Bermain Dengan Kenangan

image

Jalan Jalak Harupat Bogor

Tadi pagi selepas jogging di satu lapangan di tengah kota Bogor saya melanjutkan jalan pagi saya menuju RS PMI. Jalannya yang agak menanjak cukup membuat saya terengah-engah. Mau naik angkot tapi saya masih ingin berolah raga. Akhirnya saya menikmati jalan kaki sendirian.

Jalanan pagi sudah ramai oleh lalu lalang kendaraan. Wajah-wajah tergesa menuju kantor, entah dimana kantor mereka. Tapi jalanan yang asri membuat saya tetap berusaha menikmati jalan pagi walaupun sendirian.

image

Lanjut menyusuri jalan pajajaran Bogor, saya sudah mendekati RS yang saya tuju. aman jalannya, tak ada anjing pun tiada orang gila. Hal2 yang saya takuti jika ketemu di jalan. Jalanan tampak sibuk, namun saya berusaha mengikuti ritme saya sendiri.

Akhirnya saya menyebrangi jalan, beralih ruas jalan masuk kawasan PMI Bogor. Deretan pepohonan yang sepertinya ada sejak lahir. Pohon saksi ketika saya dan dua kakak saya masih berada di dalam perut ibu ketika subuh datang dan lahir mendekati pukul 7 pagi.

image

Deretan pohon yang menyambut saya dan keluarga beberapa kali membawa bapak saya ke UGD tengah malam, sore hari dan siang. Deretan pohon yang juga menyaksikan ketika kami kembali pulang membawa bapak saya sehat kembali.

Sejak bapak berpulang saya belum lagi melalui jalan ini. Aroma kenangan mulai terasa. Saya mencoba menenangkan diri seraya mengatur langkah kaki. Ah saya tidak akan apa2, semua sudah sesuai takdirnya.

image

Wah saya menemukan ruang hemodialisa/HD (cuci darah) sudah berpindah tempat ke gedung baru. Saya ingat, 2x menemani bapak saya cuci darah di tempat ini. Bapak tak mau, keluarga tak ingin namun saya bersikeras menjelaskan posisi kita simalakama. Racun tak dibuang bapak sesak, HD adalah harapan walaupunn efek sampingnya secara fisik dan psikologis belum benar2 saya pastikan.

Bapak saya nyalinya ciut ya karena proses ini. Hanya 2x saja dan mentalnya drop dan akhirnya saya menyerah ketika beliau menyerah tak ingin HD lagi. Sudah pindah pak tempatnya, semoga yang masih HD diberi kesembuhan oleh Allah ya Pak.

image

Saya masuk RS melalui UGD. Persis ketika datang membawa bapak. Memasukannya ke UGD, mengisi pendaftaran dan duduk termenung lama di depan apotek. Saya melewati ruang ICU yang kini sudah beralih fungsi. ICU pindah ke gedung baru. Berkelebatan bayangan tentang bapak saya. Malam itu di UGD saya menenangkan bahwa dia tak apa2, hanya tetap harus masuk ICU karena kalo diawasi intensif.

Kami duduk berhari-hari disana, bergantian tak tidur. Deg2an setiap terdengar suara memanggil keluarga. Bisa karena pasien kritis atau sekedar diminta menebus obat. Bapak melewati ICU dengan sukses ya pak. Keluar dengah sehat.

image

Lorong ini dan suasana pagi, benar2 membuat saya sedikit tercekat. Teringat wajah2 letih tak tidur dari wajah mamah dan kakak saya. Langkah gontai saya yang tak tidur semalaman. Teringat mendorong kursi roda mengantar bapak saya cuci darah jam 1 malam, di USG pagi hari dan keriangan bapak ketika pulang pertama kali keluar RS.

image

Hujan besar di suatu malam, saya menghabiskannya meratapi air yang turun dari langit membasahi taman ini. Sebelumnya saya menangis di mesjid berdoa sekuat hati berharap Allah mengurangi sakit bapak yang malam itu merintih tak tahan.

image

Ini poliklinik darurat sebelum berpindah ke gedung baru. Saya berkali-kali duduk disana mengantri sementara bapak saya duduk di luar lengkap dengan kaca mata hitamnya. Tadi pagi saya melewatinya juga. Bapak paling sering kesini selain ke poli afiat dan Kimia Farma. Dokternya selalu sama. Kami mengejar dimana dokternya saat kami luang untuk berobat.

Terbayang tatapan bapak saya yang mengintip dari luar. Sesekali saya menangkap dia memandangi saya dari kejauhan. I’m fine pak, it’s oke antri adalah hal biasa. Bapak bilang selalu semangat ke dokter jika didampingi saya.

Pagi ini saya disini, di RS ini. Melewati tempat2 yang dulu pernah saya datangi merawat bapak saya. Apa bapak tau apa yang saya lakukan pagi ini? Seperti mengukur kenangan dan ini kali pertama saya kesini lagi. Rindu menyeruak dan rasa pedih sedikit menerjang. Saya mempercepat langkah saya karena hidung saya mulai pedih, mata mulai basah.

Letih, mengantuk, capek, cemas, takut dan penuh harap. Saya pernah merasakan semua hal itu di tempat ini. Tapi saat itu bapak ada, ada….

Pagi tadi saya pun beranjak pulang, lengkap dengan ingatan masa itu di kepala saya. rindu bapak.. 2 x 9hari di RS dan rutinitas kontrol ke dokter semuanya akan selalu saya ingat. Pengingat kami yang masih hidup betapa kesehatan itu berharga. Pengingat bagi saya bahwa bapak pernah ada dan akan selalu ada dalam ingatan saya.

3 thoughts on “Bermain Dengan Kenangan

    • Hmm sebenernya gk semua trotoar begini juga sih di bOgor. Kebetulan yg saya foto itu trotoar di sekeliling kebun raya dan istana bogor dan pusat pemerintahan. Yg notabene wajib rapih. Trotoar lain mah mkn sama aja ama kondisi kota lain. Tergantung lokasi.

  1. bapak saya pun sdh mninggal. Thn 2004 yg lalu.. Setiap mlewati tmpat yg prnah kami kunjungi brsama slalu mngmbalikan knangan. Skrg yg ada tinggal ibu. Bliau sdh sepuh. Saya hampir stiap hari mngunjunginya dan slalu mnganggap bahwa stiap prtmuan dg nya adlh prtmuan trakhir, supaya slalu ada cinta dan kasih sayang yg besar ktika kami brtmu… smoga kakak2 saya dibukakan hatinya oleh Allah untuk mau rutin mngunjungi ibu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s