Jangan Bunuh Diri ah..enggak ah..

Siang ini saya sudah 2x mendengar berita bunuh diri di televisi. Satu upaya bunuh diri dilakukan anak remaja laki2 usia 17 tahun dengan menggantung diri di seutas tali plastik. Kabar lainnya upaya bunuh diri dengan menyayat urat nadi yang dilakukan oleh seorang wanita muda, namun upayanya berhasil digagalkan oleh warga yang menemukannya di sisi lapangan dan membawa ke rumah sakit.

Kangen gak sama masa lalu? Saat semuanya tampak sederhana dan simple. Ah saya tak punya data statistik saat ini dan masa lalu jumlah orang yang bunuh diri meningkat, tetap atau menurun. Namun dari sisi kaca mata saya faktor pemicu bunuh diri di masa lalu tidak semenjamur saat ini.

Dahulu saya bayangkan ayah2 yang pergi bekerja dengan kemeja-kemeja sederhana, tas-tas sederhana, setiap pagi dan pulang petang. Ayah tak neko-neko. Iya hanya tau bekerja untuk keluarganya. (Setidaknya itu saya lihat dari bacaan di buku, dalam kisah di televisi). Ayah sesekali berkumpul dan berbincang bersama tetangga, bekerja bakti di hari Minggu, bahkan masih ada waktu untuk ikut serta di acara Agustusan kampung.

Dahulu saya ingat-ingat bahwa para ibu sibuk mengasuh anak2nya di rumah. Ibu memasak dan memakaikan sepatu. Sesekali bertukar janji dengan ayah siapa yang menjemput ke sekolah. Ibu duduk di sore hari sambil menyeterika baju dan anak2 duduk di sampingnya bersama mendengarkan radio. Ibu juga pergi senam SKJ 88 di lapangan. Bukan..bukan hanya dengan genknya yang eksklusif, ibu senam dengan ibu-ibu sekelurahan. Sampai ke RW sebelah ibu kenal.

Anak-anak pergi bersekolah, di sekolah kami bermain dan belajar. Terkadang disuruh guru membeli gado-gado saat 5 soal dari buku pelajaran cetakan dinas P dan K selesai dikerjakan. Itu karena harus menunggu teman2 yang lain selesai. Waktu terasa tak berburu apapun. Anak2 masih ada waktu untuk bercanda, main di lahan kosong tetangga yang belum terjual, belajar di madrasah, bahkan mengaji selepas magrib.

Walau TV begitu kuno dengan warnanya yang hitam putih, ditambah pilihan acara hiburan yang terbatas tapi kita tak merasa kekurangan hiburan. Selalu ada cara untuk bergembira dan menghabiskan waktu.

Waktu tak berputar terburu-buru, banyak gosip2 yang masih “sakral” saat dulu. Anak gadis yang hamil diluar nikah jarang. Ada pun akan ditutupi keluarganya hingga ke perut bumi. Yang menggunjingkan pun sangat hati2. Cerita tetangga bercerai sedikit perbandingannya dari keluarga utuh. Skandal dan perdebatan tak kita dapati dengan mudah di ruang publik.

Manusia zaman sekarang mungkin terbentuk dari situasi yang semakin kompleks. Kemajuan, kemudahan informasi, masalah2 yang semakin mudah bertebaran, tuntutan kemajuan zaman dan semakin kompetitifnya orang2 memenuhi kebutuhan hidup membentuk kita menjadi orang2 yang berpikir rumit, sulit diurai dan sibuk satu sama lain.

Mungkin saat ini kita sendiri-sendiri mulai membentuk diri sebagai pribadi2 yang kompleks. Melupakan kesederhanaan berpikir dan cara hidup. Sekumpulan orang kompleks dengan hidup dan cara berpikir kompleks, berinteraksi dengaan orang2 yang sama kompleksnya. Akhirnya satu dua terpojok dalam hidup dan kesulitan menentukan solusi diri. Pesan2 banyak yang sampai tak utuh, tak sederhana, tak gamblang. Dan si rumit mulai berputus asa dan gelap mata.

Saya tau rasanya sedih, tau rasanya putus asa (setidaknya mendekati putus asa), saya tau rasanya rasa takut dan kecewa. Begitupun mungkin orang lain. Namun jangan menyerah sekalipun saya tau kadang setan membisiki kalimat “hey mati saja”.

Zaman dan manusia mungkin banyak berubah, semakin baju, modern, sibuk, tak peduli, kusut, berharapan tinggi, mengutuki ketidaksempurnaan setiap waktu. Tapi…pasti …pasti masih ada cara hidup yang menyenangkan di zaman yang waktu terasa semuanya cepat ini.

Maka mari redakanlah diri sendiri, sesekali memperlambat putaran hari, melirik sekitar dan menyebarkan kepedulian dan tidak menyulitkan kehidupan orang lain berlebihan. Hidup dengan cerita yang sederhana sepertinya jauh lebih menyehatkan jiwa.

Jangan bunuh diri, jangan. Jangan pernah memilih mati jika tau masih berhak menyaksikan matahari terbit dan bersinar esok hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s