Musibah Ke Kiri Dan Ke Kanan

Beberapa waktu lalu, dihari yang sebenarnya tampak biasa saja melintas satu kabar di jejaring sosial beserta beberapa kawan yang mengutarakan keprihatinan yang mendalam. Terjadi kecelakaan maut di satu jalanan di Kota Jakarta. Sebuah mobil yang dikendarai seorang wanita menabrak belasan orang yang sedang berjalan kaki dan 9 diantaranya dinyatakan tewas, tak terkecuali balita.

Kabar yang mencengangkan dan memilukan ya. Tragis adalah diantara korban-korban ada yang sekeluarga tewas. Pengemudi sendiri yang akhirnya diketahui bernama apriyani dipastikan mengemudi dalam keadaan tidak fit dan lalai. Ia selepas begadang semalaman, minum minuman keras dan mengkonsumsi zat terlarang.

Hari itu ramai sekali di social media orang mencaci dan menghujat Apriyani. Hal ini dipicu oleh reaksi pengemudi pasca kejadian maut tersebut. Alih2 syok dan histeris menyaksikan apa yang telah ia perbuat, apriyani dalam rekaman video tampak lempeng saja. Sepertinya pagi itu ia masih terpengaruh oleh apa yang ia konsumsi semalam, sehingga tak cukup sadar dengan apa yang terjadi.

Berita kecelakaan mau tersebut cukup jadi perbincangan panas selama beberapa waktu bahkan hingga saat saya menulis ini. Banyaknya korban, besarnya kehilangan dari keluarga-keluarga korban mengundang keprihatinan yang mendalam dari masyarakat. Proses hukum terhadap pengemudi maut ini pun pada akhirnya menjadi sorotan khusus. Masyarakat seakan bersiap mengikuti dan menyaksikan konsekuensi hukum apa yang akan diterima Apriyani.

Saya amat berbela sungkawa terhadap keluarga korban. Kehilangan satu anggota keluarga yang wafat alami akibat sakit yang di deritanya saja saya berduka sekali. Tak mampu saya membayangkan perasaan duka keluarga yang kehilangan beberapa saudaranya sekaligus. Sungguh berat.

Mengesampingkan sejenak sisi kelalaian Apriyani si pengemudi, saya melihat kecelakaan ini sesungguhnya musibah bagi kedua keluarga baik korban maupun pengemudi. Siapa yang menyangka bahwa anggota keluarganya akan tiada padahal hanya pamit mau beraktivitas di Minggu pagi? Siapa yang menduga akan menerima kabar anak, kakak atau adiknya dikabarkan telah mencelakai belasan orang dan menewaskan 9 diantaranya.

Sungguh musibah besar bagi kedua belah pihak. Sepertinya Allah sudah menentukan seperti itu kisah takdirnya. Satu pihak kehilangan anggota keluarga, satu pihak harus bersiap menerima akibat dari kelalaiannya dalam mengemudi. Pasti tak satupun diantara mereka membayangkan akan mengalaminya. Dari sudut pandang Tuhan, mungkin Sang Pencipta menunggu ingin menyaksikan bagaimana kedua pihak tadi saling bereaksi terhadap musibah yang ia sisipkan.

Kembali ke kelalaian Apriyani sebagai pengemudi, masyarakat begitu geram dengan perilaku Apri ini yang mengemudi padahal kondisi dirinya layak mengemudi pagi itu. Desakan untuk menghukum dan menjerat Apri tidak dengan sekedar pasal kelalaian berlalu lintas cukup deras. Konon akhirnya Apri dijerat dengan pasal pembunuhan yang mengancamnya dengan hukuman lebih berat.

Saya sepakat bahwa pelaku kelalaian ini harus dihukum. Siapapun harus tau seseorang akan dimintai pertanggungjawaban atas kengerian akibat perilakunya baik sengaja maupun tidak. Masyarakat akan melihat ini sebagai contoh dan harus menjadikannya peringatan bahwa kelalaian kita bisa berakibat fatal bagi orang lain terutama diri sendiri.

Saya memilih tidak mencaci maki si pengemudi maut karena berpikir siapa pun bisa saja melakukan kesalahan dulu dan nanti, termasuk diri kita sendiri. Namun perilaku dan kecerobohannya tentu saja harus ikut kita kecam. Kebodohan yang merugikan keluarga orang. Maka Hukuman bagaimanapun harus ia jalani. Semoga bisa memetik banyak hikmah dan pelajaran dari kesalahannya hari ini, dan keluarga pengemudi mampu menghadapi musibah ke keluarga mereka akibat perilaku Apri ini.

Saya ikut berdukacita bagi keluarga korban. Semoga semua korban mendapat tempat terbaik untuk kembali di sisi Allah, yang luka segera diberi kesembuhan. Semoga keluarganya diberi kesabaran dan hati yang lapang menghadapi pedihnya melihat keluarga terenggut jiwanya akibat kelalaian orang lain. Sekalipun menjadi pihak yang paling berhak marah dan berhak mencaci serta menuntut hukuman bagi pengemudi, dibalik itu semua semoga keikhlasan keluarga korban menjadi nilai tambah tersendiri di mata Allah yang sesungguhnya sedang menguji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s