien lain. Tertawa dan menikmati sakitnya.

Saya melihat teras tempat duduk2, saya ingat ketika bapak saya membanting tiang infusan dan memaksa duduk disana dan gak mau masuk kamar. Dia marah, ingin pulang ke rumah. Pagi itu saya menandatangani surat pernyataan pulang paksa sekalipun bapak belum sehat.

Lorong2 rumah sakit ini, suasana malam ini, aroma ruangan ini mengundang rindu yang sulit tergambarkan. Saya berusaha untuk tak apa2. Lamunan tetap saja lamunan, sejenak kita terjaga, kemudian melamun kembali namun hidup tetap saja harus berjalan ke depan bukan dalam lamunan.

Saya rindu bapak, sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s