Namanya Juga Nenek-nenek

2 hari lalu di sela-sela berkumpulnya saya dengan keluarga ada satu kalimat keluar dari mulut sepupu saya yang masih gadis belia : “suka sebel da ama si emak”.

Emak adalah sebutan kami ke nenek. Bagi saya beliau adalah ibunya mamah, bagi sepupu belia saya emak adalah ibu dari ayahnya. Usianya di atas 75 tahun. Saya lupa persisnya, mungkin 78 mungkin juga 79 tahun.

Di usianya yang sudah sepuh beliau masih tampak sehat sekalipun ciri fisik menua jelas terlihat. Masih suka makan soto,roti, masih cerewet, sesekali mengomel dan melakukan keriweuhan lainnya seperti mau pergi jam 10 pagi si emak dari jam 7 udah ready dan rewel ngeburu-buru minta semua bergegas. Atau di waktu lain dia keukeuh waktu udah masuk dzuhur padahal sepupu saya menjelaskan belum. Beliau pun keukeuh sholat duluan. Ah dan lain sebagainya.

Nenek saya adalah orang betawi asli yang dialek dan bahasanya sudah bergeser menjadi sunda karena puluhan tahun di Bogor. Beliau kembar yang bisa dikatakan identik. Sekitar 2 tahun lalu kembarannya berpulang terlebih dahulu. Sekalipun keras saat berbicara saya tau nenek saya orang baik hati dan perasaannya halus. Beliau mengajarkan berbagi dan menolong antar saudara jika ada yang kekurangan. Beliau juga pintar memasak.

Saya masih ditegur seusia ini jika beliau liat celana saya terlalu pendek, baju saya terlalu tipis. Dia baik sama anjing tetangga yang ditinggal pemiliknya. Saya masih makan pun udah suka nyeletuk : “ayamnya kalo gak abis jangan dibuang ya, buat anjing”. Saya pun menjerit dalam hati : “masih di makaaaaan, jangan nyebut2 anjing dulu” hehe

Siang kemarin sambil memotong kue yang akan kami makan saya menghela nafas dulu setelah mendengarkan pernyataan sepupu saya yang masih ABG. Saya pun mengajukan beberapa pertanyaan padanya.

Sepupu saya suka dan sayang dengan keponakan saya si Rafa (1,5 tahun). Saya tanya, mengapa gak marah sekalipun si Rafa numpahin air minum si tempat tidurnya? Mengapa gak kesel liat si rafa nyoret2 bukunya? Kok gak bete ketika ngadepin rafa rewel dan bikin kita riweuh?

Dia menjawab beberapa kali dan saya terus mengerucutkan pertanyaan,hingga keluarlah jawaban yang saya tunggu. Yup semua tampak menjadi masalah karena kita maklum si Rafa kan masih anak2, namanya juga anak kecil.

Saya bilang ke sepupu saya, begitu juga si emak. Ada hal2 dan perilaku beliau yang harus kita maklumi dan bisa kita pisahkan jika penyebabnya adalah karena usianya yang sudah lanjut. Kita semua pun akan seperti itu, menua dan kembali bak anak2. Tapi rasa hormat dan peduli tidak bisa luntur sekalipun nenek tua kita melalukan hal2 konyol atau meriweuhkan.

Dan saya lihat sepupu saya diam sambil bergumam entah apa yang dia racaukan di dalam hatinya. Ya betul, namanya juga nenek-nenek.. sabar sedikit ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s