Takut Jatuh Cinta (lagi)

Kemarin sore saya ke toko buku dengan seorang kawan, mengisi waktu yang sedikit luang. Saya susuri rak-rak buku dan melabuhkan pandangan di satu spot tumpukan novel-novel yang covernya semua menarik hati. Membalikan mereka yang masih terbungkus plastik satu per satu, membaca sebait atau seuntai kalimat yang tertera dibaliknya. Kata-kata yang indah. Indah karena saya kagum akan bagaimana orang lain (penulis) dapat menumpahkannya melalui kata-kata yang tepat.

Novel-novel cinta ataupun kehidupan. Orang lain menumpahkannya dengan sempurna melalui kata-kata. Menguraikannya dengan baik melalui cerita, lalu menemukan akhir dari cerita yang mereka ciptakan. Setidaknya di dalam buku.

Saya disana, membaca sedikit kata-kata yang nampak, mencerna, membayangkan kelanjutan dan membandingkan dengan cerita sendiri. Saya ingin bisa menguntai lewat kata-kata yang pas akan cerita saya sendiri. Kesan yang tepat akan kisah yang saya punya. Tak kelebihan maupun kekurangan rasa. Tepat seperti apa yang saya rasakan. Namun saya tak secakap penulis-penulis itu. Mereka lebih mengagumkan.

Cinta dan perasaan, setiap orang rasanya memiliki cerita yang beragam, berbeda dan menarik satu sama lain. Ada yang menggembirakan ada juga mungkin yang menyakitkan. Ada yang akhirnya cinta itu membangun dirinya menjadi lebih baik, mungkin juga ada yang malah mengebiri asa dan membuat seseorang merasa putus asa karena lelah.

Tidak pernah sama, setiap orang tidak pernah sama kisahnya. Yang saya rasa saat ini, cinta adalah hal yang sedikit melelahkan. Jatuh cinta sedikit menakutkan karena tak ada jaminan setelahnya akan selalu berakhir baik.

Saya mengalami 2 cerita yang sepertinya keduanya tak berakhir baik. Saya belajar bahwa ketulusan dan perasaan dalam tak selalu membuahkan hal yang sama. Setidaknya untuk kasus saya.

Benarkah ketulusan saya keliru, benarkah perasaan saya yang mendalam tak ada guna? Pertanyaan-pertanyaan itu sedang membelit saya. Dan jika jawabannya adalah selalu iya, maka untuk pertama kalinya siang ini hadir perasaan dalam diri ini, saya takut untuk jatuh cinta lagi. Karena sepertinya saya selalu keliru. Keliru.

Saya, menyembuhkan luka dengan luka baru. Dan ini tak lucu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s