Tak Diajarkan di Sekolah

Pagi tadi saya mengcopy beberapa lembar berkas saya di sebuah kios fotocopy. Seorang pria muda menerima berkas saya yang total berjumlah 8 lembar 16 halaman. Saya minta mereka dicopy sebanyak 5 rangkap.

Saya lihat pria pertama cukup cekatan. Sama sekali tak kebingungan bahkan ketika saya memintanya meng-copy dengan cara bolak balik di satu kertas. Nampak terampil. Mungkin saja karena ia telah bekerja cukup lama disana, saya tidak tahu pasti.

6 halaman pertama sudah selesai dicopy. Saya menawarkan diri untuk menyusun dan merapihkannya sendiri, sementara pria tadi mengcopy berkas lainnya.

Saya letakan 5 lembar secara sejajar, dengan halaman satu telungkup, halaman 2 menengadah dan bersiap saya tumpuk dengan halaman 3 dengan dibaliknya halaman 4. Begitu seterusnya. Tidak sampai 3 menit penyusunan selesai dan saya mengklipnya satu persatu. Selesai.

10 halaman lain yang dicopy menjadi 50 halaman akhirnya selesai dicopy. Sebelum saya menawarkan diri, pria tadi meminta temannya untuk membantu menyusun kertas2 tadi. Saya mengerti maksud dan arahannya, sayang temannya yang ia mintai tolong tidak juga faham.

Saya kembali menawarkan diri untuk membantu, karena saya sudah cukup terlambat. Namun pria itu bersikeras meminta temannya yang mengerjakan. Entah dimana yang salah, mungkin petunjuknya tidak cukup jelas atau temannya gugup karena masih terasa canggung disana.

Saya lihat ia menata lembaran halaman sepuluh dan sembilan ke sisi. Yup dia mulai di jalan yang benar. Nanti ditumpuk lagi dengan kertas halaman 8 dan 7, begitu seterusnya hingga halaman 1 dan 2 ikut tersusun dan di klip.

Pikir saya… ternyata temannya tadi malah kembali menumpuk kertas2 tadi ke kondisi semula. Bahkan mulai membalik-balikkan halamannya hingga tak berurutan. Pria yang menyuruhnya mulai gemas, saya menahan diri agar tidak membuat situasi lebih membuatnya gugup.

Sampai akhirnya keluar kata2 saya : “haiiiz, berkas2 saya basaaaaah!”. Sesaat melihat temannya itu kebingungan, membalikan berkas, begitu dan begitu dengan membasahi telunjuknya dengan ludah.

Akhirnya pria tadi menyerah, dia kebingungan. sepertinya pria tadi tak cukup jelas mengarahkan bagaimana berkas 10 halaman bulak balik harus disusun dan diklip. Sementara ada 5 rangkap yang bertumpuk disana belum dipisah-pisah.

Akhirnya pria tadi saya bantu menyelesaikan penyusunan berkas2 tadi. Dan kami selesai tidak lebih dari 3 menit juga.

Saya sering menghadapi hal serupa. Kadang kita melakukan dan merapihkan juga menyusun sesuatu secara berbeda dengan orang lainnya. Sesekali kita melihat cara kita lebih efektif, orang lain tidak. Namun sama tak jarang kita lihat cara orang lain menyelesaikan sesuatu jauh lebih baik. Biasanya kita berkomentar : “ooh iya! Dengan cara gitu jd lebih cepet ya”.

Keterampilan macam ini tidak muncul di pelajaran sekolah. Saya tidak tau menyebutnya apa. Namun sepertinya keterampilan itu melekat saja dengan sendirinya di diri kita atau orang lain. Untuk menyelesaikan sesuatu, satu orang dan yang lainnya seringkali mempunya cara dan langkah berbeda. Bahkan ada orang yang sama sekali tak punya jalan atau ide, sementara orang lain memiliki beberapa cara pilihan yang salah satunya bisa ia pakai.

Selamat berlatih lagi ya Mas fotokopi, saya anggap itu tadi hanya gugup di awal2 bekerja. Sering menghadapi kertas2 tersebut, lama2 nanti terbiasa. Terbiasa terampil. Dan jangan pakai ludah ya. Saran saya, balut ruas jari telunjuk teratas menggunakan selotip. Nanti kamu lebih mudah lagi menyentuh2 kertasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s