Tamparan sebuah Analog

Duh, lupa mana twit yang mau di copas disini. Kemarin saya membaca satu twit yang dalam bahasa indonesia kira-kira seperti ini “ datang berdoa dan meminta kepada Tuhan hanya pada saat kita merasa kesulitan dan sesak oleh keadaan rasanya bisa kita rasakan ketika mendapati seseorang menghampiri dan mendekati kita hanya berdasarkan kebutuhan dan kepentingan mereka semata. Tidak butuh, bye bye”

Kira-kira seperti itu lah makna twit yang terbaca di TL saya kemarin. Hmm saya jadi berpikir setelah membacanya. Jujur saya mungkin satu diantaranya. Berdoa, duduk dan khusyuk meminta, memohon dan “curhat” kepada yang Maha Esa biasanya lebih intens kala kita merasa sempit, banyak hal sesak di dada, kepala mumet, hidup dikelilingi kecemasan, dan segala perasaan tak enak lainnya semacam sedih dkk.

Bandingkan ketika hidup terasa lapang, ringan dan menyenangkan. Rasa2nya tingkat kebutuhan kita atau interaksi kita dengan Tuhan tidak semendalam dan intens kala kita teramat membutuhkan pencerahan.

Tuhan mungkin marah, bete andaikan Dia kita bandingkan sebagai manusia. Melihat hamba2nya hanya datang hanya merasa membutuhkan sesuatu. Namun saat masalah lenyap maka lenyap pula-lah kedekatan hambanya.

Kembali ke analog di atas. Saya berusaha membayangkan ketika saya sebagai manusia, sebagai teman diperlakukan serupa oleh orang lain. Rasa2nya emang gk pahit ya. Membayangkan orang lain mendekat dan mendalam berinteraksi dengan kita justru hanya saat diri mereka berkepentingan saja. Hanya saat mereka berpikir membutuhkan kita.

Saya dan mungkin juga Tuhan pastinya berharap pada hubungan yang jauh lebih baik. Terjaga sepanjang waktu dan tidak mengenal situasi apapun. Hubungan yang dirawat baik saat butuh atau tidak butuh.

Baiklah, saya akan berusaha untuk ingat. Selain rajin bersimpuh dan meminta serta memohon apa2 yang saya butuhkan dalam hidup kepala Sang Khalik saya akan sama giatnya ketika hidup sedang baik, hati sedang senang sekedar untuk bersyukur dan berterimakasih. Berbincang dengan Tuhan baik kala senang maupun sulit.

Juga berusaha untuk mendidik diri sendiri untuk tidak menghampiri orang sekitar saya hanya demi kepentingan sesaat aja. Kalimat kasarnya “datang hanya saat butuh”. Alasannya satu : karena saya pun tak ingin diperlakukan seperti itu. Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s